
Dengan cepat orang itu pergi menuju ke suatu arah dengan perasaan yang bercampur aduk. Jujur saja baru kali ini dirinya merasakan sangat amat takut.
Orang itu tentu saja Pak Theo, sebenarnya dirinya hanya ingin berjalan dan melihat kegiatan yang dilakukan oleh siswanya.
Namun, saat ini hatinya sedang kalut, siswi kesayangannya saat ini hilang dan tidak tahu kemana perginya. Pak Theo pun membuka ponselnya lalu membuka sebuah aplikasi yang menghubungkannya dengan ponsel Eva yang sebelumnya sudah dia aktifkan GPS.
Arah jarum dari GPS di ponsel Eva pun berhenti di sebuah tempat dimana kawasan tersebut merupakan tempat yang jarang didatangi.
Dengan cepat Pak Theo mengirimkan tempat terakhir Eva berada ke salah satu bawahannya. Lalu bergegas berlari menuju arah bukit.
"Aku mohon, kamu harus baik-baik saja. Tunggu aku." Gumamnya dengan perasaan tak karuan.
Pak Theo pun saat ini sudah berada di sebuah tempat, tempat dimana Eva terakhir berada. Didepannya saat ini terpampang sebuah papan penunjuk arah. Namun, ada dua arah jalan yang ditunjukkan. Dia pun menganalisa sekitarnya berharap mendapatkan petunjuk kemana perginya Eva.
Dan binggo! Setelah beberapa menit menelusuri tempat itu, pak Theo pun menemukan sebuah gelang dan jepit rambut yang diyakini olehnya adalah milik Eva. Namun, ada yang aneh. Bagaimana tidak aneh, arah dimana dia menemukan barang Eva adalah jalan menuju hutan.
Perasaan lega karena sudah menemukan petunjuk pun sirna berganti kekhawatiran yang sedari tadi menghantuinya.
"Tuan, kami siap menjalankan perintah." Ucap orang berseragam hitam dengan kacamata hitamnya.
Pak Theo menoleh, lalu memberikan perintahnya. "Kalian pergilah ke arah kanan dan aku sendiri yang akan pergi ke arah kiri!"
Tanpa bantahan 2 orang berseragam hitam pun pergi ke arah kanan sementara pak Theo menuju arah kiri dimana disana dia menemukan petunjuk Eva.
*
*
Meninggalkan pak Theo yang mencari Eva, saat ini keadaan di tempat kemah masih seperti sebelumnya, namun bedanya sekarang ini tengah terjadi keributan antara 2 orang gadis.
"Ini pasti rencana lo kan?!" Tuduh Grace kepada Indah dan Siska.
Bukan sembarang menuduh, tapi karena gerak geriknya yang mencurigakan. Bagaimana tidak, saat semua orang mencari keberadaan Eva, Indah dan Siska sama sekali tidak membantu mencari dan hanya diam bermain ponsel dan sesekali berswafoto.
"What?! Lo nuduh gw?! Ngapain juga gw berurusan dengan si cewek udik itu?" Ucapnya santai dengan bola matanya memutar ke atas.
"Cukup!! Daripada bertengkar tidak jelas, lebih baik kita mencari Eva sebelum matahari terbenam." Yoga menengahi, walaupun dia masih sangat khawatir saat ini.
"Huh!" Grace kesal segera pergi dari sana sambil kakinya dia hentakkan di tanah.
Mitha pun mendekati Indah lalu berbisik. "Gw tekankan kepada lo, jika memang ini adalah rencana kalian. Gw tidak akan tinggal diam. Mungkin gw tidak sebaik Eva atau sebar-bar Grace, tapi gw bisa membuat lo menderita sedalam-dalamnya!" Tegas Mitha lalu pergi menyusul Grace.
"Sialan!" Umpat Indah.
*
*
Disisi lain, Eva saat ini sedang berusaha melewati sungai kecil yang berada di hadapannya. Dia sebenarnya sangat takut namun dia ingin segera kembali karena langit yang sudah mulai sore dengan warna jingga yang menghiasi langit. Dia pun mengikuti arah kompas di ponselnya.
"Aku harus bisa melompati sungai ini, agar bisa kembali." Ucapnya semangat.
1
2
3
Eva mulai menampakkan kakinya dan melompat. Namun naas sekali nasibnya bukan mendarat di tanah dirinya malah nyebur ke sungai itu. Tubuhnya basah kuyup bahkan ponselnya yang merupakan benda yang paling dibutuhkan saat ini pun jadi basah dan tidak bisa dipakai.
"Aduh! Bagaimana nih, ponselnya rusak lagi." Keluhnya lalu keluar ke tepi sungai.
Dilihatnya lagi hari sudah menggelap saja, padahal baru saja masih terang. Rasa takut mulai menghampirinya bahkan tubuhnya saat ini semudah menggigil karena dinginnya air sungai.
Ingin kembali kejalan yang tadi dilaluinya namun dia tidak berani karena hari sudah mulai gelap.
"Hiks bagaimana ini, hiks mama." Ucapnya dengan Isak tangis.
*
*
Masih diwaktu yang sama, Pak Theo sedang mengikuti jejak sepatu kecil yang dia yakini milik Eva. Dia pun mengarahkan senter ke arah depan mencari jejak sepatu.
"EVA!!" Teriak pak Theo. Namun, tidak ada sahutan.
Pak Theo pun kembali melangkah menyusuri lebatnya hutan dihari yang sudah mulai gelap.
"Sial! Padahal aku sudah mencari kesana kemari, tapi masih juga belum ketemu. Ada dimana dia sebenarnya?!" Batin pak Theo.
"EVANGELINE DORIOUS! KAU DIMANA?!" Teriak pak Theo lagi.
Kali ini teriakannya sepertinya direspon namun, dengan suara yang agak lemah.
"Evangeline!" Teriaknya memastikan.
"Saya disini!" Balas suara dengan agak lemah.
Pak Theo pun sekarang yakin bahwa Eva yang membalas teriakannya tadi. Karena dia sangat mengenali suara Eva yang merupakan murid kesayangannya (walaupun Eva tidak merasa menjadi murid kesayangan pak Theo).
"Tunggulah di sana jangan kemana-mana. Jika kau bisa bernyanyi maka bernyanyi lah dengan keras agar saya bisa mengikuti sumber suaramu." Teriaknya.
"Baik!" Balasnya lalu kemudian bernyanyi.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Maaf ye kadang up kadang gak, dan karena itu aku mau up 2 bab heheh 😗😗😗...