
Masih di rumah sakit.
Masih teringat bayangan bagaimana dirinya pertama kali bertemu dengan Eva. Pertemuan pertama mereka karena sebuah insiden dimana Ponsel pintarnya dicuri rasanya itu seperti terjadi kemarin saja.
*
Flashback
Waktu itu dirinya sedang dalam perjalanan menuju kafe milik temannya. Namun di perjalanan dirinya melihat sebuah kios dengan deretan sepatu memenuhi etalasenya. Theo berniat ingin membawakan sahabatnya buah tangan, karena setelah sekian lama akhirnya mereka bertemu.
Theo pun masuk lalu memilih sepatu yang sesuai dengan selera sahabatnya. Setelah selesai membayar tagihan, dirinya pun keluar namun, kejadian yang tidak disangka-sangka menimpanya.
Ponsel pintar yang diletakkan di saku kanan jasnya tiba-tiba dirampas oleh pencuri kecil bahkan pencuri itu tidak memberinya celah untuk mempertahankan barangnya itu.
Theo berniat ingin mengejar pencuri kecil itu, namun Jo yang ditugaskan sebagai asisten pribadinya dengan sigap berlari sembari berteriak.
"Hey! Pencuri kembali kau!!" Teriak Jo membuat seisi jalanan menjadi kaget.
Namun, seorang gadis dengan memakai seragam menghentikan pencuri kecil itu. Menghadangnya bahkan mereka berdua sampai terjatuh. Gadis itu pun bangkit lalu membantu pencuri kecil itu.
Sementara Theo dengan sigap menuju mobil dan mengambil kotak obat. Sembari mencari kotak obat, dirinya melihat interaksi antara gadis itu dengan pencuri kecil itu.
"Dek, lain kali jangan mencuri ya. Mencuri itu gak baik loh, di handphone yang kamu pegang itu pasti ada file penting." Ujar gadis itu menasehati anak kecil tersebut.
Suara yang begitu lembut masuk ke telinganya, membuat Theo memejamkan matanya sejenak. Lalu mendengarkan interaksi selanjutnya antara mereka berdua.
Disela Theo mendengarkan suara lembut dan halus bak bidadari itu masuk ke telinganya, Jo tiba-tiba saja berteriak membuat lamunannya buyar seketika.
Pandangan mata Theo pun menelisik wajah dan baju yang dipakai gadis itu sebelum menghilang. "Heh, menarik." Gumamnya. "Wajahnya sangat cantik dan sikapnya juga baik." Gumamnya lagi.
Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Jo sudah berada di dalam mobil lalu menyerahkan ponsel milik tuan mudanya. "Tuan, ini ponsel anda. Gadis itu membantu kita menangkap pencuri kecil itu." Ujarnya.
Sementara Theo hanya diam, mencari kemana hilangnya gadis itu. "Gadis itu sangat baik. Sepertinya dia masih SMA, aku lihat dari logo bajunya sepertinya dari Star International High School." Oceh Jo yang tanpa sadar menarik perhatian Theo yang sedari tadi menatap kaca jendela.
Theo pun menyeringai tipis, bahkan tidak bisa dilihat oleh siapapun juga.
*
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Theo berangkat ke Star International High School dan akan bertugas di sana sebagai guru kimia. Theo pun berjalan di lorong dimana hanya terlihat beberapa murid yang masih diluar karena jam masuk kelas sudah berbunyi.
Bruk!
Tiba-tiba saja dirinya diseruduk dari belakang oleh seseorang bahkan buku dan beberapa barangnya pun tercecer berserakan dimana-mana.
"Auch!" Isss sakit." Lirih gadis yang menabraknya. Theo pun menatap gadis itu, suaranya sama seperti gadis yang kemarin ditemuinya.
Theo ingin sekali berkenalan dengannya namun, dia sadar sekarang ini dirinya akan menjadi pengajar. "Kalau jalan lihat pakai mata! Sudah tahu ini lorong masih juga lari-lari." Ucapnya sedikit marah namun, didalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri.
"Hei! Malah bengong lagi. Kalau mau bengong jangan disini, menghalangi jalan saja!" Ucapnya Theo ketus, agar gadis itu tersadar dari lamunannya dan agar tidak membuatnya salah tingkah.
Gadis itu tersadar lalu berdiri dari duduknya. "Maafkan saya, karena tidak lihat-lihat ketika berjalan." Ucapnya sedikit membungkuk.
"Ck!" Theo berdecak kesal. Namun, percayalah dia sama sekali tidak ingin melakukan hal itu. (Jaga image🤭).
Mendengar permintaan maafnya hanya ditanggapi dengan decakan membuat gadis itu pun sangat kesal. "Hei, tuan saya sudah minta maaf ya. Setidaknya jawab kek, balah cak cek cak cek kayak cicak!"
Theo pun pergi setelah mendengar gadis itu yang berbicara padanya. "Kenapa ketika dia marah kelihatan sangat imut? Ingin sekali aku memeluknya lalu…. Akhhh rasanya aku hampir gila memikirkannya." Batinnya.
Gadis itu pun menatap kepergian laki-laki itu dengan tatapan cengo. "Heh, malah pergi. Kalo ngasih tau yang lembut dikit lah, ngomong udah kayak iklan Lifebuy aja, jangan lari-lari." Gerutunya sambil berjalan.
Sementara Theo berbalik sembari menatap gadis yang sudah menjauh dari pandangannya. 'Labil, namun aku suka.' batinnya berucap. Lalu berjalan dengan senyum merekah menuju ke ruangan kepala sekolah untuk mengurus beberapa keperluan.
*
Setelah mengurus keperluan untuknya menjadi guru, Theo pun diarahkan untuk mengajar di kelas XI MIPA 1. Baru saja dirinya masuk ke kelas, namun bisik-bisik para murid lebih dominan terdengar.
"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Theo Davidson, guru kimia baru kalian menggantikan Bu Luna." Ujar Theo memperkenalkan diri.
Seluruh siswa hanya berbisik kecil, ada yang menatapnya dengan berbinar, penuh tanda tanya dan ada yang menatapnya acuh seakan tak peduli dirinya ada atau tidak.
"Aishhhh, mengajar menjadi guru tidaklah mudah. Lihatlah aku ditatap segitunya, aku bahkan gugup, aku tidak pernah segugup ini sebelumnya. Bahkan ketika menunggu kerjasama senilai 1 triliun dengan perusahaan lain." Theo membatin.
Theo pun memulai interaksi sebelum memulai pembelajaran dengan mempersilahkan para siswa bertanya kepadanya.
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa
Like 👍
Komen 💬
Vote
Gift.
...****************...
Btw kemungkinan 2 hari kedepan gak bisa up, sibuk banget Minggu ini ada acara kampus, tapi aku usahain up deh #KaloSempet 😬😬