Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 49 - Dengan Cara Lain?



...OK KARENA GAK MAU PARA READER KECEWA, JADI AKU UP WALAU TUGAS NUMPUK🗿...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke waktu sekarang, masih di rumah sakit.


Lamunan Theo buyar ketika seorang perawat masuk untuk mengecek keadaan Eva yang masih belum membuka matanya.


"Permisi tuan, saya ingin memeriksa pasien." Ujar perawat tersebut.


Saat perawat masuk ke dalam, Theo pun bangkit lalu keluar menunggu di kursi panjang yang berada disana. Theo mendaratkan bok*Ng nya di kursi dengan berbahan metal tersebut lalu memejamkan matanya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kehilangannya, bahkan berpisah sebentar saja sudah menyiksaku. Namun, aku harus menunggunya, saat ini usianya baru 18 tahun. Aku harus menunggunya setahun lagi." Batinnya.


Kalian pasti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Theo, dirinya ingin menikahi muridnya itu setelah cukup umur. Dalam Undang-undang yang berlaku di Indonesia, dijelaskan melalui Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UU 16/2019”) mengatur bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Dan jelas saja Theo harus menunggu setahun lagi sampai usia Eva mencapai 19 tahun.


*


*


Pagi hari menyingsing dengan sinar Surya perlahan naik lalu menyinari bumi ini. Seorang gadis cantik perlahan membuka matanya yang masih terasa berat, sesekali dirinya mengerjapkan matanya lalu mengedarkan matanya menatap sekeliling ruangan tersebut. Seolah menelisik, bagaimana dirinya bisa ada disini, bukankah dirinya masih berada di dalam hutan? Pikirnya.


Lalu pintu ruangan pun dibuka, memperlihatkan seorang pria dengan wajah tampan datang menenteng makanan untuk sarapan paginya.


"Oh, kamu sudah bangun?" Tanya Pak Theo lalu segera mendekat menyentuh kening Eva. "Syukurlah, sudah tidak panas." Ucapnya lega.


Sementara Eva hanya mematung mendapatkan perlakuan seperti itu dari pak Theo. Jika boleh jujur dirinya saat ini memiliki benih-benih cinta kepada gurunya itu. Namun, kembali lagi dirinya dan pak Theo adalah guru dan murid, bukankah akan terlihat aneh jika mereka menjalin hubungan? Eva selalu saja berpikiran seperti itu.


Tak lama perawat datang membawa makanan untuk sarapan pasien. "Permisi tuan, ini sarapan untuk pasien." Ujar perawat menaruh troli makanan lalu pergi dari ruangan itu.


Pak Theo mengambil makanan yang dibawa suster tadi, makanan berupa bubur dan sup sayur bening yang sangat bergizi untuk kesembuhan pasien.


"Sini, makanlah, aaaa…." Pak Theo berniat menyuapi Eva.


Eva jelas salah tingkah dibuatnya. "Eh, eh, pak, saya bisa makan sendiri." Gugupnya.


Pak Theo menatapnya tajam. "Kamu masih sakit, jadi saya suapin. Atau kamu mau saya suapin dengan cara lain?" Ucap pak Theo dengan senyum seringainya.


Eva yang masih polos pun jelas tidak mengerti maksud dari pembicaraan pak Theo. "Ta-tapi pak, saya sudah tidak sakit." Ucapnya sembari mengangkat tangannya sebatas kepala membentuk huruf U, memperlihatkan otot tangannya.


"Oh kamu mau pake cara lain ya? Mau tau, cara lainnya seperti apa?" Goda pak Theo lalu menyentuhkan sendok ke bibirnya lalu ke bibir Eva.


Blushh!


Setelah beberapa menit, Eva pun selesai dengan sarapannya, lalu meneguk air putih yang diambilkan oleh pak Theo. "Hubungi sahabat dan mama kamu agar mereka tidak khawatir." Ujar pak Theo lalu menyerahkan ponsel pintar yang tampilannya sama dengan ponsel miliknya dulu.


"Pa-pak ini?"


"Handphone buat kamu, yang lama sudah saya buang karena rusak." Ucap pak Theo. Dengan entengnya membuang handphone merek buah-buahan bekas gigit itu.


Setelahnya pak Theo keluar untuk mengurus administrasi.


Jari-jari lentik Eva pun berselancar di papan keyboard lalu mengetik sebuah nomor. Nomornya tersambung dan tak lama,,


📞 "Eva lu kemana aja sih?! Kami semua khawatir tau!!" Teriak Grace dengan nada khawatir.


"Ceritanya panjang sih, tapi aku singkat deh. Jadi, aku kemarin tersesat lalu sekarang berada di rumah sakit. Sekarang udah mendingan kok!" Sahut Eva.


📞 "What?!! Lu di RS?!!" Teriak Grace. Jangan teriak njir." Suara Mitha terdengar walaupun samar.


"Iya, aku mau ngabarin aja karena sebentar lagi keluar dari RS. Sisa barang-barang aku tolong bawa pulang ya." Ujarnya.


📞 "Siap!" Ucap Grace. "Btw siapa yang nolongin sama yang ngajak kamu ke RS?" Grace bertanya setelah merebut telepon Mitha.


Eva pun gugup lalu, karena tidak mungkin bukan dia mengatakan pak Theo yang membawanya. "Aduh, halo Mit? Lu bilang apa? Aduh sinyalnya jelek, udahan ya kalau gitu bye-bye." Eva beralasan.


📞 "Va, tung-"


Tut, Tut telepon diakhiri.


Pak Theo pun kembali ke ruangan. "Ayo bersiaplah kita akan pulang sekarang." Ucapnya lalu membereskan barang-barang yang memang penting dan diperlukan sisanya tinggalkan saja.


"Baik pak." Eva turun dari ranjang RS lalu berjalan hati-hati.


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Theo POV udah selesai dan sekarang udah masuk ke alur maju. Sabtu kemungkinan up 3 bab dan Minggu 2 bab....


...Jadi ingat tinggalkan jejak dan komentar ye, buat penyemangat karena gak punya ayank😌...


...Kalo ayank gepeng punya🤣🤣...