Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 95 - Rencana Brian



Keesokan harinya.


Pukul 8 pagi waktu setempat.


Grace membuka matanya perlahan, lalu meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku. 'Apa ini? Kenapa aku merasa kedinginan?' batinnya. Grace melihat tubuhnya betapa kagetnya dirinya ketika mendapati tubuh bagian atasnya sudah polos, tapi untungnya dirinya masih memakai pakaian bawahnya.


Huft! Grace menghela nafasnya tenang.


Dengan cepat, Grace memungut pakaiannya yang berceceran di lantai kamar yang tidak diketahui siapa pemiliknya. Setelah memakai pakaiannya, Grace pun memutuskan untuk pulang dengan diam-diam agar tidak membangunkan orang rumah.


*


Sesampainya di apartemen miliknya, Grace menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuk miliknya. Merilekskan tubuhnya, namun dia merasa bagian dadanya sedikit agak nyeri. Grace pun mengabaikannya.


Setelah puas merebahkannya dirinya, Grace menuju kamar mandi. Disaat dia melewati kaca, Grace terkejut ketika mendapati di sekitar area leher dan dadanya banyak terdapat bercak kemerahan atau bisa disebut sebagai kissmark.


"Kenapa bisa ada ini? Apa yang terjadi?!" Grace panik sembari menyentuh tanda-tanda yang berada di tubuhnya. Ingatannya sangat kacau bahkan untuk mengingat kejadian semalam.


Grace pun membersihkan dirinya lalu berhias di depan cermin. Menutup tanda itu dengan foundation.


*


Di Tempat lain, di gedung pencakar langit, dan di sebuah ruangan, seseorang tampak duduk di kursi kebesarannya sambil menggigit bibir bagian bawahnya mengingat hal-hal indah yang dialaminya. "Ah, gadis itu sangat cantik dan juga nikmat. Mungkin saat ini dia sudah pulang dan melupakan kejadian semalam. Ah Grace ku sayang." Batin Brian sambil memandang kartu tanda mahasiswa milik Grace yang terjatuh di kamarnya.


Bawahannya pun tampak bingung melihatnya. "Tuan, kenapa anda senyum-senyum tidak jelas?" Tanya bawahannya.


"Hari yang cerah ya, aku jadi tidak sabar untuk pulang. Katakan apa jadwalku hari ini." Titah Brian. Sementara bawahannya merinding, bagaimana bisa Brian mengatakan hari ini cerah padahal langit terlihat mendung. 'Gila!' pikir bawahannya.


"Anda tidak ada jadwal apapun hari ini tuan, hanya nanti pertemuan dengan Tuan Natalie, sekitar 30 menit dari sekarang." Ujar bawahannya. Sementara Brian hanya mengangguk.


30 menit kemudian


Di ruang rapat, Brian bersama Tuan Natalie sedang membicarakan hal serius mengenai proyek. "Senang bisa bekerja dengan anda tuan Brian. Masih muda tapi sudah pandai mengurus perusahaan." Puji Tuan Natalie.


"Ah, jangan memujiku seperti itu tuan." Elak Brian.


"Aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh, andai saja putriku memiliki seorang pacar sepertimu maka aku akan tenang." Ucap Tuan Natalie.


Tuan Natalie lalu memperlihatkan foto Putrinya yang tersimpan di ponselnya kepada Brian. "Lihatlah, bukankah dia sangat cantik?" Ujarnya.


"Grace? Dia putri Tuan Natalie?" Batinnya. Seketika senyum seringai terbit diwajah Brian.


Melihat Brian yang tersenyum, membuat Tuan Natalie sedikit senang. "Apakah anda tertarik dengan putriku? Aku akan menjodohkan kalian." Ujar Tuan Natalie. Bukan tanpa alasan dirinya menjodohkan putrinya, itu karena dia ingin Grace ada yang menjaganya disini karena dirinya tidak akan full menjaganya dan agar putrinya sedikit memiliki rasa tanggung jawab. Selain itu, Brian adalah pria yang baik dan tidak memiliki latar belakang yang buruk.


"Tentu saja, jika anda mengizinkan saya dekat dengan putri anda." Sahut Brian.


"Baiklah, Nanti malam datanglah ke apartemen putriku jam 8 malam. Aku akan mengadakan makan malam disana." Ucap Tuan Natalie.


*


Jam 8 malam.


Di Sebuah meja, Brian sudah duduk bersama Tuan Natalie dan nyonya Natalie yang sibuk menata meja makan. Tak lama Grace turun menghampiri ketiganya. "Ah, Brian, perkenalkan dia adalah putriku Grace." Ujar Tuan Natalie.


Brian hanya tersenyum, lalu menyapa Grace. "Halo Grace, senang bertemu denganmu. Namaku Brian." Ucapnya lalu mengulurkan tangannya.


