
Masih di rumah sakit.
Eva melepaskan cengkeramannya di kerah jas sang dokter lalu masuk ke dalam ruangan yang mana sang mama dirawat dengan berbagai alat medis yang sudah tertancap di tubuhnya.
"Ma, kenapa sakit mama kambuh lagi. Hiks…." Ucapnya dengan bibir bergetar dengan kepalanya dia dekatkan di tangan sang mama yang sudah tertancap jarum infus dan beberapa selang.
"E-va…. Itu ka-kamu nak?" Ucap Mama Eva dengan suara yang rendah dan terbata. Mama Jesy membuka matanya perlahan ketika mendengar suara putrinya.
Eva mengangkat kepalanya lalu menatap netra sang mama yang memiliki warna yang sama dengan bola matanya. "Iya ma, hiks….. kenapa mama sakit lagi hikss….. pokoknya kali ini mama harus sembuh! Aku belum siap kehilangan mama saat ini. Hiks…. Cuma mama yang aku punya di dunia ini…." Ucapnya dengan air mata yang senantiasa berlinang dari pelupuk matanya.
Mama Jesy tersenyum melihat putrinya, tangannya yang kurus dan dingin tergerak mengusap pelan pipi putrinya. "Se-selama ini kamu sudah cukup mandiri, tanpa ma-mama pun kamu masih bisa me-melanjutkan hidupmu. Mama merasa ti-tidak kuat lagi uhuk….! Ingat pe-pesan mama ya nak jaga diri ka-kamu. Jika suatu saat k-kamu bertemu dengan jo-jodohmu m-maama berharap agar kamu bahagia selal-lu."
"Tidak! Mama gak boleh ngomong gitu! Mama akan sembuh! Dokter! Kalau mama pergi aku juga ikut pergi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mama!" Teriak Eva dengan tangis histerisnya.
"Udah ja-jangan nangis hmm, nanti ca-cantik kamu hilang l-loh. La-lagipula kamu gak boleh nyusul m-ama, kamu harus meraih cita-cita agar mama bisa bangga me-melihatmu." Ucap Mama Jesy dengan suara yang semakin rendah dan nafas yang semakin tidak teratur.
"Tidak! Mama harus bertahan! Dokter! Suster!" Teriaknya.
"Jangan tinggalin Eva seorang diri ma!"
Tak lama dokter dan beberapa asistennya pun datang karena teriakan Eva. "Dok! Tolong periksa ibu saya dok! Saya mohon selamatkan mama saya!" Ujarnya.
"Tentu! Kami akan melakukan yang terbaik! Sekarang mohon kamu tunggu diluar dulu ya." Ucap dokter lalu memberi kode kepada suster agar membawa keluar Eva yang saat ini tampak sangat berantakan bahkan baju seragamnya saja belum lepas dari tubuhnya.
Eva pun keluar dari ruangan tersebut. Sementara mama Jesy tersenyum lalu meneteskan air matanya. "Maafkan mama nak! Selanjutnya kamu harus hidup tanpa mama dan kamu harus bisa melewatinya." Batinnya. Lalu perlahan matanya menutup.
Para dokter pun sedang berusaha menyelamatkan hidup wanita paruh baya tersebut ketika mendapati detak jantungnya yang semakin melemah dan itu terlihat jelas di sebuah layar monitor dengan beberapa garis yang semuanya menunjukkan penurunan detak jantung.
Namun, setelah beberapa saat berusaha, dokter pun menggeleng setelah layar monitor menunjukkan garis lurus dan setelah mengecek nadinya berulang kali. Nihil, yang artinya saat ini mama Jesy sudah meninggalkan dunia ini. Suster pun merentangkan kain kasa putih untuk menutupi tubuh pasien yang sudah tidak bernyawa.
Di depan Eva berdoa dengan harap-harap cemas. "Kenapa Tuhan begitu membenciku? Dari lahir aku tidak tahu keberadaan ayahku dan sekarang Tuhan mengambil mama kenapa?! Apa salahku?!!" Batinnya.
Dokter pun keluar dan mendekati Eva yang sedang duduk di kursi tunggu. "Nak, maafkan kami, kami…. Tidak bisa menentang kehendak Yang Maha Kuasa." Ucapnya pelan dengan gelengan.
Mendengar itu, Eva mematung dengan air mata yang menetes semakin deras. "Tidak!!!! Mama gak akan ninggalin aku sendirian!!! Mama!!!!" Teriaknya tidak terima karena sang mama sudah berpulang.
"Tenang ya dik, kami tau perasaan kamu. Tapi sekarang ini mama kamu sudah berada di samping Tuhan." Suster menenangkannya dengan memeluk tubuhnya. Sementara Eva masih senantiasa menangis.
*
*
Di Sela tangisannya, Mitha dan Grace pun memeluk tubuh Eva yang sudah terduduk tanah merah tersebut. Menyemangati sang sahabat yang baru saja kehilangan satu-satunya orang yang dimilikinya.
Mereka baru saja mengetahui, bahwa mama Jesy berpulang ketika melihat rumah Eva yang ramai akan tetangga yang datang melayat.
"Sudah ya Va, jangan nangis lagi. Nanti Tante Jesy nangis loh melihat kamu kayak gini." Ujar Grace yang memeluk Eva.
"Bener kata Mitha, coba ikhlaskan Tante Jesy Va. Setidaknya sekarang Tante tidak lagi harus menanggung sakit. Ingat kamu masih punya kami, kapanpun kamu membutuhkan kami akan selalu ada dan membantumu." Ujar Mitha yang memegang pundak Eva yang naik turun karena menangis. Mencoba membuat sahabatnya tegar.
"Udah Va, sekarang pulang yuk udah mau malam takutnya nanti hujan turun loh." Ucap Grace.
Eva menurut saja ketika kedua sahabatnya menuntunnya pulang ke rumah, tatapannya kosong, suasana hatinya sama seperti hari ini yang mendung dan hanya terlihat awan hitam yang menghiasi langit.
*
*
Di sisi lain, seorang laki-laki pergi kesana kemari dari suatu tempat ke tempat lainnya hanya untuk mencari orang tercintanya yang sedari tadi lepas dari pantauannya.
"Tuan, anak buah sudah memberitahukan saya, saat ini nona Eva sudah pulang ke rumahnya dan…." Ucap Jo terpotong.
Laki-laki itu berbalik lalu menoleh. "Dan apa?! Jangan setengah-setengah ketika berbicara denganku!" Kesal Theo kepada sang asisten yang sedari tadi tidak tuntas berbicara.
Jo jelas ketakutan ketika melihat kemarahan tuannya. "I-itu tuan, nona Eva baru saja dari pemakaman. Dari yang saya dengar beberapa saat lalu ibu dari nona Eva sudah berpulang." Jelas Jo.
Mendengar itu, Theo bergegas memasuki mobilnya. "Jo! Kemudikan mobilnya menuju ke rumah Eva sekarang!!"
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...wehh inget like nya yehh, othor mau carazy up 2 bab hari ini jam 12 siang sama jam 6 sore jadi pantengin aja ya😘😘😘...
...Like, Komen, Gift, Vote nya jangan lupa loh ☺️✌️😌...