Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 62 - Davidson Company



Eva yang sedang di dapur memasak pun kaget dan hampir melemparkan wajan yang berisi minyak panas kepada pria tersebut. "Siapa kau?! Kenapa masuk rumah orang sembarangan?!!" Teriaknya sembari mengangkat wajan teflon mengarahkannya ke wajah pria yang menurutnya asing. Bukankah saat ini pemandangannya seperti film Disney berjudul Tangled? Mungkin kurang bunglon dan seekor kuda, maka sempurnalah.


"Te-tenang nyonya saya bukan orang jahat." Ujarnya. Karena wajan yang diarahkan kepadanya cukup panas, jika kena wajahnya bukankah tidak akan ada gadis yang mau mendekatinya.


"Apa maumu?! Kenapa masuk rumah orang sesuka hati?!" Tanya Eva dengan tangan dan kaki yang sudah siap menyerang.


"I-itu,"


"Jo? Ada apa datang pagi-pagi?" Tanya pak Theo yang baru datang karena penasaran di lantai bawah terdengar sedikit keributan.


Jo pun bernafas lega karena tuannya akhirnya datang. "Syukurlah akhirnya tuan datang juga?" Ujarnya dengan tangannya yang mengelus dada.


Pak Theo mengernyit. "Memang ada apa? Sayang apakah masih perlu aku bantu?"


Ujar pak Theo yang mengarahkan pandangannya ke istri tercintanya.


"Bapak kenal dia?" Tanya Eva menatap tajam pak Theo.


Pak Theo mengangguk. "Tentu saja, dia asistenku." Ujarnya. Eva pun akhirnya tenang namun masih menatap tajam Jo yang masih diam. Lalu mengacungkan dua jarinya, mengarahkannya ke arah matanya lalu ke mata Jo.


"Ekhem, begini tuan ada sedikit masalah di perusahaan jadi membutuhkan kehadiran anda." Ucap Jo.


Pak Theo menimang lagi apakah dia ingin pergi atau tidak. Karena dia ingin menikmati akhir pekan bersama dengan istrinya bersantai di rumah. Sementara Eva hanya mendengar dari dapur sambil memasak. "Baiklah aku akan pergi ke perusahaan." Ujarnya lalu Jo membungkuk hormat lalu berlalu dari sana.


Pak Theo menuju meja makan dimana makanan sudah tersedia dan tersusun rapi. "Tadi bapak ngomongin apa?" Tanya Eva yang membawa secangkir kopi dari arah dapur lalu duduk di samping pak Theo.


"Setelah kita sarapan ikut aku ke suatu tempat." Ujar pak Theo.


"Kemana pak?" Tanya Eva dengan tangannya yang aktif mengambilkan makanan untuk suaminya.


Pak Theo pun sama mengambilkan makanan lalu ditaruh di piring makan istrinya. Satu kebiasaan manis pak Theo setelah menikah. "Ikut saja hmm." Ujarnya. Jawaban singkat seperti itu tentu saja membuat Eva sangat penasaran karena dirinya memiliki jiwa kepo yang sangat tinggi.


Tak menunggu basa-basi lagi akhirnya Eva dan pak Theo memakan sarapannya.


*


*


Seusai sarapan Eva dan pak Theo pun sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai bawah dimana mobilnya terparkir. Dalam 3 menit lift pun berhenti, pak Theo membuka lift lalu melangkah menuju mobil Lamborghini hitam yang dipakainya kemarin. Pak Theo mempersilahkan Eva masuk terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan dirinya.


"Jo, jalankan mobilnya!" Titah pak Theo. Eva kembali dibuat terkejut karena kehadiran Jo yang sudah duduk di kursi kemudi.


Pak Theo terkekeh pelan. "Karena dia asisten yang dituntut harus serba bisa." Sahutnya lalu merangkul Eva.


Sementara Jo tersebut namun didalam hatinya jangan ditanya lagi. "Huf, nasib jadi asisten harus serba bisa dan kuat mental menghadapi kemesraan atasan yang pelukan di belakang."


Setelah perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit, mereka pun sampai di depan sebuah gedung pencakar langit. Eva menatap kagum bagunan di depannya dalam pikirannya dengan tinggi gedung tersebut bahkan dia bisa menyentuh awan.


Eva larut dalam lamunannya sampai tidak sadar saat ini pak Theo sudah membukakan pintu mobilnya lalu mengulurkan tangannya. "Ayo turun." Ucap pak Theo yang seketika membuat Eva sadar. Eva menerima uluran tangan pak Theo lalu turun dengan hati-hati.


Mereka memasuki gedung pencakar langit tersebut, tampak beberapa orang kesana kemari membawa laporan. Dan ketika pak Theo datang semua orang-orang itu berhenti beraktifitas lalu memberi hormat kepada pak Theo selaku CEO di perusahaan Davidson Company.


"Selamat pagi pak CEO." Sapa semua orang serentak. Sementara Eva terdiam mendengarnya. "CEO? Pak Theo adalah CEO perusahaan ini?!!" Pekiknya di dalam hati. Sungguh betapa kagetnya dia karena sudah menikahi orang hebat sekelas pak Theo seketika rasa percaya dirinya turun anjlok begitu saja. "Bukankah aku seperti Cinderella yang menikah dengan seorang pangeran?" Pikirnya.


Namun, ditengah pikirannya Eva mendengar bisikan-bisikan yang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Hei, pak CEO membawa seorang gadis." Ucap karyawan 1.


"Benarkah? Bukankah dia terlihat sangat muda jika dipasangkan dengan pak CEO? Dari tingginya mungkin dia masih SMA?" Ujar karyawan 2.


"Mungkin saja dia sugar baby. Kau tahu akhir-akhir ini aku banyak melihat gadis belia yang berpacaran dan menjadi selingkuhan dari orang yang lebih tua darinya hanya untuk uang." Ucap karyawan 3.


Sungguh bisikan-bisikan dari para karyawan membuat dirinya sangat terbakar api amarah. Bagaimana bisa ada orang yang memiliki mulut pedas yang bahkan mengalahkan bon cabe level 100! Begitulah sifat manusia dimana suka sekali mengomentari dan mengatur kehidupan orang lain. Bahkan tanpa dia sadari kehidupannya lah yang seharusnya diatur.


Pak Theo dan Eva menaiki lift menuju ruangannya, genggaman tangan pak Theo dari pintu masuk sama sekali tidak terlepas. Tak lama mereka pun sampai di ruangannya. "Duduklah di sana." Ujar pak Theo menunjuk sofa agar Eva duduk disana.


Eva menatap ruangan tersebut lalu melihat pak Theo yang duduk di sebuah kursi yang mana hanya diduduki oleh seorang pemimpin seperti yang dilihatnya di drama Korea. "Ada yang ingin saya tanyakan pak." Ucapnya. "Apa bapak CEO perusahaan ini?" Tanya Eva.


Pak Theo mengangguk. "Tentu saja, apa aku belum bercerita kepadamu?" Tanya pak Theo yang membuat Eva sedikit kesal karena melihat wajah tanpa dosanya.


Bersambung…..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Aiyoo...... othor up sekarang, walau masih sibuk di RL 😘...


...Jangan lupa...


...Like 👍...


...Komen 💬...