
...LAST!...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disebuah taman yang hanya ada sedikit pengunjung, Yoga dan Mitha duduk di salah satu kursi taman. Sedari tadi Yoga hanya menatap Mitha yang sedang memakan es krim penghuni ruko kosong.
Mitha hanya fokus memakan eskrim nya sedari tadi tanpa menoleh ke sampingnya dimana Yoga duduk. Tiba-tiba Yoga mendekatkan wajahnya menatap Mitha, membuatnya sedikit risih. Semakin dekat dan semakin dekat.
"Ka-kau mau apa?!" Mitha gugup sendiri. Perlahan dirinya menutup matanya ketika merasakan hembusan nafas milik Yoga menerpa kulit wajahnya. Disaat dirinya menutup matanya, Mitha merasakan sebuah jari sedang menyentuh bibirnya dengan sangat lembut. Perlahan Mitha membuka matanya lalu melihat apa yang dilakukan oleh Yoga.
"Apa yang kamu pikirkan hmm? Aku hanya membersihkan es krim yang belepotan di bibirmu." Goda Yoga dengan seringainya.
Blush! Saat ini Mitha begitu sangat malu, wajahnya bahkan sudah sangat merah. Aishh! Bisa-bisanya otaknya memikirkan hal-hal berbau dewasa saat ini. Ingin rasanya dirinya masuk ke lubang semut saking malunya.
"Hei, kenapa kamu bengong saja?" Yoga mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan wajah Mitha yang sedang terbengong.
Tersadar, Mitha bangkit dari duduknya hendak pergi ke suatu tempat untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini.
Greb!
Belum juga, dirinya melangkah tangan Yoga sudah mencekal pergelangan tangannya membuatnya sontak berbalik menghadap Yoga yang masih duduk di kursinya. Yoga mengunci pergerakan Mitha yang masih berdiri dengan menyilangkan kakinya. Tangan kekarnya juga mengunci tubuh Mitha lalu memeluknya dengan sangat erat.
"A-apa yang ka-kamu lakukan? Le-lepaskan!" Ucap Mitha yang ingin melepaskan pelukan Yoga dari pinggangnya.
Yoga mendongak lalu menatap netra hitam milik Mitha dengan tatapan lembutnya. "Biarkan aku memelukmu sebentar." Ucapnya lalu kembali menenggelamkan wajahnya di perut gadisnya, hidungnya mengendusi bau parfum Mitha yang menguar. 'Sangat wangi, aku suka.' gumamnya yang tentunya tidak didengar oleh Mitha.
Pertahanan yang dimiliki oleh Mitha selama ini seolah roboh. Perlahan, tangan Mitha mengelus lembut surai kehitaman mantan ketua OSIS di SMA nya. Sebuah senyum tipis terbit di wajah cantiknya, entah sejak kapan dirinya sudah jatuh dalam pesona mantan Ketosnya ini. Namun, sayang sekali ego di dalam diri Mitha mencegahnya untuk membuka hatinya.
"Sampai kapan aku harus mengejar mu? Bisakah kamu membuka hatimu sedikit saja agar aku bisa lebih dekat denganmu." Ujar Yoga.
Mitha terdiam mendengarnya, nyatanya ada satu kejadian yang membuat hatinya saat ini merasa bagaikan batu. Elusan tangan Mitha yang berada di surai Yoga perlahan turun menyentuh wajah Yoga untuk menatapnya. "Kau ingin tahu sebuah cerita?" Tanyanya. Dan Yoga pun mengangguk tanpa mengubah posisinya saat ini.
"Dulu, sewaktu aku masih SMP aku sudah memiliki seorang yang aku sukai. Kami dekat satu sama lain karena kami memiliki satu pemikiran yang sama. Kau tahu suatu hari aku melihatnya bersama teman dekatku. Aku berniat mendekatinya namun, belum sampai aku menghampiri mereka, perkataannya sangat melukai hatiku."
"Kau tahu, dia berkata kepada temanku bahwa dia hanya mendekatiku agar bisa lebih dekat dengan temanku. Dan yang paling menyakitkan dia bilang aku bukan gadis yang menarik, tidak cantik dan selalu saja cuek. Kau tahu hatiku sangat terluka. Sejak saat itu lah aku mengeraskan hatiku agar tidak dekat dan jatuh dalam pesona laki-laki lagi. Bagiku laki-laki hanya makhluk bermulut besar yang suka mengobral janji manisnya tanpa bisa membuktikannya." Lanjutnya lagi.
Yoga hanya diam mendengar dan menyimak curahan hati Mitha yang selama ini dipendamnya sendiri. "Kamu sama sekali tidak seperti itu. Kamu adalah gadis paling cantik di mataku, kamu juga gadis yang sangat baik. Aku kasihan kepada laki-laki yang menyebutmu tidak cantik dan tidak menarik, karena dia membuang sebuah permata hanya untuk sebuah batu sikat. Mungkin dia buta sehingga tidak bisa membedakannya." Ujarnya.
Mitha terkekeh mendengarnya. "Heh, bukankah kau dulu sama sepertinya?" Ucap Mitha meremehkan.
Mitha hanya diam menatap netra pewaris tunggal keluarga Hendrawan itu, tangannya bahkan belum berhenti memberi usapan di surai kehitamannya.
"Bukalah hatimu, bukalah sedikit untukku." Ujar Yoga.
"Aku tidak akan menghalangimu lagi untuk mengejar ku. Untuk menyakinkanku itu tergantung seberapa besar usaha dan tekadmu." Ujarnya.
Yoga tersenyum senang mendengarnya lalu memeluk dan menenggelamkan wajahnya lagi. Di sore hari menjelang malam tersebut sepasang insan manusia berkenalan lebih jauh guna menelisik kepribadian dan isi hati masing-masing.
*
*
*
Di Belahan bumi lainnya.
Prancis
Prancis, secara resmi disebut sebagai Republik Prancis, adalah sebuah negara yang teritori metropolitannya terletak di Eropa Barat dan juga memiliki berbagai pulau dan teritori seberang laut yang terletak di benua lain. Negara yang terkenal dengan Menara Eiffel-nya ini merupakan destinasi wisata yang menyimpan banyak kecantikan, keindahan hingga keromantisan. Prancis Metropolitan juga mendapat sebutan dari orang Prancis sebagai "L'Hexagon".
Di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris, saat ini di sebuah lorong seorang pria dan wanita berjalan dengan langkah gontai nya dan saling berpegangan tangan. Wajah mereka mengisyaratkan ingin segera sampai di apartemennya dan melanjutkan tidurnya. Mereka berdua saat ini sedang mengalami Jet Lag setelah beberapa jam mengarungi udara dengan pesawat pribadi. Jetlag merupakan gangguan tidur yang dapat mempengaruhi orang yang bepergian cepat di beberapa zona waktu.
Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. "Hubby aku sangat lelah." Ujar Eva. Yup, waktu awal di dalam pesawat dirinya cukup excited karena baru pertama kali menaiki pesawat namun, setelah beberapa jam rasa bosan melanda dirinya. Eva memutuskan untuk tidur untuk menghilangkan rasa bosannya, walaupun perasaannya masih takut takut menaiki pesawat.
"Istirahatlah, saat kita sudah sampai aku akan membangunkan mu." Sahut Theo. Lalu mengarahkan kepala istrinya untuk menjadikan bahunya sebagai sandaran tidur.
Bersambung…….
...****************...
...Disaat kamu pertama kali jatuh cinta...
...Maka kamu akan merasakan seolah-olah akan mati jika tidak bersamanya....
...By othor...
...****************...