Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 72 - Bukti



Setelah pernyataan cinta yang membuat gempar satu sekolah, saat ini Eva dan Theo bak pengantin karena mendapatkan ucapan selamat yang mengalir dari para guru dan teman-teman Eva. Dan setelahnya Theo dan Eva menuju ke tempat dimana sedikit orang yang datang ke sana.


"Hubby, bagaimana kau bisa menyiapkan hal seperti ini?" Tanya Eva.


Theo tersenyum. "Aku sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sayang." Lalu mengecup kening Eva.


Tiba-tiba Eva yang terlihat bahagia seketika menjadi murung. "Andai saja, mama masih ada dan melihatku disini." Ucapnya kelu.


"Hey, kenapa kamu menangis hmm? Lihatlah wajahmu yang cantik jadi jelek kan." Ucap Theo menghibur istrinya yang tiba-tiba meneteskan air matanya. "Sudah, jangan nangis lagi ya, inget masih ada aku loh." Lanjutnya lagi.


"Benar kata Theo." Ucap seseorang dengan suara berat dari arah lain yang mendekati mereka.


"Mom! Dad?! Kalian ada di sini?" Tanya Theo.


Mommy Irene mendekati putra dan menantunya. "Apa kamu? Apa kami tidak boleh datang dan memberikan selamat kepada putriku?" Ucapnya dengan tatapan tajam menghusus ke arah Theo.


Eva pun berhambur memeluk mommy Irene, karena ibu mertuanya sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. "Jangan menangis lagi ya putri mommy, kalau kamu merindukan mamamu, kamu bisa datang mencari mommy." Ujarnya menenangkan Eva. Sementara Eva mengangguk memeluk erat ibu mertuanya itu.


Eva begitu bersyukur karena diberikan suami serta mertua yang sangat baik dan sayang kepadanya.


Setelah sesi mengharukan itu, mereka berempat pun berfoto untuk kenang-kenangan hari kelulusan Eva.


*


Di tempat lainnya, tampak seorang gadis dengan wajah datarnya menatap siswa yang sedang berfoto dengan orang tua dan orang terkasihnya. Dan itu sangat bertolak belakang dengannya, yang saat ini sedang duduk disebuah bangku sendirian.


Tadi setelah acara selesai, kedua orang tuanya sudah menyempatkan datang ke acara kelulusannya, mengucapkan selamat dan berfoto sebentar lalu kembali lagi bekerja. Karena tidak dipungkiri, pekerjaan ayahnya yang sebagai pengacara tidak mengizinkannya libur bersama keluarganya. Sementara ibunya kembali bekerja.


"Huft! Sendirian lagi deh, si Grace lagi sama ortunya dan Eva sama suaminya. Hah….." ucap Mitha menghela nafas panjang.


Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya lalu memberinya sepucuk bunga mawar merah kepadanya. "Selamat atas kelulusanmu." Ucap seseorang yang tak lain adalah Yoga.


"Kau!" Mendelik tajam menatap yoga di sampingnya.


Yoga tersenyum menatap gadis berwajah datar di depannya. "Ada apa? Kamu tidak suka bunganya?" Tanya Yoga.


"Bukan begitu, tapi kenapa akhir-akhir ini kau selalu mendekatiku? Seperti ada udang dibalik batu." Tanya Mitha menatap Yoga.


Sementara Mitha menyunggingkan senyumnya, namun bukan senyum tulus tapi senyum meremehkan. "Benarkah? Atau kau hanya tertarik sekilas lalu akan berakhir seperti yang lainnya. Atau mungkin kau hanya tertantang untuk menaklukkanku, karena bagimu aku adalah gadis yang sedikit berbeda bukan? Sifat dasar manusia memang seperti itu, semakin sulit ditaklukkan maka semakin besar hasrat untuk memilikinya. Kau tau aku tidak akan percaya apapun yang terlontar dari mulutmu. Sekalinya playboy maka akan tetap seperti itu!" Ucapnya.


"Tak bisakah kamu melupakan masa laluku? Orang yang bersalah bukankah berhak mendapatkan kesempatan yang lain? Tolong berikan aku kesempatan untuk mengejarmu dan menyakinkan mu bahwa perasaanku ini tulus dan suci." Mohon Yoga.


Mitha segera berdiri. "Terserah padamu!" Ucap Mitha lalu meninggalkan tempat dimana Yoga masih berada di sana.


"Akan ku buktikan padamu bahwa perasaanku ini sangat tulus padamu! Akan ku yakinkan dirimu!" Teriak Yoga kepada Mitha yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Yoga memejamkan mata sekilas. "Mungkin ini adalah karmaku karena selalu mempermainkan perasaan para gadis. Dan sekarang ketika aku benar-benar jatuh cinta dan menginginkan seorang gadis begitu susah aku gapai. Hah…. Tapi aku tidak akan menyerah! Akan ku taklukkan dirimu gadis berwajah datar milikku!" Gumamnya.


Bagaimana tidak Yoga mendapatkan karma saat ini? Dulu dia selalu saja menyia-nyiakan perasaan semua gadis yang jatuh cinta kepadanya dan sekarang pertama kalinya ditolak oleh seorang gadis. Karena biasanya para gadis lah yang berhamburan mendekatinya.


*


*


Keesokan harinya, Eva saat ini baru pulang dari bandara setelah mengantar Grace untuk terakhir kalinya. Terasa berat baginya karena dari dulu mereka akan selalu bersama dan kehilangan salah satu untuk menempuh pendidikan sangatlah berat.


"Kamu sudah pulang rupanya, apa kamu sudah makan?" Tanya Theo yang sedari tadi duduk di ruang tamu mengerjakan pekerjaannya.


Eva dengan cepat memeluk Theo, guna menenangkan hatinya. Berada di pelukan suaminya, suasana hatinya menjadi sedikit lega. "Ada apa hmm?" Tanya Theo mengelus surai lembut istrinya. Eva menggeleng sebagai jawaban.


"Hubby! Aku ingin kuliah!" Ucap Eva tiba-tiba.


"Kamu sudah memikirkan akan mengambil jurusan apa? Kalau belum, kamu bisa memikirkannya dulu." Ujar Theo.


Eva mengangguk. "Aku sudah memikirkannya!" Ucap Eva dengan wajah yang terlihat serius dan yakin akan ucapannya. Theo yang melihatnya pun hanya bisa mengiyakan apa yang akan menjadi keinginan istrinya itu.


Bersambung…….


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like, Komen Vote🔪