
Beberapa saat sebelumnya Theo yang masih berada di ruangannya di sekolah mendadak mendapatkan telepon dari anak buahnya.
"Ada apa?" Tanyanya.
📞 "Begini tuan, kami kehilangan jejak nona Eva." Ujar bawahannya to the point.
Theo yang kaget refleks berdiri dari duduknya. "Apa?! Bagaimana bisa?! Bagaimana kalian bekerja hah?!" Sentaknya.
📞 "Maafkan saya sebelumnya tuan, tapi setelah makan siang tiba-tiba nona mendapatkan telepon dan langsung berlari menaiki taxi dan kami kehilangan jejak." Ujarnya.
Theo langsung memutuskan sambungan teleponnya lalu mengambil kunci mobilnya tujuannya saat ini adalah mengecek ke rumah Eva dan rumah sakit dimana kedua tempat tersebut lah yang paling sering Eva kunjungi.
Namun, baru saja Theo sampai di parkiran Jo asisten pribadinya menghampirinya. "Tuan anda mempunyai dokumen yang harus ditandatangani." Ujarnya.
"Aku tidak bisa sekarang Jo, aku harus mencari keberadaan Eva saat ini. Kendarailah mobil ini." Ucap Theo lalu melempar kunci mobilnya kepada Jo.
Tak bisa menolak Jo pun duduk di kursi kemudi, dia siap melakukan apapun untuk tuannya meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk di perusahaan karena tuannya masih berada di sekolah.
Theo pun sudah mencari keberadaan Eva di rumah maupun rumah sakit yang biasa dikunjunginya namun, nihil Eva sama sekali tidak berada di dua tempat tersebut. Theo pun membuka ponselnya lalu memantau GPS yang terpasang di ponsel Eva. Bodohnya dia karena terlalu khawatir dan tergesa-gesa sampai dirinya lupa sudah memasang GPS di ponsel milik Eva.
Saat melihat GPS milik Eva sama sekali tidak berfungsi dan hanya menampilkan tempat terakhir yang dikunjungi gadis itu. dan membuatnya semakin frustasi.
Dia pun pergi kesana kemari ke berbagai tempat yang menjadi kemungkinan Eva datangi.
*
Kembali ke saat ini.
Theo dan Jo segera meluncur ke rumah Eva. Melihat langit yang gelap gulita dengan suara petir yang terdengar, perasaannya menjadi tidak karuan, seolah pikiran buruk terbesit di otaknya. Apakah gadisnya baik-baik saja? Apakah dirinya sudah makan? Semoga saja dia tidak melakukan hal yang ceroboh. Begitulah isi pikiran Theo.
Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya dirinya bersama Jo sampai di rumah minimalis tersebut. Mata Theo mengedar menatap keadaan rumah tersebut yang terasa kosong bahkan lampu pun tidak dinyalakan disaat hari sudah malam. Theo mendekati pintu rumah lalu memencet bel disamping pintu.
Ding dong!
Ding dong!
Tidak ada sahutan, namun Theo tetap membunyikan bel. "Siapapun itu jangan ganggu aku, aku sama sekali tidak ingin bertemu siapapun!" Teriak Eva dari dalam rumah.
"Eva? Apa kau ada dirumah?" Tanya Theo yang masih berada di luar.
Eva yang masih menangis pun diam ketika mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya. 'Kenapa? Kenapa, disaat keadaanku seperti ini pak Theo selalu ada? Kenapa?' batinnya.
Theo pun mencoba membuka pintu, baru didorong olehnya sedikit pintu itu pun terbuka. Theo berjalan ke dalam dan mendapati Eva yang sedang duduk memeluk lututnya di atas sofa. Penampilannya sangat memprihatinkan, rambutnya yang kusut dan foto mamanya yang berserakan di sekitarnya.
"Eva?" Theo mendekati Eva.
"Jangan! Hiks…. Jangan mendekat! Aku tidak mau bertemu dengan siapapun! Hiks…. Termasuk bapak!" Isaknya.
Theo duduk disamping Eva yang masih sesenggukan. "Coba tenangkan dirimu, saya tidak suka jika kamu menangis." Ujarnya.
Tidak ada sahutan. Theo pun mengambil salah satu foto Eva bersama ibunya yang berserakan di atas lantai. "Kau sangat cantik dengan senyuman mu ketika masih kecil." Ujarnya.
"Padahal aku sudah menjadi anak baik dan penurut bahkan aku tidak pernah meminta apapun kepada mama. Hiks…. Kenapa? KENAPA?!" Teriknya emosi lalu melempar vas bunga yang berada di atas meja hingga pecah berkeping-keping.
"Eva!! Jangan sakiti dirimu!" Ucap Theo lalu memeluk erat tubuh mungil Eva dengan tangis nya yang belum juga berhenti.
"Mama pembohong hiks…. Aku ditinggal sendirian di dunia ini tanpa siapapun." Lirihnya di dekapan pak Theo.
Theo masih di posisinya memeluk erat Eva sambil mengelus punggung dan kepalanya dengan lembut.
*
Tak terasa sudah satu jam lebih Theo menemani Eva menangis. Theo pun menatap wajah Eva yang sekarang ini sudah sedikit lebih tenang dari tadi.
"Saya sudah merasa lebih baik pak, terimakasih karena sudah menemani saya. Maaf sudah membuang-buang waktu untuk menemani saya bersedih. Sebaiknya bapak pergi sekarang saya sudah baik-baik saja." Ujarnya.
'Aku tidak ingin merepotkan pak Theo, aku harus belajar hidup mandiri sendirian sekarang.' batin Eva.
Namun, bukannya menuruti kemauan Eva, Theo malah memasangkan jasnya di pundak Eva. Sontak gadis itu pun terkejut lalu menatap pak Theo. "Pulanglah bersamaku." Ujar pak Theo.
"Sekarang ini izinkan aku menjagamu dan melindungimu. Jadikan aku rumah tempat dimana kamu pulang dan berkeluh kesah. Kamu tidak sendirian, ingat kamu masih ada sahabat dan juga aku yang akan melindungimu." Lanjutnya lagi.
"Tapi, pak bagaimana saya bisa tinggal bersama bapak?" Tanya Eva dengan suara pelan.
Theo bangkit lalu mengajak Eva berdiri. "Sekarang gantilah bajumu, aku akan menikahimu sekarang juga." Ucap pak Theo.
Deg!
"Aku tidak main-main, aku tidak ingin kau sendirian seperti ini. Jadi izinkan aku menikahimu. Maukah kau menikah denganku?" Tanya Theo memastikan.
Eva mengangguk menyetujui ajakan Pak Theo. Saat ini perasaannya masih kalut, namun entah sihir apa yang digunakan pak Theo membuat dirinya selalu saja tidak tahan akan pesona guru killer nya itu.
Bersambung……
...****************...
...Teater kecil pak Theo...
Othor: Main nikah aja pak, kenapa gak pacaran aja dulu?🤔
Theo: Pacaran hanya untuk orang lemah! Langsung nikah aja gaskan! Gak kayak othor gak punya pacar, mana sering halu sama karakter 2D.😌
Othor: Ni anak minta digeplak 😤🙄
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah loh ya, inget like nya😘