Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 81 - Pesta



Keesokan harinya.


Theo sedang berdiri menghadap cermin, menatap penampilannya sebelum pergi ke kantor. "Sayang, pakaikan aku dasi!" Ujar Theo sedikit berteriak.


"Sebentar!" Sahut Eva yang juga sedikit berteriak.


Tak lama Eva datang dengan berjalan sedikit tertatih-tatih. "Kenapa kamu jalannya seperti bebek?" Tanya Theo dengan wajah tanpa dosanya. Tidak tahukah dia bahwa Eva sampai berjalan seperti itu karena ulahnya semalam.


Eva memutar bola matanya malas, karena kesal dengan suaminya. Bagaimana tidak, semalam setelah pulang dari menara Eiffel dirinya digempur habis-habisan dan baru selesai jam 4 dini hari.


Theo yang melihat istrinya yang sedikit jauh dari tubuhnya menarik pinggang Eva yang membuat tubuh keduanya kembali menempel. "Auch! Bisakah kamu sedikit lembut? Seluruh badanku saat ini sedang sakit!" Keluh Eva dengan mulutnya yang mencebik.


"Maafkan aku, tapi aku selalu ingin berdekatan denganmu." Ujar Theo lalu menciumi wajah bangun tidur istrinya.


"Sudah! Aku akan menyiapkan sarapan dulu." Ucap Eva lalu berbalik hendak menuju dapur.


"Tidak usah! Kali ini biar aku yang memasak. Kamu kembalilah istirahat, jangan sampai kecapean karena nanti malam kita akan ke pesta." Ujar Theo. Eva mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk.


Tak ada 30 menit Theo sudah selesai membuat sarapan yang sederhana, hanya sandwich daging dan segelas susu. Setelahnya Theo membawa sarapannya ke kamarnya. Theo membangunkan Eva agar sarapan terlebih dahulu. "Sayang, bangun dulu. Kita sarapan." Ucap Theo. Yang mana dirinya tidak akan makan bila istrinya belum makan.


"Hem, baunya enak." Sahut Eva lalu segera memakannya. Theo tersenyum senang melihat istrinya yang makan begitu lahap.


"Sayang, nanti sore penata rias akan datang kemari untuk merias mu. Akan aku usahakan datang lebih awal." Ujar Theo. Eva mengangguk sebagai jawaban.


10 menit kemudian mereka sudah selesai sarapan. "Sayang, aku berangkat." Ucap Theo lalu mengecup sekilas bibir Eva.


"Hmm, hati-hati dijalan." Eva mewanti.


Seharian Eva hanya tiduran, menonton televisi dan ngemil makanan ringan.


*


Pukul 5 sore para penata rias dan busana datang untuk merias Eva agar terlihat lebih anggun saat ke pesta. Mulai dari perias wajah, penata rambut hingga para nail art bekerja keras agar memberikan hasil yang maksimal.


Theo pun pulang dari kantor saat Eva sedang dirias, tak mau mengganggu, Theo mengambil pakaiannya lalu berganti pakaian di ruang lainnya.


Setelah makeover sana sini, Eva pun sudah dirias dengan sangat cantik. Mulai dari atas kepala sampai ujung kaki semuanya sempurna, Eva bak seperti tuan putri yang ada di cerita dongeng.


"Wahh, nyonya anda terlihat sangat cantik." Puji penata rias yang ada di ruangan itu. Eva yang mendengarkannya tersipu malu, bahkan dirinya sampai pangling karena penampilannya kali ini terlihat lebih dewasa.


Sementara Theo sedari tadi menunggu Eva di lantai bawah. Tak lama matanya tidak berkedip ketika melihat Eva turun dari tangga. Baginya sekarang Eva sudah seperti bidadari yang turun dari langit. "Honey?" Eva mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Theo yang terbengong.


"Bisakah kamu berhenti memujiku? Aku sedikit malu." Ujar Eva memalingkan wajahnya.


Theo terkekeh melihat tingkah Eva. "Baiklah ayo kita berangkat." Theo menggandeng tangan istrinya lalu menuju mobil untuk menuju ke lokasi acara.


*


Hotel Grand.


Disana sudah banyak orang yang datang, baik dari kalangan pejabat, kalangan pebisnis hingga beberapa selebriti dunia juga hadir pada pesta malam itu. Awak media pun tak luput berjaga di luar hotel mencari foto untuk berita mengenai pesta yang diadakan setahun sekali oleh sebuah perusahaan terbesar di dunia itu.


Mobil Lamborghini yang dinaiki oleh Theo dan Eva datang pada pukul 8 malam. Setelah turun dari mobil, tampak Eva menggandeng erat lengan suaminya. Pasalnya baru saja dirinya turun sudah mendapatkan banyak sorotan dari media, bahkan cahaya lampu dari kamera tersebut tak henti-hentinya redup dan menyala karena ingin mengambil gambar mereka.


Theo yang menyadari Eva sedikit tegang tersenyum kepadanya lalu berkata. "Sayang, tenangkan dirimu anggap saja mereka tidak ada."


Eva menarik lalu menghela nafasnya. "Oke!" Sahutnya.


Disepanjang perjalanan untuk masuk ke dalam sana, banyak sekali bisikan dari para reporter yang Eva dengarkan mengenai keluarga suaminya.


"Kau lihat, Mr. Davidson orang terkaya nomor 2 itu datang ke pesta mengajak pasangannya."


"Kau benar, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menggandeng seorang gadis."


"Sepertinya gadis ini spesial. Oh God beruntung sekali gadis itu bisa dekat dengan orang kaya urutan kedua itu."


Setelah melewati drama red carpet, mereka sudah sampai di ballroom hotel yang mana dekorasinya sangat mewah dan elegan. Di dalam sana sangat penuh dengan orang-orang penting yang kesana-kemari mengobrol dan bercengkrama satu sama lainnya.


Setelah keduanya masuk, banyak orang berdatangan menuju Eva dan Theo, mengobrol mengenai bisnis yang tidak Eva mengerti. "Honey, aku sedikit lapar. Aku akan mencari hidangan disana." Ujar Eva menunjuk tempat dimana hidangan pembuka hingga penutup dihidangkan. Theo mengangguk karena bagaimanapun istrinya pasti akan kelelahan dan bosan jika menemaninya.


Eva mencicipi beberapa hidangan yang menurutnya enak. "Hmmm, makanannya sangat enak!" Gumamnya.


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan bahunya, membuat Eva sedikit reflek berbalik badan.


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Jangan lupa Like, Komen, Vote 😘😘...