
Dion pun tidak dapat berkutik bila berhadapan dengan Yoga, bagaimana tidak Ayah Yoga merupakan salah satu sponsor yang ikut menyumbang di universitas tersebut. Dan karena itu, walaupun dirinya berkuasa karena posisi ayahnya, dia sama sekali tidak bisa menyinggung Yoga.
"Ck!" Dion berdecak kesal lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Yoga berbalik lalu menatap kedua wanita yang penting dalam hidupnya. "Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Yoga.
"Tidak." Sahut Eva sementara Mitha hanya menggeleng pelan. Yoga menghela nafasnya pelan.
"Yoga, Mitha, ini sudah waktunya pulang, suamiku sebentar lagi akan sampai. Aku pergi duluan ya." Eva berpamitan.
"Ya, hati-hatilah." Sahut Yoga. Eva pun berjalan menuju pintu gerbang.
Sedikit informasi, Yoga, Mitha dan Eva bersekolah di universitas yang sama hanya saja berbeda jurusan. Eva jurusan tata busana, Yoga jurusan bisnis dan Mitha jurusan hukum. Dan kenapa mereka bisa bertemu berbarengan walaupun beda jurusan itu karena saat ini masih hari pertama kuliah sehingga masih ada sedikit penyesuaian.
Yoga menatap Mitha setelah melihat kepergian Eva. "Kau tidak apa-apa? Tidak terluka kan?" Tanya Yoga.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku!" Ujar Mitha lalu hendak pergi. Namun, tanpa aba-aba atau pemberitahuan sebelumnya Yoga menarik pergelangan tangan Mitha dan membawanya menuju kursi taman terdekat. "Hei, kau mau membawaku kemana?!"
Yoga sama sekali tidak menyahut dan tetap berjalan tanpa memperdulikan Mitha yang berontak. Dan setelah sampai di kursi taman Yoga mendudukkannya di kursi lalu Yoga berjongkok menaruh tangannya di sebelah kanan dan kiri paha Mitha.
"Aku baru tahu kau sangat-sangat pemberani dibalik sikapmu yang cuek dan pendiam." Ujar Yoga menatap manik mata indah Mitha.
"Aku akan berani dan bersikap tegas bila tempat dan suasananya mendukung untuk berani. Aku akan bersikap seperti itu jika aku merasakan ketidakadilan. Lagipula aku sama sekali tidak ingin tahu dan ikut campur dengan urusan orang lain." Sahut Mitha.
Yoga tersenyum. "Ya kau benar, sosok mu yang seperti ini membuatku semakin jatuh cinta padamu." Ujar Yoga
"Bisakah kau berhenti mengejar ku? Apakah kau tidak lelah dengan penolakan ku?" Tanya Mitha.
Yoga memegang kedua tangan Mitha. "Aku tidak akan lelah mengejarmu. Akan aku buat kau menerimaku suatu saat nanti. Aku akui kamu bukanlah cinta pertamaku tapi akan ku pastikan kamu hanya akan menjadi cinta terakhirku." Ucap Yoga sungguh-sungguh.
Walaupun sudah berucap serius, nyatanya Mitha sama sekali tidak menanggapi ucapan Yoga. Mitha memilih berdiri lalu pergi meninggalkan Yoga yang masih berada di sana. Sementara Yoga hanya diam menatap Mitha yang semakin jauh dari pandangannya, otaknya seolah berpikir keras bagaimana caranya meluluhkan Mitha yang saat ini sudah berhasil meluluhlantakkan isi hatinya.
*
*
Di depan gerbang, Eva sedang menunggu jemputan sang suami. Tak lama, senyum Eva mengembang tatkala melihat sebuah mobil mewah yang dikenalnya datang dan berhenti tepat di depannya. Kaca mobil mewah itu turun lalu memperlihatkan wajah tampan nan rupawan milik seorang pria. Pria itu turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil satunya untuk Eva istrinya.
"Terimakasih Hubby." Eva tersenyum manis setelah suaminya itu masuk ke dalam mobil.
Theo hanya tersenyum lalu menyalakan mobilnya dan langsung bergerak membelah padatnya jalanan. "Bagaimana hari pertama kuliahmu?" Tanya Theo.
"Hmm, lumayan baik. Mungkin ada sedikit penyesuaian dalam belajar karena kuliah dan saat belajar saat SMA sangatlah berbeda. Aku juga mendapat beberapa teman baru." Eva bercerita apa yang dialaminya di hari pertamanya kuliah.
"Baguslah, berarti kamu nyaman kuliah disini." Ucap Theo lembut dengan tangan kirinya menggenggam tangan kanan Eva dan tangan kanannya satunya digunakan untuk mengemudi.
"Hubby? Apakah kamu tidak ada pekerjaan?" Tanya Eva.
"Begini, jika kamu sibuk bekerja kenapa tidak menyuruh supir untuk menjemput ku. Maksudku aku takut merepotkan dan mengganggu mu bekerja hanya untuk menjemputku." Ujar Eva.
Saat ini mobil yang dikendarai Theo berhenti karena lampu lalu lintas sedang berwarna mewah. "Kamu sama sekali tidak merepotkan ku sayang. Lagipula sebanyak apapun pekerjaanku, jika ada urusan denganmu aku akan prioritaskan dirimu terlebih dahulu. Dan juga, sudah ada Jo yang menghandle pekerjaan di perusahaan." Ujar Theo. Membuat Eva tersebut senang.
"Apa kamu sudah makan siang? Kalau belum ayo kita pergi makan siang." Lanjut Theo.
Eva menggelengkan kepalanya. "Maaf, tapi bisakah kita memesan makanan saja? Beberapa saat lagi aku ada perkuliahan secara daring." Sahut Eva.
"Of course! Everything for you." Ucap Theo lalu mengecup punggung tangan sebelah kanan Eva yang sedari tadi digenggamnya.
*
*
Sementara di sisi lain seorang laki-laki dengan arogannya menendang sebuah tong sampah sampai membuat isinya berserakan dimana-mana. "Sialan! Berani sekali tuh dua cewek sama gue! Mana si bocah Hendrawan itu sangat menyebalkan!" Kesal Dion.
Ya, yang sedari tadi mengamuk adalah Dion.
"Bos, kenapa suka sekali mengganggu anak baru bernama Eva itu?" Tanya salah satu temannya.
"Benar bos, dia sama sekali tidak istimewa!"
"No, she's a very different girl than any other girl I've met. Entahlah sepertinya aku merasakan desiran aneh ketika melihatnya. Dia adalah gadis yang unik." Ujar Dion dengan senyum tipis terlukis di wajahnya.
(Translate: Tidak, dia adalah gadis berbeda dari gadis-gadis yang selama ini aku temui)
Kedua sahabatnya pun serentak berkata. "Wow! Don't tell me you're in love right now?" (Translate: Wow! Jangan bilang saat ini kamu sedang jatuh cinta?)
"I think…."
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan Lupa ...
...Like...
...Komen...
...Gift...
...VOTE WEE INGET SENIN 😗😌...