
Masih di rumah sakit.
Saat ini pak Theo masih menatap siswi kesayangannya yang masih tertidur di atas brankar rumah sakit. Walaupun begitu perasaannya saat ini sangatlah lega berbeda dengan tadi yang cemas dan juga khawatir.
...Flashback beberapa bulan yang lalu....
Seorang laki-laki tampan dengan tubuh atletisnya baru saja turun dari pesawat pribadi milik keluarganya. Baru saja dia sampai di ujung tangga seseorang datang lalu menyambut kedatangannya.
"Selamat siang tuan, nama saya Jo, yang akan menjadi asisten pribadi tuan." Ucapnya memberikan hormat.
Laki-laki itu pun berhenti lalu menatap Jo asisten pribadinya. "Hem, selamat siang." Jawabnya singkat.
"Tuan, anda di tunggu oleh kedua orang tua anda di kediaman lama." Jo memberitahu.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. "Apa ada masalah? Tidak biasanya Daddy memanggilku."
"Entahlah tuan, saya hanya ditugaskan oleh tuan besar menjemput anda." Sahut Jo. Jo dan laki-laki itu pun berjalan menuju ke parkiran dimana mobilnya berada.
Dengan langkah yang tegap dan gaya coolnya laki-laki itu berjalan menembus padatnya lobby bandara Soekarno-Hatta. Dialah Theo Hendry Davidson, yang merupakan putra tunggal dari keluarga Davidson.
Seluruh pasang mata yang berada di bandara pun menatapnya tanpa berkedip, namun dengan santainya dia mengabaikannya, lalu memakai kaca mata hitamnya yang bila dipakainya akan terlihat menjadi lebih keren.
Jo pun duduk di kursi pengemudi sementara tuannya duduk di kursi penumpang.
*
Setelah perjalanan selama 1 jam, akhirnya dia pun sampai di depan sebuah mansion yang sangat besar dan mewah.
Theo pun masuk ke dalam menuju ruang tamu, rumah yang sangat dirindukannya masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.
Tiba-tiba telinga sebelah kanannya ditarik oleh seseorang dengan sangat keras, bahkan telinganya memerah karenanya.
"Heh! Anak nakal baru pulang kamu hmm? Udah pergi 10 tahun ke London dan gak pernah pulang. Mau jadi bang Toyib kamu?!" Geram seorang wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang beberapa tahun lagi akan memasuki kepala lima.
"Auchh….! Lepasin telinga Theo mom, sakit!" Ucapnya mengerang kesakitan.
Dengan wajah tanpa dosa, Mommy Irene pun melepaskan jeweran nya di telinga sang putra. Dengan cepat Theo pun mengusap-usap telinganya yang rasanya hampir mau putus.
"Jawab dulu, kenapa selama 10 tahun kamu gak pulang? Mommy sangat merindukanmu." Ucap mommy Irene lalu memeluk putranya.
Theo pun memeluk balik sang mommy. "Habis kuliah, Theo kan kerja di perusahaan cabang disana mom." Sahutnya lalu melepas pelukannya. "Dimana Daddy mom?"
Baru saja Theo bertanya kepada mommy nya, sang Daddy pun sudah menuruni tangga. "Oh, kamu sudah pulang?" Tanya tuan Davidson kepada anaknya dengan ekspresi datar.
"Hmm." Balas Theo tak kalah datar.
Ketiganya pun duduk di sofa yang ada di sana. Para pelayan pun menyajikan minuman dan camilan kepada putra dari majikan mereka.
"So, kenapa Daddy manggil Theo pulang?" Tanyanya.
Mommy Irene pun kesal lalu memukul kepala anaknya itu. "Kalau tidak dipanggil kamu gak akan pulang gitu?!"
"Ekhem!" Tuan Davidson berdehem agar kedua orang tercintanya diam. "Daddy manggil kamu pulang karena ini menyangkut wasiat dari nenek kamu."
"Seperti yang kamu tahu, nenek mempunyai sebuah yayasan sekolah bernama Star International High School, di wasiatnya beliau ingin kamu menjalankan yayasan tersebut. Dan karena itu kamu harus mulai mempelajarinya dengan menjadi seorang guru." Lanjutnya.
Theo pun jelas terkejut karenanya. "What?!!! Daddy serius? Theo tidak mau! Ngapain Theo jadi guru coba!" Ujarnya tak terima.
Tuan Davidson menghela nafasnya berat, karena dia tau bagaimana reaksi putranya ketika mendengarnya. "Come on son, ini adalah permintaan terakhir nenekmu. Dan sebagai cucu dari keluarga Davidson kamu harus mau! Lagipula kamu hanya dua tahun menjadi guru, itu tidaklah lama!" Tegasnya.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Theo.
"Daddy sudah menyuruh orang kepercayaan untuk mengurus cabang di London. Dan untuk perusahaan di sini kamu bisa sesekali memantaunya, karena Jo yang akan membantumu mengurus perusahaan." Jawabnya.
Tidak bisa menolak lagi, Theo pun mengiyakan permintaan ayahnya itu. Lalu Theo pun beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kamu?!" Tanya mommy Irene.
"Aku mau menemui teman lama." Ucapnya lalu pergi tanpa mendengar omelan yang keluar dari mommy nya.
Theo memasuki mobil dengan Jo yang mengemudikannya. Dirinya pun mengambil ponselnya lalu menghubungi seorang.
"Halo Brian, lo ada di kafe kan? Gw kesana sekarang." Ucapnya.
*
Kembali ke saat ini, pak Theo masih menatap wajah Eva yang tadinya pucat itu.
Sekelebat ingatan tentang pertemuan dengan siswinya itu sangat membekas di hatinya.
Masih teringat bayangan bagaimana dirinya pertama kali bertemu dengan Eva. Pertemuan pertama mereka karena sebuah insiden dimana Ponsel pintarnya dicuri rasanya itu seperti terjadi kemarin saja.
Flashback again.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kembali ke bab 6, mungkin kedepannya bakalan ada flashback dari Theo ☺️☺️
Jangan lupa
Like 👍
Komen 💬
gift
vote