Grace membalas jabatan tangannya. "Gila! Ganteng bener ni orang. Aish padahal aku mau nyari yang spek Daddy gula. Tapi, Brian ini boleh juga." Batin Grace.


Makan malam pun dimulai, dan sesekali diselingi obrolan yang mana didominasi oleh Tuan Natalie dan Brian, membahas bisnis tentunya.


Makan malam pun selesai dan saat ini mereka berempat sedang memakan hidangan penutup. "Grace, Daddy ingin menjodohkan kamu dengan Brian." Ujarnya.


"Apa?! Bagaimana bisa gitu dad?!" Grace sedikit tidak terima.


"Tidak ada penolakan, keputusan Daddy sudah final. Semua ini Daddy lakukan untuk kebaikanmu!" Ujarnya. "Sekarang kalian berbicaralah berdua untuk saling mengenal." Ucap Tuan Natalie.


"Maafkan anak saya, nak Brian. Dia masih labil." Tuan Natalie merasa tak enak.


Brian berdiri. "Tidak apa-apa tuan, biar saya yang berbicara dengannya." Sahut Brian lalu naik ke lantai dua menuju kamar Grace.


Brian mengetuk pintu kamar Grace. "Hey, boleh aku masuk?" Tanyanya. Namun, pertanyaannya sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Pada akhirnya dia pun masuk, lalu mendekati ranjang dimana Grace menutup tubuhnya dengan selimut. Brian duduk tepat ditepi ranjang.


"Kenapa kamu menolak perjodohan kita?" Tanya Brian.


Grace beranjak duduk, menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang. "Entahlah, mungkin kau bukan tipeku." Sahutnya dengan enteng.


"Kalau aku bukan tipemu. Jadi katakan bagaimana tipe lelaki idamanmu." Tanya Brian lagi.


"Hmm, dia harus kaya, tampan, dan mungkin sedikit lebih tua dariku." Jawab Grace sedikit berfikir.


Brian tampak menyeringai, lalu mendekati Grace. "Jadi, kamu mencari yang seperti sugar Daddy ya. Bukankah aku masuk dalam tipemu? Aku tampan dan juga kaya karena pewaris dari keluarga Fernandez lalu kita memiliki perbedaan usia 11 tahun." Bisik Brian tepat pada kalimat terakhir.


Glup!


Grace menelan ludahnya sendiri, ingin dia menolak perjodohan ini namun dirinya semakin terperosok kedalamnya. 'Sudahlah, terima saja lagipula dia tampan dan kaya.' batinnya.


Brian menatap Grace yang terbengong lalu semakin merapatkan tubuhnya. "Lagipula, aku sudah merasakan ini." Tangan Brian sudah bertengger di salah satu perbukitan milik Grace.


Grace melotot lalu menepis tangan Brian yang semakin nakal meremasssnya. "Apa yang kau lakukan! Dan apa maksudmu!!"


"Kamu melupakan yang semalam baby? Aku jadi sedih karena kau melupakan apa yang kita lakukan semalam." Ucap Brian.


Tiba-tiba ingatan Grace kembali mengingat apa yang terjadi kemarin malam. Dan puff! Ingatannya kembali pulih dan mengingat dirinya menghabiskan malam dengan seorang pria. "Kau!! Kau pria brengsek yang semalam!" Pekiknya.


"Pelankan suaramu baby. Terima perjodohan ini dan aku akan mengembalikan ini." Brian menunjukkan KTM milik Grace.


"Hey, kembalikan! Itu milikku!"


"Aku akan mengembalikannya jika, kamu menyetujui perjodohan ini baby." Ucap Brian lalu keluar dari kamarnya dan tak lama Grace mengikutinya.


Di ruang tamu, tuan dan nyonya Natalie sedang menunggu keduanya. "Bagaimana?" Tanya tuan Natalie kepada Brian dan Grace.


"Aku menerima perjodohan ini dad." Ucap Grace. Tuan Natalie sangat senang lalu memeluk putrinya.


"Baiklah perjodohan kalian akan dilakukan 3 Minggu lagi." Ujar tuan Natalie. Grace sedikit syok.


Tiba-tiba Brian bersuara. "Tuan, saya memiliki sebuah permintaan. Bagaimana jika kami tidak mengadakan pertunangan? Maksudku bagaimana kalau kami langsung menikah saja?" Tanya Brian.


"Tentu saja! Baiklah sudah kuputuskan kalian akan menikah dalam 3 Minggu!" Tuan Natalie senang bukan main.


"Apa?! Dad mana bisa gitu?! Bagaimana dengan kuliahku?" Tanya Grace.


Nyonya Natalie mendekati putrinya. "Kamu masih bisa kuliah saat sudah menikah sayang." Ujarnya.


Grace hanya bisa pasrah atas keputusannya orang tuanya sementara Brian sudah menyeringai karena rencananya berhasil.


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan Lupa...


...Like 👍...


...Komen 💬...


...Vote...