Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 58 - Tidak Dapat Melihatnya



Saat ini Eva pun sudah sampai di kelasnya. Sungguh perjuangan yang amat melelahkan karena di sepanjang perjalanan Eva melihat kesana kemari seperti seorang pencuri karena dirinya takut ada yang melihatnya keluar dari mobil pak Theo.


Kelas tampak sepi, karena murid kelas 12 sudah selesai ujian kelulusan dan tinggal menunggu hasilnya. Dan karena itu para siswa kelas 12 diizinkan membuat acara sendiri asalkan itu bermanfaat dan tidak mengganggu proses pembelajaran aduk kelasnya.


Tak lama Grace dan Mitha datang bersamaan. "Hei Eva, akhirnya kamu masuk juga. Kau tahu kami kesepian tanpa dirimu." Ujar Grace penuh drama.


"Sudahlah Grace." Ucap Mitha yang sedikit geli dengan drama Grace. "Btw kamu udah mendingan kan Va?" Tanya Mitha.


"Sudah Mit, sekarang aku sudah mengikhlaskan kepergian mama." Jawabannya.


Grace pun duduk di sebelah Eva. "Ngomong-ngomong kemarin kamu kemana aja? Aku samperin ke rumah kamu gak ada loh." Tanya Grace.


Eva terdiam mencari alasan yang sekiranya cocok untuk menjawab pertanyaan Grace. "Yah, aku tinggal bareng kerabat jauh aku sih." Alibinya.


Grace mengangguk namun tidak dengan Mitha, justru dia menatap Eva dengan tatapan menyelidik. "Benarkah?" Tanyanya. Dan Eva pun mengangguk sebagai jawaban.


"Udah yuk, kita punya waktu bebas loh mau ngapain nih?" Tanya Grace.


"Ke kantin dulu kuy, laper akutuh." Sahut Mitha dan Eva hanya mengikuti.


*


Saat ini ketiga sahabat itu tengah berada di halaman sekolah dan duduk di bangku yang berada di bawah pohon yang rindang. Sambil memakan Snack yang sudah mereka beli di kantin tadi.


Tiba-tiba Yoga datang menghampiri mereka. "Eva, aku perlu bicara berdua denganmu." Ujarnya.


Eva mengangkat satu alisnya. "Untuk apa?" Eva balik bertanya.


"Ada sesuatu hal penting yang ingin aku beritahukan." Ucapnya.


Eva melirik kedua sahabatnya, Grace tampak mengangguk pelan agar Eva pergi berbicara dengan Yoga. Sementara Mitha memasang wajah tidak bersahabat namun pada akhirnya terpaksa mengangguk.


"Baiklah." Eva beranjak lalu pergi ke taman belakang sekolah.


Di taman belakang tampak agak sepi namun, masih ada beberapa murid yang hilir mudik kesana kemari. Eva duduk di kursi tunggu lalu disusul oleh Yoga.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan." Ujar Eva yang tidak ingin membuang banyak waktu bersama Yoga.


"Begini, em, aku turut berduka cita atas meninggalnya Tante Jessica. Maaf aku tidak bisa datang waktu pemakamannya." Ucapnya.


Yoga menatap dalam Eva yang sedang memandang lurus ke depan. "Va, aku dengar kamu tinggal bareng kerabat ya? Tapi yang aku tahu bukannya kamu sama Tante Jesy sama sekali tidak mempunyai kerabat?" Tanya Yoga yang memang sudah tahu seluk beluk keluarga Eva.


"Lalu apa urusanmu?" Ketus Eva.


"Aku hanya ingin kamu tinggal bersamaku, di rumahku. Lagipula mommy pasti senang kamu tinggal bersama kami." Ujarnya. Eva bingung apa inti dari perkataan Yoga kepadanya, sampai-sampai alisnya menyatu saking kerasnya dia berpikir. Namun, dia sama sekali tidak menyahuti perkataan Yoga.


Yoga memegang kedua tangan Eva menggenggamnya dengan erat. "Kau tahu aku mempunyai rasa kepada sahabat masa kecilku dan itu adalah kamu. Eva aku sudah mencintaimu dari dulu, maukah kau menjadikanku sandaran dalam hidupmu? Aku akan ada disaat suka maupun dukamu." Ujarnya


Setelah mengatakan itu, Eva justru tertawa dengan sinisnya. "Sudah berapa banyak gadis yang kau rayu dengan gombalanmu itu?" Sinis Eva.


"Apa maksudmu?" Yoga mengernyit heran.


Eva melepaskan tangannya yang digenggam oleh Yoga. "Maafkan aku tapi, aku tidak bisa menerimamu." Ucapnya tanpa menoleh ke arah Yoga.


"Kenapa? Bukankah kamu juga mencintaiku?"


Eva tersenyum, namun senyum itu seperti senyum yang penuh dengan luka. "Kau benar aku dulu sangatlah mencintaimu. Bahkan sahabatku pun tau tanpa aku mengatakannya. Cintaku padamu bahkan bisa dilihat oleh semua orang tapi kenapa kamu sama sekali tidak dapat melihatnya?! Aku yakin, kau pasti tahu perasaanku dari sahabatku kan? Tapi maaf sekarang ini aku tidak mempunyai perasaan itu lagi padamu. Aku sudah lelah mencintai orang yang jelas-jelas tidak bisa melihat ketulusan cintaku dan dengan gampangnya menyakitiku dengan menyuruhku menjadi orang lain untuk latihan mengungkapkan perasaanmu!"


Tep!


Yoga terdiam. Dirinya mengingat kejadian di penginapan itu. Jujur andai saja dia tahu perasaan Eva saat itu pasti dia tidak akan melakukan hal itu. Ah sekarang ini semuanya sudah terjadi dan dia hanya bisa berandai-andai.


"Tapi Va, aku benar-benar mencintaimu. Dulu aku ingin mengungkapkannya namun, aku ragu dan takut. Ragu jika kamu menolak ku dan takut kamu akan menjauhi ku ketika kamu tahu perasaanku." Ucapnya.


"Jadi, kamu mencintaiku dan berpacaran dengan gadis lain di depanku? Kau sungguh sangat egois!" Ucapnya menggebu. Eva lalu berdiri dari duduknya. "Aku rasa pembicaraan kita cukup sampai disini saja." Lanjutnya lalu pergi meninggalkan Yoga yang ingin menghadangnya.


*


Melewati lorong setelah berbicara dengan Yoga, ponselnya berbunyi memberikan notifikasi pesan.


Bersambung…….


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Baru nyadar telat up, padahal tadi udah ngetik tapi lupa upload, Efek abis ulangan 😬😌