Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 56 - Selalu Ada



Pukul 9 pagi Eva sudah rapi dengan pakaiannya begitu juga Theo yang seperti biasa menggunakan kemeja lalu dibalut dengan jas berwarna navy. Theo mengendarai mobilnya menuju suatu tempat bersama dengan Eva.


Pasangan yang baru menikah itu saat ini menuju kantor catatan sipil untuk mengambil akta nikahnya. Jangan tanya kenapa jadinya cepat itu berterima kasihlah kepada Jo yang sudah mengirim dokumen pernikahan pagi-pagi sekali dan langsung jadi hanya dalam satu jam tiga puluh menit. Siapa yang tidak kenal dengan Jo yang merupakan kaki tangan dari keluarga Davidson yang terkenal, semua orang bahkan tidak berani menyinggungnya.


Setelah urusan dari kantor catatan sipil selesai, Theo mengajak Eva menuju ke sebuah kompleks pemakaman yang jelas eva sendiri sangat familiar. Bagaimana tidak, pemakaman tersebut merupakan tempat dimana sang mama kemarin disemayamkan.


"Pak, kenapa kita kemari?" Tanya Eva dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Theo menggenggam tangan kanan Eva. "Aku harus menemui ibu mertua dan memintanya untuk merestui pernikahanku dengan putri yang paling disayanginya." Ujarnya.


Eva terlihat sangat senang sekaligus terharu mendengarnya, lalu berjalan bersama Theo menuju makam dengan tanah yang masih basah dan bunga yang masih segar menghiasi di atasnya.


"Selamat pagi ibu, perkenalkan nama saya Theo Davidson. Saya adalah menantu ibu karena saya sudah menikahi putri kesayangan anda yang sangat cantik. Mungkin sebelumnya kita belum pernah bertemu, walaupun begitu saya ingin mengatakan kepada ibu bahwa tidak perlu khawatir mengenai kehidupan putri anda, saya akan selalu ada untuk merawat, menjaga dan melindungi nya. Satu hal yang saya ingin dapatkan dari ibu, tolong restui pernikahan kami dan percayakan Eva di dalam perlindunganku." Ujar Theo memberi salam lalu menaruh dua tangkai mawar putih yang sebelumnya sudah dibeli di toko bunga di atas makam tersebut.


"Mama, maafkan Eva selama ini ya. Dan sekarang Eva sudah ikhlas jika mama pergi meninggalkan Eva, semoga mama tenang di alam sana. Jangan cemaskan Eva lagi, karena Eva sudah bersama pak Theo. Mama cukup doakan aku ya agar bisa menjadi manusia berguna dan menjadi seorang istri yang baik." Ujarnya kali ini air matanya tidak menetes hanya saja matanya yang sedikit berkaca-kaca.


Theo yang menyadari situasi langsung meraih tubuh Eva untuk didekapnya guna memberikan sedikit ketenangan. "Sudah jangan menangis lagi." Ucapnya lalu mengelus lembut punggung Eva. Sementara Eva memeluk pinggang Theo dengan eratnya.


*


"Pak, sekarang kita mau kemana lagi?" Tanya Eva yang tidak tahu kemana Theo mengendarai mobilnya.


Theo menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. "Rahasia." Jawabnya singkat.


"Ish!" Eva pun mencebik kesal dengan bibirnya yang sudah mengerucut. Theo justru terkekeh dalam hati melihatnya.


Setelah satu jam perjalanan, mereka pun sampai di sebuah toko perhiasan yang dari luar kelihatan sangat mewah. Eva terbengong menatap bagunan itu.


"Ngapain kita ke toko perhiasan?" Tanya Eva. Pertanyaannya sama sekali tidak dijawab, justru pergelangan tangannya digenggam lalu mengikuti langkah kaki pak Theo yang sudah melangkah masuk ke dalam toko perhiasan.


Penjaga toko membukakan mereka pintu lalu mempersilahkan mereka ke dalam, baru saja sampai di dalam Eva benar-benar dibuat takjub akan berkilauan nya perhiasan yang terpampang, bahkan selama hidupnya dia sama sekali tidak pernah melihat emas, perak atau hal-hal yang berkilauan seperti ini.


Tak lama seorang wanita yang merupakan pelayan toko pun datang menghampiri mereka. "Selamat datang tuan Davidson, silahkan lewat sini, pesanan yang anda inginkan sudah jadi." Ucapnya.


Lalu Theo dan Eva mengikuti pelayan tersebut ke sebuah ruangan khusus. "Ini cincin pesanan tuan." Ujar pelayan lalu menyerahkan kotak merah beludru tersebut.


Tanpa basa-basi Theo membukanya lalu mengambil salah satu cincin dan ingin disematkan ke jari manis milik Eva. "Pak, i-ini…." Ucap Eva terkejut.


Theo tersenyum. "Cincin pernikahan yang tertunda. Kita sudah menikah jadi sebagai tanda sudah menikah bukankah kita harus memakainya cincin?" Tanya pak Theo.


Eva terdiam lalu mengangguk pelan. Memang guru killer nya satu ini memang susah ditebak. Eva mengambil cincin satunya lalu menyematkan nya di jari Theo yang menurutnya agak besar dari jarinya.


*


*


*


Sementara diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda, tampak Yoga yang sedang mencari keberadaan sahabat masa kecilnya yang tak lain adalah Eva. Saat ini dirinya ingin berbicara dengan Eva karena ingin menanyakan alasan kenapa dirinya dijauhi olehnya.


"Kemana dia, biasanya di sekitar sini pasti ada." Gumamnya yang saat ini berada di taman sekolah.


Tak lama dia melihat Grace dan Mitha yang sedang duduk di sebuah bangku. Yoga pun menghampirinya.


"Hai, kalian ada lihat Eva? Dari tadi pagi aku tidak melihatnya." Tanyanya.


Kedua gadis cantik itu menatap Yoga dengan alis yang mengkerut. "Eva, saat ini dia sedang izin." Ucap Grace.


"Izin? Untuk apa Eva izin? Biasanya Eva selalu sekolah dan jika tidak sekolah berarti dia sakit." Ucapnya.


Mitha berdiri lalu mendekati Yoga yang masih berdiri dengan wajahnya yang sangat menjengkelkan bagi gadis itu. "Kau ini sahabatnya atau bukan hah?! Oh iya, aku lupa kau pasti pergi bersenang-senang dengan gadis-gadis lain sehingga kau tidak tahu bahwa kemarin Tante Jesy telah tiada dan sekarang Eva sedang berkabung kau tahu!!!!" Ucap Mitha menggebu-gebu.


Deg!


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai, othor balik nih, baru aja othor selesai UTS terus nyempetin ngetik.


Jangan lupa


Like 👍


Komen 💬


Vote


Gift


😗😗😗😗