
Eva saat ini sudah berada di dalam mobil milik pak Theo yang sedang berkendara di ruas jalan yang agak ramai. Selama perjalanan sama sekali tidak ada percakapan, mereka berdua seolah memikirkan hal lain.
Sebenarnya Eva sudah lama move on dari Yoga, entahlah dirinya sekarang meragukan apakah dirinya benar-benar mencintai Yoga atau hanya sekedar cinta monyet. Namun, berbeda dengan dirinya ketika bersama pak Theo, ada sebuah perasaan aneh yang menggelitik, seperti angin malam yang berhembus sepoi-sepoi, perlahan memasuki hatinya.
Eva menutup matanya yang sedari tadi melihat ke arah samping jendela. "Ya Tuhan, aku sepertinya mulai menyukai pak Theo tapi aku rasa ini perasaan yang salah." Batinnya.
Sementara pak Theo diam dan fokus menjalankan mobilnya. "Sabar Theo, tunggu setahun lagi. Pasti bisa!" Batinnya.
Mobil pak Theo pun berhenti di sebuah rumah sakit, itu karena permintaan Eva yang ingin menemui mamanya yang masih dirawat di rumah sakit. "Terima Kasih pak, sudah menolong, merawat, dan mengantarkan saya." Ucapnya berterimakasih atas segala bentuk pertolongan pak Theo kepadanya.
"Hmm, sama-sama." Ucapnya singkat lalu segera pergi melakukan mobilnya.
Sementara Eva berdecak kesal. "Ck dia tetap saja killer!"
*
Pak Theo pun pergi menjalankan mobilnya menuju suatu tempat dimana dia ingin membalaskan apa yang menimpa siswi kesayangannya. Dia tidak menggunakan kekerasan dalam balas dendam kali ini, namun menjatuhkan seseorang sehingga dia kehilangan segalanya.
*
*
*
Masa liburan pun selesai, para murid yang bersekolah di Star International High School pun kembali bersekolah. Dan belajar seperti biasa.
Baru hari pertama mereka sekolah justru sebuah gosip bertebaran dan cukup banyak dibicarakan. Gosip itu adalah bangkrutnya keluarga Olsen dimana itu adalah keluarga Indah. Sontak karena keluarganya yang bangkrut membuat Indah dimaki habis-habisan oleh para siswa. Bahkan perumpamaan, apa yang kau tanam maka itu yang kau tuai sangat cocok disematkan padanya.
Bukankah kehidupan seperti roda yang berputar, ada kalanya seseorang diatas dan ada kalanya seseorang dibawah. Maka dari itu sebaiknya kita selalu berbuat baik dan jangan merendahkan orang lain.
*
Hari demi hari berlalu, saat ini Eva, Grace dan Mitha sudah kelas 12 semester genap dimana saat ini mereka sedang giat-giatnya belajar mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kelulusan.
Tentu saja waktu berjalan sangat cepat, bahkan tidak ada yang menyangka sebentar lagi mereka akan berpisah dan masuk ke universitas yang diinginkan guna meraih cita-cita. Namun, berbeda jika memilih universitas yang sama.
Dan disinilah, di sebuah ruangan kelas terdapat sepasang insan manusia berbeda usia sedang berbenah merapikan tumpukan buku.
Dia adalah Eva yang sedang merapikan buku dan alat tulisnya yang berserakan di atas meja setelah mendapat bimbingan belajar. Ya dia sedang bimbingan pelajaran Kimia, mata pelajaran yang paling tidak disukainya.
"Setelah beres-beres datang ke ruangan saya!" Titah Pak Theo.
"Ada apa lagi pak? Apa tentang nilai saya?" Tanya Eva heran. Pasalnya nilai kimianya memang rendah.
"Datang saja! Kenapa kamu banyak tanya sih!" Ketus Pak Theo. Eva mengernyitkan alisnya, apa lagi yang akan dilakukan guru killer itu kepadanya? Batin Eva kesal.
Tak lama kemudian
Eva pun sudah sampai di depan ruangan pak Theo. Lalu dia pun mengetuk pelan benda persegi panjang di depannya. Setelah mendapat izin Eva pun masuk. Dilihatnya Pak Theo sedang duduk di kursinya, mungkin sedang memeriksa nilai dari murid-murid. Batinnya bermonolog.
Eva pun berdiri tepat di depan meja Pak Theo.
Pak Theo pun beranjak dari duduknya lalu mendekati Eva. Digenggamnya kedua tangan gadis remaja itu dengan lembut. Membuat si empu punya tangan jadi was-was.
"A-anu p-pak ada apa ya? K-kenapa pegang tangan saya?" Tanya Eva gelagapan.
"Eva! Dengarkan Aku, maafkan aku yang sudah lancang, tapi aku tidak bisa memendamnya lebih lama lagi" Pak Theo menarik nafasnya. "Eva aku sudah menyukaimu bahkan mencintaimu sejak 1 tahun lalu ketika kamu masih kelas 2, maukah kamu menjadi pacarku?" Lanjut pria yang sekarang ini berusia 28 tahun tersebut.
Deg!
Bagaimana ini? Situasi macam apa ini? Siapa aku? Dimana aku? Batin Eva bertanya-tanya. Eva seolah mematung setelah mendengar ungkapan cinta dari guru killer nya itu.
"Ta-tapi pak kita guru dan murid, bagaimana bisa kita…" ucapan Eva terjeda.
"Aku tidak akan memintamu menjawabnya sekarang, Aku akan menunggumu hmm" ucap Pak Theo membelai lembut surai kehitaman Eva.
Eva diam seribu bahasa namun, beberapa menit kemudian ia kembali bersuara. "Saya akan pertimbangan lagi, saya akan memberi tahu bapak setelah ujian kelulusan selesai!" Ucap Eva tegas.
Pak Theo menghembuskan nafas lega. "Baiklah Aku akan menunggu jawabanmu" ucapnya. "Sekarang kita akan pulang, Aku akan mengantarkan mu!" Titah Pak Theo seakan tak mau dibantah.
Eva pun mengikuti gurunya itu ke area parkiran, lalu masuk kedalam mobil hitam milik gurunya. Lalu pak Theo mengantarkan Eva pulang dengan selamat sehat sentosa.
*
Sepulang mengantar Eva pulang, Theo memukul stir kemudi dan sekali-kali membenturkan kepalanya di stir. Entah apa yang dia pikirkan, saat ini dirinya seperti orang kesurupan. "Bod*h! Kau bod*h Theo! Kenapa kau beritahu tadi, seharusnya tunggu beberapa bulan saat dia sudah cukup umur! Si*l! Seharusnya kau menahan dirimu!" Ucapnya kesetanan.
*
*
Saat ini, Eva sedang berada di dalam kamarnya sambil belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan yang hanya tinggal beberapa Minggu lagi.
Bersambung…..
Gak nyangka bakal 50 Bab padahal dulu waktu nyiapin kerangka cerita maunya tamat di Bab 50 🤭🤭. Mau gimana lagi karena masih banyak yang belum terungkap jadinya lanjut😗😗
Inget loh othor mau crazy up sekarang, jangan lupa like komen, gifnya, vote kek🤭Nanti sore lagi ye😘😘😘😘