
Eva memasuki mall tergesa-gesa sehingga dia tidak melihat para sahabatnya sudah berdiri di depannya.
"Wo,wo, wo, jalan udah kayak banteng aja nyeruduk." Sindir Grace.
Eva menatap kedua sahabatnya dengan senyum manisnya. "Hehehe, ya maaf."
Setelah berbincang sedikit mereka pun pergi menuju area perbelanjaan dimana didominasi dengan kios baju, sepatu, tas atau aksesoris lainnya. Mitha dan Grace pun memilih baju yang ingin mereka beli, terutama Grace yang bila berbelanja tidak akan ingat saldo yang ada di kartu ATM nya. Sedangkan Eva masih memilih-milih baju yang menurutnya nyaman dan sederhana.
Sedari kecil sampai saat ini memang Eva sama sekali tidak pernah berbelanja pakaian mewah, hanya beberapa kali saja itupun ketika sedang hari raya. Eva pun memilih beberapa helai pakaian yang menarik perhatiannya, lalu menuju meja kasir untuk membayarnya.
"Totalnya satu juta lima ratus ribu rupiah kakak." Ujar sang kasir kepada Eva.
Sontak saja mendengar harga 4 helai baju yang dibeli harganya selangit membuatnya melongo. Jujur jiwa misquen Eva meronta-ronta karenanya. (Tim yang dibeliin baju oleh emak, beli 2 gratis 1 👆).
Dengan cepat Eva mengeluarkan gold card yang sebelumnya diberikan oleh pak Theo kepadanya lalu memberikannya kepada mbak kasir. Matanya menatap kesana-kemari memperhatikan Mitha dan Grace yang masih sibuk memilih bajunya. Untuk saat ini Eva ingin menyembunyikan hal yang berkaitan dengan pernikahannya. Bukannya tidak ingin memberitahu namun, dirinya tidak ingin di introgasi oleh sahabatnya karena menikahi pak Theo.
Setelah selesai di toko baju mereka pun mengunjungi beberapa kios lagi sampai akhirnya mereka kelelahan. Mereka bertiga pun beristirahat di sebuah restoran cepat saji. Dan memesan makanan yang disukai masing-masing.
"Well, ada yang pengen aku sampein ke kalian." Ucap Grace. Dia menundukkan kepalanya dan hanya mengaduk-aduk minuman yang saat ini ada dihadapannya.
"Ada apa sih Grace? Jangan nakutin deh." Ucap Eva.
"Bener tuh, ekspresi lo yang kayak gini bikin gue merinding tau ga?" Mitha berucap karena merasa ada yang aneh dengan sahabatnya.
Grace menghela nafasnya. "Setelah ini, gue bakalan kuliah di London." Ucapnya sendu.
"What?!" Eva dan Mitha terkejut bahkan Mitha sampai menggebrak meja dan membuat kaget pengunjung lain.
"Gak salah lu? Kenapa gak kuliah disini aja sih?" Tanya Mitha.
"Ini keinginan ayah Mit, gue gak bisa ngebantah. Jadi setelah acara kelulusan gue bakalan berangkat." Ucapnya sendu.
Mereka pun terlihat murung, karena tanpa salah satu dari mereka maka akan terasa sangat hampa. "Yaudah, sebelum Grace berangkat lebih baik kita menghabiskan waktu bersama." Eva berucap.
"Tentu saja!" Seru ketiganya lalu mengangkat bersulang mengangkat minuman yang dipesannya sampai menimbulkan bunyi.
"By the way, kalian mau kuliah kemana?" Tanya Grace?
Mitha mengedikkan bahunya. "Entahlah, papa nyuruh aku masuk jurusan hukum. Padahal aku mau masuk jurusan kedokteran."
"Pasti dong, papa kamu mungkin mau kamu jadi pengacara. Kalau gitu nanti kalau gue udah mengurus perusahaan lo kerja aja sama gue." Ujar Grace. "Kalau kamu Va?" Tanya Grace lagi.
Mereka pun makan sembari membicarakan beberapa hal yang ingin mereka lakukan dimasa depan nanti.
*
*
Eva saat ini sedang berada di luar mall menunggu pak Theo menjemputnya. Untung saja Mitha dan Grace sudah pulang duluan. Tiba-tiba saja mobil Lamborghini hitam berhenti tepat di hadapannya. Perlahan kaca diturunkan memperlihatkan seseorang dengan wajah tampannya, siapa lagi kalau bukan pak Theo. Eva sampai terpana karena ketampanan pak Theo yang paripurna dengan kacamata hitam yang dipakainya.
Pak Theo turun lalu membukakan pintu mobil untuk Eva. "Hei kenapa bengong? Masuklah, hari sudah malam, bagaimana kalau masuk angin." Ucap pak Theo menyadarkan Eva agar segera masuk ke dalam mobil. Mengambil barang belanjaan yang Eva bawa lalu memasukkannya ke dalam bagasi.
Eva duduk dengan sangat kaku, karena ini kali pertamanya menaiki mobil mewah yang hanya dimiliki oleh para orang kaya. "Pak, mobil ini milik siapa?" Tanya Eva ketika pak Theo sudah duduk dan menjalankan mobilnya.
"Tentu saja milikku." Ucap pak Theo sekilas melihat Eva.
"Bukankah ini mobil sangat mewah? Bagaimana bapak bisa memilikinya?" Tanya Eva. Hei ayolah Eva sama sekali belum tau latar belakang pria disampingnya yang saat ini sudah berstatus sebagai suaminya.
Pak Theo tersenyum. "Apakah kamu sudah makan?" Bukannya menjawab pak Theo justru bertanya kepada Eva.
Eva mengangguk sebagai jawaban. "Bagaimana, apakah kamu senang jalan-jalan hari ini?" Tanya pak Theo.
"Cukup senang, mungkin karena sebentar lagi kami akan berpisah. Grace memilih untuk kuliah di luar negeri." Ucapnya sendu.
"Kalian berpisah hanya sebentar itu pun karena menuntut ilmu dan menambah wawasan." Ujar pak Theo.
Setelahnya mereka menyudahi percakapannya karena pak Theo harus berkonsentrasi mengendarai kendaraan roda empat tersebut.
*
*
Keesokan harinya hari Sabtu, Eva pun sudah bangun pagi-pagi sekali lalu menyiapkan sarapan sementara pak Theo masih berada di kamar karena masih mandi. Tiba-tiba seorang pria dengan jas hitam rapinya datang tanpa mengetuk pintu sama sekali. Eva yang sedang di dapur memasak pun kaget dan hampir melemparkan wajan panas kepada pria tersebut.
Bersambung…..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Senin oi, inget vote nya ye😗...
...Minggu ini mungkin gak akan bisa up karena kesibukan di RL, mohon maaf sebelumnya. nanti kalo udah gak sibuk bakalan crazy up kok tenang aja 😌...