
Pukul 2 siang.
Kembali ke kedua dimana sepasang pasutri yang sedang dimabuk asmara sedang menonton acara televisi bersama. Ditemani dengan jus buah dan beberapa Snack yang ditaruh di atas meja.
Theo saat ini sedang mengelus surai kehitaman milik Eva yang saat ini tiduran di atas paha miliknya. Elusan itu begitu menenangkan bagi Eva. Terlihat bagaimana perlakuan Theo yang sangat memanjakan dirinya itu, dengan menyuapi Snack atau membantu dirinya minum.
"Hubby, aku sangat bosan berada dirumah. Aku rasanya ingin jalan-jalan." Ujar Eva menatap suaminya dari bawah.
Theo mencubit gemas hidung istrinya. "Bukankah kamu mengatakan milikmu masih sakit hmm? Sudah, lebih baik saat ini kita istirahat saja." Sahutnya.
Eva mendengus kesal karena tidak diizinkan keluar. Tak hilang akal, Eva pun menggunakan satu cara ampuh agar suaminya menuruti kemauannya. "Hubby?" Panggil Eva dan tak lama Theo menatap istrinya itu.
Tiba-tiba Theo mengeluarkan keringat dingin, bagaimana tidak saat ini mata Eva berbinar-binar seperti anak kucing dan dirinya tidak akan bisa menolak kemauan istrinya bila sudah seperti ini. "Pliss, boleh ya." Ucap Eva memelas.
Huh! Theo menghela nafasnya, pada akhirnya dia menyerah karena tidak tega melihat istrinya memohon. "Baiklah kita akan pergi ke mall nanti sore. Saat ini tidurlah karena aku akan menagih bayaranku nanti malam." Ucap Theo diikuti dengan senyum seringainya.
Glek! Eva menelan salivanya susah payah. "Ba-bagaimana bisa begitu?!" Dirinya tidak terima.
"Di dalam dunia bisnis semuanya ada harganya my honey. Dan apa kamu lupa? Aku adalah seorang pebisnis yang pandai, jadi aku menagih bayaranku." Ucapnya.
Sial! Eva merutuki dirinya, dia benar-benar lupa jika sekarang dirinya sedang berhadapan dengan Penerus dan CEO dari Davidson Company. Sudahlah nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau Eva harus membayarnya nanti malam.
*
*
Sore hari di mall Davidson's
Mall yang sangat mewah milik keluarga Davidson, Theo mengajak istrinya jalan-jalan sekali berbelanja di sana. Eva sesekali tertarik ketika melihat baju yang indah menyeret suaminya untuk membelikannya. Saat ini sudah banyak barang belanjaan yang sudah dibeli olehnya.
Sementara Theo menggerutu di dalam hatinya. "Istriku sudah ketularan mommy ketika belanja. Aku harus menjauhkan mereka nanti." Walaupun Eva banyak berbelanja, dia tidak asal membelinya. Dia akan membeli sesuai kebutuhan dan tentunya yang paling murah.
Dari arah lain, Mitha dan Grace sedang ada di toko yang berbeda. Ya sekarang Mitha dan Grace sedang jalan-jalan di mall mewah dimana Eva dan Theo sedang berbelanja.
Mitha dan Grace memasuki sebuah toko dimana disana dijual baju kekinian untuk seorang gadis. Sementara Eva keluar dari toko, matanya tak sengaja melihat dan menginginkan popcorn. Mengerti arah pandang istrinya Theo tentu saja membelikannya popcorn dengan wadah berukuran sedang.
Theo dan Eva berjalan sambil bersenda gurau dan sesekali menyuapi suaminya popcorn. Mereka pun menuju toko dimana sebelumnya Mitha dan Grace masuk ke dalam sana. Entahlah apakah ini disebut nasib baik atau buruk keduanya justru berpapasan.
"Mit! Bukankah itu Eva?!" Tanya Grace yang samar-samar melihat keberadaan sahabatnya.
Mitha pun menuju arah pandang Grace. "Bener tuh, itu Eva dan yang disampingnya…."
"Pak Theo!!!" Pekik keduanya bersamaan.
Dengan cepat, Mitha dan Grace keluar dari toko itu meninggalkan barang belanjaan mereka yang berada di kasir. Keduanya lalu menghampiri sepasang pasutri tersebut.
"Eva?!" Panggil keduanya lalu mendekati Eva. Dan tentu saja Eva berbalik karena sangat mengenal suara kedua sahabatnya.
Namun, bukannya senang bertemu sahabatnya, Eva justru terlihat gugup karena tidak tahu cara menjelaskan situasi dimana dirinya saat ini sedang bersama pak Theo.
Mitha pun mendekati Eva. "Katakan Va! Kamu gak diapa-apain sama pak Theo kan?" Tanya Mitha dengan suara rendah namun masih bisa didengar oleh semua orang.
"Em, i-itu…."
"Lebih baik kita bicarakan ini di restoran dekat sini." Ucap Theo memotong pembicaraan mereka karena tahu istrinya sedang gugup saat ini.
*
Di restoran
Theo memesan ruangan VIP dimana ruangan tersebut hanya ditempati olehnya. Dan karena itu tempat itu cocok bagi Eva untuk bercerita kepada sahabatnya.
"Katakan Va?! Ada apa ini? Kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?" Tanya Grace tak sabaran. Sementara Mitha menyimak dan memperhatikan gerak-gerik Eva yang sangat mencurigakan baginya.
"I-itu, sebenarnya kami,,,,"
"Sebenarnya kami sudah menikah satu bulan yang lalu!" Ucap Theo tanpa ada yang ditutup-tutupi
"WHAT?!! Menikah?!" Teriak Mitha dan Grace yang sangat amat terkejut dengan kenyataan yang baru didengarnya.
"Ba-bagaimana bisa?! Dan kenapa kamu tidak memberitahukan kami?" Tanya Mitha menatap Eva.
Eva menggaruk pelipisnya. "Em, begini ceritanya mungkin agak panjang." Ujar Eva lalu menceritakan bagaimana dirinya bisa menikah dengan guru killer nan tampan di sekolahnya. Sementara Mitha dan Grace mengangguk berusaha mengerti apa yang diceritakan oleh Eva. Dan Theo, tentu saja dirinya diam meminum kopi dan membiarkan istrinya yang bercerita.
"Dan karena itu aku mohon rahasiakan pernikahan kami di sekolah. "Ujar Eva kepada sahabatnya.
"Tentu saja!" Ucap Grace.
Sementara Mitha menatap pak Theo dengan tajamnya. "Pak Theo tolong jaga sahabat kami dengan baik. Jika Eva terluka sedikit saja, saya yang akan maju melawan anda nantinya." Ujar Mitha, membuat Eva dan Grace begitu merinding.
"Tentu saja saya akan melindungi dan menjaga istri saya!" Jawabnya mantap.
Pada akhirnya mereka pun memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja. Mitha menepis pikirannya dimana Eva sahabatnya yang sangat membenci guru killer itu justru saat ini menjadi istrinya. Sungguh tuhan sudah menentukan takdir dari masing-masing manusia.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Aiyo, jangan lupa ...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote ...
...😘😘😘...