Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 89 - Sudut Pandang



Beberapa hari kemudian.


Akkkhh!!


Di Sebuah kamar yang didominasi dengan warna putih dan gold, terdapat sepasang pasutri yang sedang mengembara guna mencapai indahnya nirwana.


Tampak seorang laki-laki yang seakan pasrah akan perlakuan perempuan yang saat ini sedang bermain di atasnya. Bahkan keduanya sudah polos tanpa adanya helai benang yang menutupi keduanya. "Sayang~ kau semakin agresif ya sekarang akhhh!" Ucap Theo tertahan ketika istrinya menciiiium dan menjiiilat daun telinganya dengan senssual.


"Sabar honey, ini masih belum ke inti permainan." Ujar Eva yang masih setia membuat Theo tak bisa berkutik dan hanya bisa berpasrah dibawah kungkungan nya.


"Sayang~ biarkan aku yang akhh! Diatas ya?" Tanya Theo dengan wajah memelasnya.


Eva menggeleng. "No! Kali ini biarkan aku yang memimpin permainan, kamu hanya perlu menikmatinya saja." Ujar Eva. Lalu ci*m*hanya turun ke bibir lalu ke leher. Memang dia melakukan semua ini karena merasa bersalah kepada suaminya, karena dia terlalu larut akan pikirannya sehingga mengabaikan suaminya selama beberapa hari.


Puas bermain di bagian atas tubuh suaminya, Eva lalu mengarahkan sesuatu yang sudah tegak namun bukan keadilan menuju gua antah berantah. Disaat terasa semuanya sudah masuk sempurna suara pekikan keduanya terdengar dengan sangat nyaringnya. "Akkkhh!!"


Untuk sesaat Eva mendiamkannya sementara lalu tak lama dia menggerakkannya dengan tempo pelan. Namun, lama-lama Eva menaikkan temponya membuat Theo frustasi bukan main. "Sayang~ kamu akkkhh!"


Eva tersenyum melihat Theo yang seakan sudah pasrah dengan perlakuannya. Keduanya berpacu untuk menggapai kenikmatan yang hakiki. Namun, sedikit lagi mereka akan mendapatkan pelepasannya, Eva justru terlihat melambatkan temponya. "Emh~ aku capekh~." Ucap Eva dengan suara de*a*nya. Bagaimana tidak sudah beberapa menit di atas sana membuatnya sedikit kelelahan menggerakkan pinggulnya.


Mengerti, Theo memegang kedua sisi pinggang istrinya lalu naik-turun kannya dengan perlahan. "Sayang~, kamu sangat hebat akkhh! Juga sangat cantik dari bawah sini~." Theo memuji istrinya. Dan tak lama mereka pun mendapatkan pelepasannya. Eva ambruk tempat di atas tubuh suaminya dengan deru nafas yang tidak teratur.


Tanpa melepaskan penyatuannya, Theo membalikkan posisinya. Membuat Eva sedikit kaget. "Ka-kamu mau a-apa?"


"Melanjutkan apa yang seharusnya dilanjutkan sayang. Sekarang nikmati permainan dariku." Sahut Theo dengan kabut gairah yang sudah menguasai dirinya.


Glek!


Eva hanya bisa berdoa dan berpasrah sekarang. Karena bagaimanapun suaminya memiliki stamina yang sangat kuat sehingga mampu melakukannya berjam-jam lamanya. Walaupun begitu, Eva tetap saja tidak mengelak dan malah menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Theo.


Suara-suara surgawi saling sahut bersahutan di ruangan dimana kedua pasutri tersebut kembali ingin merengkuh indahnya dunia bersama. Saling menatap dan bersatu.


*


*


Keesokkan harinya.


Theo dan Eva tampak saling berpelukan di atas kasur empuk dengan selimut tebal yang membalutnya agar tidak kedinginan. Walaupun sudah jam 9.30 pagi waktu setempat, mereka seolah tidak berniat untuk bangkit dari keseruan bunga tidurnya.


Mata Theo mengerjap pelan disaat dirasa kamar tempat mereka beristirahat tampak terang padahal semalam semua lampunya sudah dimatikan.


Setelah sadar sepenuhnya, Theo menatap istrinya yang masih bergelut di alam mimpinya. "Cantiknya istriku." Gumam Theo sembari menoel-noel pipi Eva. Mendapatkan perlakuan seperti itu hampir saja Eva terbangun dari tidurnya. Tak mau mengganggu, Theo memilih membersihkan diri ke kamar mandi lalu keluar menuju dapur untuk membuat sarapan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, sang asisten Jo meneleponnya.


"Halo Jo, ada apa?" Tanya Theo.


📞 "Halo tuan, apakah urusan anda sudah selesai di sana? Disini ada sedikit kendala dan membutuhkan kehadiran anda tuan." Ujar Jo to the point karena tau bosnya itu tidak suka berbasa-basi.


"Urusanku disini sudah selesai, aku akan kembali dua hari lagi. Jadi, selama itu tolong urus perusahaan." Sahut Theo.


📞 "Baik tuan." Akhirnya Jo mematikan panggilannya.


Dari arah tangga, Eva datang menghampiri Theo yang sedang menyajikan makanan diatas meja makan. "Suamiku, kamu membuat sarapan apa?" Tanyanya.


"Kau sudah bangun hmm, duduklah. Aku sudah memasak spaghetti dan beberapa hidangan penutup." Ujar Theo lalu menarik kursi untuk Eva duduk.


"Terimakasih."


Lalu Theo pun duduk tepat di hadapan Eva. "Dua hari lagi kita akan pulang." Ucapnya.


"Kenapa pulang cepat? Bukankah urusan yang disini belum selesai?" Tanya Eva.


"Ada sedikit masalah di perusahaan sehingga mengharuskan ku untuk kembali. Tapi sebelum kita pulang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat nanti malam." Ujarnya Theo.


"Kemana?" Tanya Eva.


"Rahasia." Ujar Theo menggoda istrinya.


Mendengar itu, Eva justru kesal mencebikkan bibirnya karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


Theo menatap Eva yang sedang kesal dan pasti itu karena ulahnya. "Sayang ngomong-ngomong bagaimana dengan perasaanmu saat ini?" Tanya Theo hati-hati.


"Entahlah, aku masih sedikit ragu. Disatu sisi dia adalah ayahku, sementara disisi lain dia adalah orang yang secara tidak sadar menyebabkan ibu meninggal. Aku masih sedikit bingung dengan kondisi saat ini." Ujar Eva.


"Kamu tahu, tidak seharusnya kamu melihat atau menyelesaikan masalah dari satu sisi. Menurutku ayahmu melakukan hal itu karena situasi dan takdir yang tidak mendukungnya. Coba lihat dari sisi ayahmu, ketika mendapati ibumu hilang dia sangat berusaha keras untuk menemukan kalian bukan. Aku bukan bermaksud membela siapapun disini, ini hanyalah sudut pandang ku." Theo memegang tangan Eva memberinya sedikit pengertian.


Sementara Eva hanya mengangguk mengerti, menimang kembali ucapan Theo.


Bersambung…..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Uhuk, Last 😌...