
Keesokan harinya.
Di sebuah ruangan di salah satu perusahaan terbesar seseorang tengah menatap jendela besar yang memperlihatkan kehidupan di kota besar pada pagi hari. Orang itu terlihat menelpon seseorang dengan perasaan campur aduk.
📞 "Halo Mr? Ada yang-"
"Cek sampel rambut yang sudah aku kirimkan, aku mau hasilnya secepatnya. Bila perlu hasilnya harus sudah ada sore ini!" Ucapnya tegas.
Tidak dapat mengelak, orang yang ditelepon pun mengiyakannya.
📞 "Baik Mr!"
Panggilan pun terputus. Terlihat seseorang itu menghela nafasnya dengan sangat berat. Dirinya beranjak lalu duduk di sebuah kursi yang mana di atas mejanya terdapat tulisan CEO.
"Jika itu memang dia, maka aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskannya nanti. Aku harap dia mau memaafkan ku." Ujarnya.
*
*
Di sisi lain, Eva tampak menikmati jalan-jalan santainya sendiri tanpa didampingi oleh Theo suaminya. Tunggu, Eva tidak sendirian tapi dia dikawal oleh 2 orang bodyguard wanita yang senantiasa selalu berada di dekatnya. Jangan tanya kenapa bisa Eva dikawal seperti itu, ya pastinya karena suami posesifnya tidak ingin istrinya bepergian sendirian.
Bagaimanapun di setiap ruas jalan di Paris sangat rawan terjadinya tindakan kriminal seperti pencurian.
Saat ini Eva sudah tiba di depan sebuah museum yang terkenal yakni Musée Galliera. Musée Galliera, secara resmi dikenal juga dengan Musée de la Mode de la Ville de Paris (City of Paris Fashion Museum atau Kota Museum Mode Paris), merupakan museum mode dan sejarah mode yang berlokasi di 10, avenue Pierre 1er de Serbie, di distrikt ke 16 di Paris, Prancis. Museum ini buka setiap hari kecuali hari Minggu dan hari libur dimana untuk masuk ke dalam museum ini dikenakan biaya dan berbeda-beda tergantung dengan acara yang diselenggarakan di dalamnya. Museum ini tidak memiliki pajangan yang tetap karena adanya proses konservasi.
Tampak Eva berjalan sembari mengamati berbagai jenis pakaian hingga gaun yang terpajang di sana. Sungguh baju-baju itu sangatlah bagus dan mewah tak heran harganya sangat fantastis.
Seharian ini Eva sama sekali tidak puas mengunjungi satu museum mode. Terhitung Eva sudah mengunjungi 3 museum mode yang terkenal disana. Bak pepatah, menyelam sambil minum air. Eva berlibur sembari belajar.
Tepat pukul 3 sore waktu setempat, Eva saat ini berada di sebuah toko mewah. Didalamnya sudah berjejer berbagai jenis pakaian, tas, sepatu yang harganya tidak bisa dibilang murah. Sebenarnya Eva tidak ingin berbelanja barang-barang ini terlebih dahulu, namun suaminya justru menyuruhnya berbelanja menggunakan uangnya.
"Wow, bajunya sangat indah. Baiklah aku akan membeli 2 saja." Gumamnya. Eva mencoba beberapa baju dan sepatu. Tak lupa dirinya juga membeli beberapa tas. Setelah selesai mencoba, Eva menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya tak lupa dirinya juga menyerahkan sebuah black card pemberian Theo.
Eva keluar lalu menuju mobil yang tadi ditumpanginya. Sungguh mulut dan tindakannya sangat bertolak belakang, tadi dirinya berkata akan membeli beberapa pakaian tapi lihatlah hasilnya banyak tas kantong belanja memenuhi bagasi mobilnya. Setelahnya Eva pun pulang menuju apartemennya.
*
*
Saat ini Eva tengah memasak untuk makan malam dan menunggu suaminya mandi setelah beberapa saat lalu pulang dari bekerja. Tiba-tiba tangan kekar suaminya melingkar di perutnya membuatnya sedikit kaget. "Hubby?! Kenapa tiba-tiba peluk sih, nanti kalo tangan aku kena minyak gimana?!" Ujar Eva yang sedang menggoreng ikan.
Theo menunduk. "Maaf." Sesalnya. Lalu menunduselkan kepalanya di ceruk bahu Eva yang sangat cantik ketika menggunakan apron. "Sini aku bantu membawanya." Ujar Theo menawarkan bantuan saat Eva sudah selesai memasak dan menyajikannya di piring.
Setelah sedikit membersihkan dapur, Eva menuju ruang makan dimana suaminya sudah menunggunya. Dengan telaten Eva mengambilkan nasi beserta lauk sementara Theo menuangkan air ke dalam gelas. Makan malam itu tampak romantis ketika Theo melayangkan gombalan mautnya membuat Eva tersipu malu karenanya.
"Sayang, mungkin pekerjaanku akan lebih lama disini apa kamu tidak keberatan?" Tanya Theo.
Eva menggeleng. "Tidak, aku sangat senang berada di sini. Lagipula liburan semesterku 1 bulan, jadi aku akan puas bermain dan jalan-jalan disini." Jawab Eva.
Theo tersenyum. "Kau ingin ke sungai Seine?" Tanya Theo. Dan tanpa ragu diangguki oleh Eva.
"Kalau begitu tunggu sampai urusanku selesai hmm." Ujar Theo. Mereka pun melanjutkan sesi makan malamnya.
Seusai makan malam selesai, Theo membereskan piring yang ada di meja lalu membawanya ke wastafel lalu bersama Eva mencucinya. Sesekali mereka bermain air bak anak kecil.
*
Di ruang TV
Eva dan Theo saat ini tengah menikmati sebuah film dengan ditemani minuman dingin dan cemilan ringan. Namun, bel pintu rumah berbunyi menandakan ada orang yang bertamu.
"Siapa yang bertamu pada jam segini?" Tanya Eva melirik jam yang menunjukkan pukul 9.10 malam waktu setempat.
Theo bangkit dari duduknya. "Biar aku yang membuka pintunya." Ujarnya lalu menuju pintu depan.
Ceklek!
Diluar pintu Theo dikejutkan oleh kedatangan orang terpengaruh dan terkaya nomor 1. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Hanna, Tuan Davies dan Tuan besar Helios.
"Tuan Davies, Tante Hanna dan tuan Helios?" Theo tampak terkejut ketika mendapatkan kunjungan dari ketiganya.
Tiba-tiba Eva muncul dari belakang. "Hubby siapa yang datang?" Tanya Eva.
Dengan cepat, Tuan Davies masuk ke dalam lalu memeluk erat Eva seolah tidak ingin melepaskannya.
Greb!
"Eva, putriku!" Seru Tuan Davies.
Deg!
...Bersambung……...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan Lupa...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote...
...😘😘😘😘😘😘...