
Setelah menempuh 40 menit perjalanan dari bandara, akhirnya Theo dan Eva pun sampai di unit apartemen mewahnya. Saking mewahnya mungkin ini tidak bisa disebut apartemen.
Theo mengisyaratkan agar sang supir turun terlebih dahulu, agar dirinya puas bersama istrinya. Theo mengelus pelan wajah Eva namun, sentuhan itu seakan tidak berasa baginya, karena sangat lelah sehingga membuat tidurnya sangat lelap, seperti putri tidur.
Dengan hati-hati Theo mengangkat dan menggendong Eva bridal style lalu membawanya masuk ke dalam apartemen itu. Baru saja masuk, 4 orang pelayan yang mengurus apartemen menghampiri dan memberi salam kepada Theo. Theo mengangguk lalu memberikan isyarat agar semua orang tidak berisik agar tidak mengganggu tidur nyenyak istri tercintanya.
*
Keesokan harinya, Eva saat ini sedang berada di ruang tamu dimana saat ini seorang desainer paling terkenal di dunia yang selalu mendesain pakaian untuk artis dunia datang ke apartemennya untuk mengukur badannya. Theo secara khusus mendatangkan desainer tersebut untuk mendesain gaun yang akan dikenakan istrinya ke pesta dua hari lagi.
"Nyonya Davidson, anda memiliki proporsi badan yang sangat bagus. Aku akan membuatkan gaun yang paling bagus untukmu." Ujar desainer tersebut.
"Terimakasih atas pujiannya. Sebelumnya ada beberapa bagian yang ingin ku ubah dari gaunnya." Ucap Eva lalu berbincang mengenai fashion dan mode yang diinginkan olehnya. Sementara Theo diam menyimak sambil minum kopi, pasalnya dirinya sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan para perancang busana.
"Anda, sangat paham dan berbakat dalam bidang fashion. Saya akan merasa sangat terhormat bila kelak kita bisa bekerja sama." Ujar sang desainer.
"Justru suatu kehormatan bagiku." Sahut Eva.
Tak lama desainer perempuan itu pergi dari apartemen bersama para asistennya.
Eva menghempaskan tubuhnya di sofa dekat suaminya. "Huff! Ternyata cukup melelahkan juga. Rasanya sangat berbeda ketika kita mengukur dan diukur." Ujarnya.
Cup!
Theo mengecup pelan pipi kanan Eva. "Kamu sudah bekerja keras, sekarang istirahatlah, nanti malam kita akan pergi berkeliling menikmati suasana malam di kota Paris!" Ujar Theo.
"Hmmm, kelihatannya menarik." Sahut Eva lalu merebahkan dirinya di pangkuan Theo dan tak lama hembusan nafas teratur dan mata yang terpejam menjadi tanda bahwa Eva saat ini sudah terlelap dalam tidurnya.
*
Sore hari.
Saat ini, Theo dan Eva sedang berjalan menyusuri jalanan indah kota yang terkenal dengan menara Eiffel nya itu. Disepanjang perjalanan bisa ditemui banyak orang lokal yang menjajakan dagangannya yang kebanyakan berbau seni, ada juga beberapa pemain musik dan penari yang berlenggak lenggok menunjukkan keahliannya.
Theo dan Eva berjalan bergandengan tangan, dan tak lama mereka sampai di bangunan yang menjulang tinggi yang menjadi ikon negara Prancis yaitu, Eiffel tower. "Ayo, kita beli tiket untuk naik ke atas!" Ujar Theo.
Eva mengikuti karena tidak tahu banyak tempat tersebut. Setelah membeli tiket, mereka menaiki lift yang akan membawa mereka ke puncak dari menara Eiffel. Sungguh baru saja di perjalanan naik pemandangan kota Paris pada malam hari sangatlah indah. Eva sendiri takjub sampai tidak mengedipkan matanya.
"Wow, pemandangan sangat indah." Ucap Eva.
