
Saat ini seluruh siswa dari berbagai kelas di Star International High School sedang mengikuti ulangan kenaikan kelas hari pertama dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama. (Always UAS pasti hari pertama ya mapel ini).
Di dalam ruangan para siswa pun mengerjakan ulangan mereka dengan bersungguh-sungguh.
*
Selama enam hari ulangan kenaikan kelas diadakan, perasaan lega semua siswa rasakan karena selama seminggu ini pikiran mereka tertekan belajar berbagai mata pelajaran yang akan diujikan.
"Akhirnya hari terakhir ulangan, rasanya lega banget." Ujar Mitha.
"Yoi, rasanya plong, bikin adem. Habis ini kita jalan-jalan kuy! Healing-healing." Sahut Grace.
"Ho'oh, semoga gak ada remed. Abis aku pulang kerja kita pergi healing." Eva yang paling bersemangat saat ini.
Namun, disaat ketiganya sibuk memikirkan tempat dimana mereka akan jalan-jalan, seseorang menepuk pundak Eva.
"Permisi, kamu Eva kan? Dari kelas XI MIPA 1?" Tanya seorang siswi.
Eva berbalik, lalu menjawab. "Iya, aku Eva, ada apa ya?"
"Kamu disuruh ke ruangan pak Theo, katanya kamu remed." Ujar siswi itu memberi info lalu pergi berlalu.
Doeng!
Rasanya apa yang dia ucapkannya tadi berbanding terbalik. Pada akhirnya harapannya di banting oleh realita.
"Yang sabar ya bestie." Ujar Mitha. Lalu menepuk pelan pundak Eva.
"Aku tau bagaimana perasaanmu saat ini wahai anak muda." Ucap Grace menirukan suara papa Zola.
Eva menghela nafasnya. "Huff, aku mau ke ruangan pak Theo dulu deh, semakin cepat selesai semakin baik. Kalian pulang aja dulu, nanti kasih tau jam ketemuan ya."
"Oke bos! Kalo gitu kita pulang dulu ya." Ujar Grace dan diangguki oleh Mitha.
*
Setelah berpisah dengan kedua sahabatnya, Eva pun menuju ke ruangan pak Theo.
Tok! Tok!
"Permisi pak, saya Eva. Apa saya boleh masuk?" Tanya Eva menatap benda persegi panjang di depannya. Menunggu jawaban sang pemilik ruangan.
"Masuk!" Ucap suara berat dari dalam.
Perlahan Eva memutar gagang pintu lalu masuk melewati pintu. Diruangan itu, bisa Eva lihat pak Theo sedang duduk sambil menggenggam sebuah kertas yang isinya entah apa.
"Ada apa ya pak?" Tanya Eva yang masih berdiri.
Menurut, Eva pun melangkahkan kakinya menuju sofa berwarna hitam tersebut. Dan setelahnya pak Theo pun ikut duduk di sebuah sofa tunggal.
"Oke, tanpa basa-basi saya akan memberitahu kamu kenapa kamu dipanggil. Yang pertama yaitu, nilai kimia kamu yang paling hancur diantara teman-teman sekelasnya. Dan yang kedua kamu akan mengikuti remedial saat ini juga!" Ujar pak Theo
Eva membelalakkan matanya. "Hah?! Bagaimana bisa gitu pak? Saya belum belajar udah disuruh remed aja!" Ucapnya kesal.
"Saya tidak suka dibantah, kerjakan sekarang atau saya kasih tugas yang lebih susah dan banyak dari ini." Ucap pak Theo dengan aura dinginnya. Lalu menyerahkan kertas yang berisi soal-soal remedial.
Glek!
Eva menelan salivanya susah payah, dengan terpaksa dia pun memilih mengerjakan remed yang diberikan daripada harus diberikan tugas yang lebih susah nantinya.
Kesan Eva terhadap pak Theo yang mulanya membaik saat ini hancur berantakan. Sekali guru killer tetap guru killer tidak akan berubah.
Eva pun membuka tasnya lalu mengambil selembar kertas dan bolpoin. Dengan semangat dan ingatan pelajaran kimia yang masih tertanam di otaknya, Eva pun mengerjakan soal-soal itu.
Melihat kumpulan soal-soal itu saja sudah membuat Eva mual saking banyaknya. Sementara pak Theo, duduk di sofa tinggal dengan santainya sambil mengotak-atik laptopnya.
"Jika ada soal yang tidak kamu mengerti tanyakan saja pada saya." Ucap pak Theo.
Eva menjawabnya hanya dengan dengusan, karena masih merasa kesal.
*
Satu jam kemudian.
Entah kapan dan bagaimana Eva saat ini sudah tertidur di atas lembar jawaban yang sedang dikerjakannya. Kepalanya miring ke kanan bertumpu pada kedua tangannya yang dilipat di atas meja.
(Disuruh tidur gak bisa tidur, kalau disuruh belajar malah ketiduran. Dasar aku🙂)
Pak Theo yang melihatnya terkekeh gemas melihatnya. Entah setan apa yang merasukinya, pak Theo mengelus pelan rambut hitam Eva lalu beralih menuju pipinya. Elusan itu berakhir tepat di depan bibir pink milik Eva. Jempol pak Theo dengan sangat lembut mengusapnya.
Pak Theo mendekatkan kepalanya dengan Eva. Semakin dekat, bahkan saat ini hanya tersisa beberapa senti saja. Hembusan nafas pak Theo pun menerpa seluruh wajah cantik Eva yang tertidur. Semakin dekat, dan semakin dekat lagi. Dan semakin dekat lagiii.
"Ehmm…. Pak? Maaf ya saya ketiduran. Padahal tinggal beberapa soal lagi." Ucap Eva dengan suara bangun tidur.
Belum juga pak Theo melakukan apa yang dibisikkan setan, Eva pun terbangun dari tidurnya.
Dengan cepat pak Theo menjauhkan dirinya, lalu menatap fokus laptopnya kembali. Untung saja Eva tidak melihat perbuatannya tadi, kalau dilihat akan terjadi masalah.
Setelah sepenuhnya sadar Eva pun kembali mengerjakan soal dan pak Theo melanjutkan aktivitasnya. Pak Theo bersikap seakan tidak terjadi apa-apa padahal ada apa-apanya.
Bersambung…..