
Paris, Malam hari
Di tepi sungai Seine.
Theo menutup kedua mata istrinya karena ingin memberikan kejutan kepada Eva istrinya. Sungguh sangat beruntung sekali Eva memiliki suami yang perhatian dan tulus mencintainya." (aku mau juga 😌)
"Sayang, kita sudah berjalan cukup lama? Apakah tempatnya masih jauh?" Tanya Eva yang penasaran.
Theo tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Eva yang tingginya hanya sebahunya. "Sebentar lagi kita sampai."
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sisi sungai dengan sebuah kapal pesiar yang cukup mewah berlabuh tepat di depan mereka. Theo merenggangkan tangannya yang menutupi netra Eva. Sementara si empunya perlahan mengerjapkan matanya perlahan membiarkan bias cahaya memasuki kornea matanya secara perlahan.
Tiba-tiba Eva menutup mulutnya dengan tangannya, rasa senang, bingung dan haru bercampur jadi satu. "Sangat indah, apakah kamu yang mempersiapkannya?" Tanya Eva kepada Theo.
Theo mengangguk. "Aku hanya meminjam ini di perusahaan saja." Sahutnya.
"Jadi, kapal ini milik kamu?" Eva tampak belum bisa mempercayainya. Theo kembali mengangguk.
Perlahan Theo menuntun Eva memasuki kapal pesiar mewah tersebut. Tampak beberapa pegawai kapal tersebut menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramahnya.
Kapal pesiar itu dibagi menjadi 2 tingkat, dimana di lantai atas khusus untuk menikmati pemandangan di udara terbuka. Sedangkan di lantai bawah tempatnya lebih tertutup sehingga tidak terlalu dingin dan berangin.
Theo dan Eva memilih di lantai atas untuk melihat pemandangan Paris di malam hari yang dipenuhi bintang yang bertebaran. Sepanjang perjalanan Theo dan Eva bersenda gurau dan sesekali bermesraan sembari melihat berbagai bangunan indah dan artistik penuh cita rasa seni yang tinggi.
Dari posisi itu juga Eva dan Theo bisa melihat menara Eiffel dari sisi yang berbeda dan jaraknya lebih dekat. Sangat romantis untuk berfoto dengan latar belakang menara Eiffel yang bermandikan cahaya bintang dan beberapa lampu taman yang menyala terang.
Eva menarik suaminya berniat untuk mengajaknya berfoto sebagai kenang-kenangan mereka liburan. "Sayang, ayo kita berfoto bersama." Ucapnya.
Theo tersenyum. "Baiklah." Ujarnya. Mereka pun berfoto beberapa kali dengan pose yang berbeda-beda. Sebenarnya Theo sudah menyiapkan beberapa fotografer yang dia perintahkan untuk memotretnya diam-diam dari jauh.
Setelah puas berfoto ria, Eva dan Theo pun duduk menikmati semilir angin yang menerbangkan helaian rambut mereka. "Terimakasih atas semua yang kamu lakukan. Hari ini aku sangat bahagia." Ungkap Eva.
"Apapun akan aku lakukan, bila kamu senang maka aku akan ikut senang." Sahut Theo merangkul bahu istrinya. Namun, tiba-tiba tatapan Theo berubah menjadi serius.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum itu berjanjilah kamu tidak akan marah kepadaku." Ujar Theo.
Eva mendongak menatap suaminya yang tatapannya menjadi serius. "Hubby, jangan membuatku penasaran, sebenarnya ada apa? Katakan saja." Eva sudah tidak sabaran.
"Maafkan aku, tapi sebenarnya aku juga mengundang Tuan Davies dan Nyonya Hanna untuk datang kemari. Aku ingin kamu berbicara kepada mereka walaupun sebentar." Ucap Theo tidak bisa berkutik ketika Eva memperlihatkan binar-binar di matanya.
"Apa?! Kenapa kamu?!" Pekik Eva, namun dengan cepat menahannya. "Huft, sudahlah semuanya sudah terlanjur. Walau bagaimanapun aku harus menghadapinya." Ucap Eva lalu bangkit dari duduknya.
"Haish, kok gitu sih." Ucap Theo frustasi. Namun, ucapan Theo sama sekali tidak digubris oleh Eva yang tampak berjalan santai menuju lantai bawah.
*
Lantai bawah, setelah menyusuri kapal yang cukup besar tersebut akhirnya dia pun menemui pasutri paruh baya yang sedang duduk membelakanginya. Perasaan Eva saat ini campur aduk layaknya nano nano, ada marah, kesal, bingung dan entahlah tidak dapat didefinisikan lagi.
Langkah kakinya menuntunnya menuju meja yang ditempati oleh pasutri tersebut. Mendengar suara langkah kaki tuan Davies dan nyonya Hanna serempak membalikkan badannya. "Eva, sayang." Ujar Tuan Davies
Eva duduk tanpa menyahuti perkataan tuan Davies. "Bagaimana kabarmu?" Lagi, tuan Davies bertanya kepadanya.
"Kabarku baik." Sahut Eva singkat.
Tuan Davies dan nyonya Hanna tampak hanya tersenyum getir. "Baiklah nak, ayah tidak akan bertele-tele, ayah hanya ingin kamu memaafkan kami. Tolong, ayah tidak ingin kehilangan kamu lagi." Tuan Davies memulai pembicaraan.
"Benar, Tante juga meminta maaf kepadamu. Selain itu, nanti Tante juga akan meminta maaf ke makam mamamu. Tante menyesal." Nyonya tampak menundukkan kepalanya.
Eva menghela nafasnya. "Aku memaafkan kalian, seperti ucapan suamiku Tuhan saja maha pemaaf kenapa hamba-Nya juga tidak bisa." Ucapnya, membuat senyum tuan Davies dan nyonya Hanna terbit seketika. "Walaupun aku sudah memaafkan kalian, tapi aku belum bisa menerima kalian sepenuhnya. Itu untuk saat ini, mungkin dimasa depan aku akan menerima kehadiran kalian dan itu tergantung seberapa besar kalian tulus berusaha menebus kesalahan kalian." Lanjutnya lagi.
"Tidak masalah, Tante dan ayahmu akan berusaha keras agar kamu mau menerima kehadiran kami." Ujar Nyonya Hanna.
"Terimakasih nak, ayah sangat bersyukur karena mamamu merawatmu dengan sangat baik sehingga kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan berhati besar." Ucap. Tuan Davies. "Kau tau nak, namamu ayah sendiri yang menyiapkannya, ketika tahu bahwa Mamamu mengandung anak perempuan." Lanjut Tuan Davies lagi.
Dan begitulah, obrolan mereka bertiga pun mengalir layaknya pipa x dimana obrolan mengalir sampai jauh. Walaupun masih ada sedikit kecanggungan diantara mereka bertiga.
Bersambung….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan Lupa...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote...
...Gift...