Theo tersenyum dibelakang Eva lalu menyusupkan tangannya memeluk istrinya dari belakang. "Pemandangannya jauh lebih indah karena aku melihatnya bersamamu." Sahutnya.
"Ck, gombal!"
Theo tidak menjawab, tapi membenamkan kepalanya di ceruk leher Eva. Saat sampai di puncak Eva tak henti-hentinya berdecak kagum, setelahnya dirinya pun berfoto bersama mengabadikan momen kebersamaan mereka.
Mereka pun kembali turun setelah berada di puncak selama 20 menit, karena waktu pengunjung yang dibatasi. Di sebuah kursi taman Eva duduk disana bersama Theo. "Sshh…. Dingin." Ucap Eva yang sudah gemetar kedinginan.
"Eh, kalau aku pake jaketnya nanti kamu kedinginan gimana?" Tanya Eva khawatir.
"Sudahlah, aku kuat kok. Tunggu disini ya, aku belikan secangkir coklat hangat dulu." Ujar Theo lalu pergi ke kafe terdekat yang menjual coklat hangat.
Eva memandangi taman dan Sungai Seine yang indah. Namun, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya yang berjalan di depannya ambruk terduduk di tanah dengan nafas yang tak beraturan. Ditengah nafasnya tak tak teratur, wanita itu terlihat kesusahan mencari sesuatu di dalam tasnya.
Eva mendekati wanita yang berpakaian glamor itu dan hendak membantunya. "Halo, nyonya apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Eva.
"Ple-please hah am-bilkan hah alat bantu hah pernapasan hah!" Ucap wanita paruh baya itu dengan tersengal-sengal.
Eva mengangguk lalu mencari alat yang dimaksud wanita itu. "Apakah yang ini?" Tanya Eva, wanita itu mengangguk dan dengan segera menghirupnya. Cukup lama sampai akhirnya nafas wanita itu kian membaik.
"Terimakasih nak, sudah membantu ku." Ucap wanita itu.
"Tidak masalah, saya hanya ingin membantu anda." Sahut Eva.
Wanita itu tersenyum. "Ngomong-ngomong nama ibu Hanna Helios. Siapa Namamu?" Tanyanya.
"Namaku Evangeline, anda bisa memanggilku Eva." Sahutnya.
Nyonya Hanna tampak menatap tajam bola mata Eva. "Kamu memiliki bola mata yang sangat indah. Bola matamu seperti tidak asing, aku merasa pernah melihatnya sebelumnya." Ujar Nyonya Hanna. Sementara Eva hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Oh iya, kau seperti bukan orang sini, dan sedang apa kau malam-malam duduk sendirian disini?" Tanya nyonya Hanna.
"Ah, aku dari Indonesia dan sedang berlibur kemari. Aku sedang menunggu seseorang." Sahutnya.
"Oh begitu. Baiklah hari sudah malam, aku akan pulang. Kau juga jangan sampai sakit, udara malam tidak baik untuk kesehatan." Ujarnya menasehati.
Eva mengangguk. "Tentu, sampai jumpa." Sahut Eva sembari melambaikan tangannya.
Tak lama, Theo datang membawa 2 gelas coklat hangat di tangannya. "Sayang, kamu melambaikan tangan kepada siapa?" Tanyanya.
"Ah, tadi aku membantu nyonya itu ketika penyakitnya kambuh." Jawab Eva lalu menunjuk Nyonya Hanna yang sudah menjauh dari pandangan mata.
Theo mengangguk. "Baiklah, hari sudah malam, sebaiknya kita pulang lalu sedikit berolahraga dan istirahat." Ucap Theo dengan wajahnya yang sudah memperlihatkan raut mes*m.
Eva menyikut perut Theo. "Dasar!" Lalu berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan Theo yang berlari mengejarnya dari belakang.
Bersambung…..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like, Komen nya jangan lupa loh...
...inget Senin kasih vote kek 🤭...