
Kita tinggalkan Yoga yang mungkin akan menjadi sad boy.
Keheningan melanda pasutri yang saat ini sedang berada di dalam mobil, menyusuri padatnya jalanan. Eva tidak tahu harus mengatakan apa pada saat ini. Sementara pak Theo hanya diam fokus menatap jalan di depannya.
"Pak, maafkan saya. Sebenarnya saya ingin membereskan sisa-sisa perasaan masa lalu saya. Agar bisa menata dan fokus pada perasaan saya saat ini." Eva berucap memecah suasana.
"Mengapa kamu harus minta maaf? Sudahlah sekarang kamu harus menuntaskan hal yang terjadi di masa lalu lalu bersama-sama menatap masa depan." Ujar pak Theo.
"Sebenarnya, Yoga adalah seorang laki-laki pertama dalam hidup saya, karena saya tidak mempunyai seorang ayah. Dia memperlakukan saya sangat spesial, melindungi dan bermain bersama saya sewaktu kecil. Karena itu saya mempunyai perasaan kepadanya. Namun, seiring waktu dia selalu saja menyakiti hati saya secara tidak langsung. Sampai bapak datang dan sedikit mengalihkan perhatian saya. Dan saya pun mengerti bahwa perasaan saya pada Yoga adalah cinta monyet." Ujarnya.
"Jadi, aku adalah laki-laki kedua dalam hidupmu?" Tanya pak Theo dan langsung diangguki oleh Eva.
"Benar, bapak laki-laki kedua dalam hidup saya. Namun, dalam artian yang tidak baik karena selalu membuat saya kesal dan belajar ekstra karena tugas yang bapak berikan tidak masuk akal." Ujar Eva berkeluh kesah membuat pak Theo menatapnya dengan perasaan dongkol. "Walaupun begitu saya tetap saja menyukai bapak." Ucapnya dengan suara yang kecil namun bisa didengar oleh pak Theo.
Pak Theo menyeringai. "Apa yang kamu katakan, aku tidak mendengarnya." Goda pak Theo.
Eva pun menjadi salah tingkah. "Ah, tidak ada!" Sahutnya lalu membuang wajahnya yang sudah memerah karena malu ke arah jendela.
"Ayolah, katakan. Ayolah!" Bukannya berhenti pak Theo merengek menggoda Eva. Sampai akhirnya Eva tidak tahan.
"Saya menyukai bapak!" Ucapnya dengan suara tinggi.
Pak Theo pun kaget lalu tak lama terkekeh pelan, membuat Eva sangat-sangat malu. Bahkan dia sampai menutup seluruh wajahnya agar tidak terlihat oleh guru killer nya itu.
*
*
Mereka pun saat ini sudah sampai di apartemen, setelah singgah ke toko roti dimana Eva dulunya bekerja paruh waktu, untuk mengucapkan terimakasih sekaligus berhenti dari pekerjaannya.
Eva dan pak Theo saat ini sudah berada di ruang tamu duduk sampai sambil minum teh dengan didampingi roti yang sudah dibelinya. "Setelah lulus, kamu ingin melanjutkan kuliah kemana?" Tanya pak Theo.
"Saya juga tidak tahu, sebenarnya sebelum mama meninggal saya ingin menjadi seorang dokter agar bisa menyembuhkan penyakit Mama. Namun, takdir berkata lain dan mengambil mama dari saya." Sahut Eva dengan mencengkeram erat cangkir teh yang dipegangnya.
Pak Theo mendekatkan dirinya lalu meletakkan kepala Eva tepat di bahunya. "Kamu bisa memikirkannya pelan-pelan. Jika kamu sudah tau akan kuliah kemana beritahu aku. Akan kucari kan universitas terbaik." Ujar pak Theo.
Pak Theo merangkul bahu Eva. "Aku tidak keberatan jika kamu mau melanjutkan pendidikan karena pendidikan itu sangat penting. Lagipula aku tidak mempunyai pemikiran kolot dimana seorang wanita yang sudah menikah harus fokus dirumah dan mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika kamu kuliah nanti kita bisa mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama. Seorang wanita berhak memilih apa yang dia inginkan asalkan masih ingat dengan kewajibannya. Aku menikahimu bukan menjadikanmu pembantu di rumahku, melainkan menjadi pendampingku. Aku tidak bisa menjadikan tuan putri yang dibesarkan dengan kasih sayang dan cinta di rumah orang tuanya sebagai pembantu." Ujarnya.
"Terima kasih karena sudah mengerti saya." Ucap Eva lalu memeluk pak Theo dari samping dengan erat.
*
*
Saat ini pukul 4 sore , Eva dan kedua sahabatnya sudah berjanji akan jalan-jalan ke mall. "Saya keluar dulu ya pak." Ujar Eva kepada pak Theo yang mengantarnya.
"Hem, hati-hati dan ya ambil ini." Pak Theo menyerahkan sebuah gold card kepada Eva. "Gunakan ini jika kamu ingin membeli sesuatu." Lanjutnya lagi.
"Ta-tapi pak,"
"Tidak ada penolakan, gunakan saja. Dan ya aku akan menjemputmu tepat pukul 7 malam." Ucap pak Theo. Sementara Eva pasrah menerima kartu kredit itu.
Baru saja Eva akan berbalik, pak Theo menghentikannya lalu memberikan sebuah kode. Seperti biasa Eva akan mencium pipi pak Theo ketika mereka berpisah.
Cup!
"Pergilah, hati-hati ya." Pak Theo mewanti-wanti. Dengan senyum yang merekah menghiasi wajah tampan paripurna nya.
Dengan cepat Eva keluar dari mobil, lalu segera masuk ke mall dengan pipinya yang sudah menunjukkan semburat merah.
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like like
Komen, Vote jangan lupa 😌🔪🔪