Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 40 - Tidak Mau Menerima Alasan




Eva pun sudah berada di dalam rumah sakit, lalu menuju ruangan dimana sang ibu dirawat. Kebetulan sekali baru saja dokter Indra selesai memeriksa kondisi sang mama.


"Permisi dok! Bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Eva.


"Kondisinya sekarang sudah lebih membaik dari tadi. Tapi saya menyarankan agar mama kamu segera diambil tindakan, supaya tidak beresiko nantinya." Ujar sang dokter.


Eva memejamkan matanya sejenak. "Tolong lakukan yang terbaik untuk mama saya, mengenai urusan biaya bisa saya carikan." Mohon Eva.


Dokter Indra tersenyum. "Kamu memang putri yang sangat berbakti. Tapi, kamu tidak usah memikirkan soal biaya, karena sudah ada yang membayarnya." Ujar dokter Indra.


Kebingungan, itulah yang dialami Eva. Biaya rumah sakit mama sudah dibayar. Lalu yang jadi pertanyaan siapa yang membayarnya? Karena sejauh yang dirinya tahu, sang mama sama sekali tidak memiliki saudara.


"Kalau boleh tahu, siapa yang membiayai biaya rumah sakitnya dok?" Tanya Eva.


"Maaf untuk itu, ini adalah privasi lagipula orang itu tidak ingin identitasnya diketahui. Dia hanya bilang bahwa dia membantumu dengan ikhlas. Kalau sudah tidak ada yang ditanyakan, saya pamit." Sahut dokter, lalu pergi setelah menjawab tuntas semua pertanyaan Eva.


*


Dihari itu juga Mama Eva menjalani operasi untuk kesembuhannya. Operasinya memakan waktu yang cukup lama, dikarenakan mama eva memiliki komplikasi penyakit.


Lalu yang terletak di atas pintu ruang operasi pun berubah warna yang mulanya berwarna merah menjadi hijau.


Dokter pun keluar dari ruang operasi ditemani asistennya, melihat itu Eva segera menghampiri sang dokter.


"Dok, bagaimana keadaan Mama saya?" Tanya Eva.


Dokter Indra pun menurunkan maskernya. "Keadaan baik, namun mama kamu perlu dirawat secara intensif. Tunggu sampai kondisi mama kamu stabil baru bisa ditemui di ruang rawat." Ujarnya.


Eva bernafas lega. "Baik, terimakasih dok." Ucapnya.


Dan setelahnya Dokter Indra pun berlalu dari hadapan Eva.


*


Empat hari sudah berlalu, saat ini keadaan Mama Eva sudah cukup membaik namun masih agak kesusahan dalam makan dan bergerak tidak leluasa.


Selama itu juga Eva menemani sang mama di sela-sela dia bekerja. Untung saja mamanya ditemani oleh seorang suster khusus yang akan membantu sang mama.


"E-Eva, sini nak." Ujar Mama Jesy kepada putrinya yang sedari tadi sibuk mengupas buah di sofa.


Perlu diketahui, mama Eva saat ini dirawat di sebuah ruangan VVIP, dan itu sudah dibayarkan oleh orang yang diam-diam membantunya beserta membayar suster pribadi.


"Iya ma, Eva udah bilang gak ikut." Ucapnya sambil menyuapi buah.


"Kenapa gak ikut hmm? Apa karena ngurusin mama?" Tanyanya. Dan dijawab dengan anggukan.


"Mama udah gak apa-apa sayang, kamu bisa pergi. Jangan jadikan kesehatan mama alasan untuk kamu tidak menikmati masa mudamu yang hanya terjadi satu kali dalam hidup. Asalkan kamu selalu nelpon mama dan kasih kabar itu sudah cukup." Ucapnya.


"Ta-tapi ma,,,"


"Shuut! Mama tidak mau menerima alasan lagi. Sekarang kamu pulang persiapkan apa yang perlu disiapkan. Lagipula mama disini sudah dijaga oleh suster kok. Kamu tenang aja." Mama Eva menyakinkan Eva.


Eva menghela nafasnya, sangat sudah bila berdebat dengan sang mama. Karena sang mama memiliki sifat keras kepala.


"Oke deh kalo mama maksa, inget ya kalo Eva telepon mama cepet jawab gak boleh telat." Ujarnya.


"Iya, putri mama bawel deh." Ucapnya.


Eva pun beranjak dari tempatnya lalu mengambil tas selempang nya yang terletak di atas sofa. Lalu pulang ke rumahnya menyiapkan barang keperluan yang akan dibawanya liburan dua hari satu malam di sebuah taman di dekat bukit.


*


*


Dua hari pun berlalu, saat ini Eva, Mitha dan Grace tengah berada di sekolah dimana beberapa bus sudah berjejer ingin mengangkut para siswa yang akan liburan. Eva pun tadi sudah berpamitan dengan sang mama dan mewanti-wanti mamanya agar selalu menghubunginya.


Tiba-tiba seseorang yang kehadirannya sangat tidak dinantikan datang menghampiri Eva dan kedua sahabatnya.


"Well, Eva si kaum udik juga ikutan?" Tanya seorang gadis dengan angkuhnya.


Bersambung……


...Udh Up 2 Bab...


...Jangan Lupa loh...


...Like 👍...


...Komen 💬...


...Vote...


...Gift nya ye 😗...