
Pagi hari menyingsing, sinar matahari menerangi bumi yang sedari tadi masih diterangi oleh cahaya bulan dan bintang.
Suasana bukit yang masih asri, kicauan burung saling bersahutan dan embun pagi yang membalut rumput dan daun pepohonan. Memang sangat indah dipandang mata.
Sementara, Eva dan Grace masih lelap dalam tidurnya. Mitha pun bengun dari tidurnya lalu membuka tendanya. Hal pertama yang dia lakukan yaitu menaruh telapak kakinya di atas rerumputan yang masih basah karena embun.
Setelah puas menikmatinya, Mitha pun kembali ke dalam tenda lalu membangunkan kedua sahabatnya.
"Hey kalian berdua bangun, udah pagi. Inget nanti ada acara loh." Ujar Mitha.
Eva dan Grace pun bangun lalu meregangkan otot-otot badannya perlahan. "Hoam, ngantuk banget." Ujar Grace yang tidak terbiasa bangun pagi. Sementara Eva diam karena belum selesai meregangkan otot-otot tubuhnya.
Setelah mengumpulkan seluruh nyawanya, Eva, Mitha dan Grace pun pergi membersihkan badannya.
*
*
Pukul 7.30 waktu setempat semua siswa sudah berbaris dengan rapi. Seperti agenda yang sudah diberitahukan kemarin maka lagi hari ini akan diadakan pembersihan area bukit, sebagai bentuk dari kepedulian terhadap kebersihan alam.
Setelah mendapatkan pengarahan dan tempat yang akan dibersihkan Eva, Grace dan Mitha pun bergegas menuju tempatnya lalu menyapu dan memungut sampah yang berserakan di sekitar sana.
Sementara itu dua orang gadis menatap tajam Eva yang sedang memilah sampah yang dipungutnya.
"Kali ini rencana kita harus berhasil, tidak akan kubiarkan dia lolos! Penghinaan yang kudapatkan harus aku balaskan!" Ucap Indah dengan amarah yang berapi-api. Dan diangguki oleh Siska
Masih terbayang di ingatan nya bagaimana kasarnya perlakuan orang tuanya ketika dia di skorsing dari sekolah.
"Apakah kamu tidak bisa sekali saja melakukan hal yang benar?!" Bentak sang Mami.
"Aku sangat malu memiliki putri seperti dirimu!" Bentak Papi nya.
Begitulah sekiranya perkataan yang Indah dapatkan dari orang tuanya. Dan itu karena Eva si anak udik. Karena itu, dendamnya pada Eva semakin hari semakin membara. Bahkan dia sudah menyusun rencana hari ini dari jauh-jauh hari.
Indah pun menjalankan aksinya, lalu perlahan mendekat ke arah Eva yang sedari tadi sendirian. Grace dan Mitha saat ini sedang pergi menaruh sampah lalu mengambil plastik sampah yang baru.
"Hey, Va tadi panitia bilang ada sampah di sekitar sana." Ucap Indah.
Eva mendongak menatap Indah, lalu beranjak dari jongkoknya. "Kau bisa mengambilnya sendiri bukan?" Ucapnya.
"Kau tidak bisa melihat? Aku membawa sapu dan tidak memakai sarung tangan. Bagaimana jika aku cacingan atau kuku cantikku menjadi rusak." Oceh Indah memperlihatkan kukunya yang sudah dipoles cat kuku.
Eva mendengus kesal, lalu mengambil kantong sampahnya. "Baiklah aku akan ke sana." Ucap Eva pergi menuju arah yang ditunjukkan oleh Indah.
Sementara Siska sudah berada di tempat yang akan dilalui oleh Eva. Disana terdapat papan petunjuk yang menunjukkan arah menuju bukit. Siska pun mengganti arah papan petunjuk tersebut menjadi ke arah kiri. Yang mana mulanya ke kanan menuju bukit dan ke kiri menuju hutan.
Siska segera bersembunyi setelah melihat tanda-tanda kedatangan Eva. Tanpa rasa ragu Eva pun menuju ke arah kiri. Melihat Eva yang semakin menjauh, dengan cepat Siska keluar dari tempat persembunyiannya lalu membalikkan papan petunjuk ke sedia kala. Lalu Siska pun pergi menghampiri Indah yang sedari tadi menunggunya.
"Berhasil!" Bisik Siska. Sementara Indah hanya tersenyum.
*
*
"Mit, tanyain Eva dimana dia ngaruh power bank aku?" Tanya Grace.
Mitha pun mencari keberadaan Eva namun, netranya sama sekali tidak menemukannya. "Grace Eva gak ada!" Ucap Mitha panik.
Dengan cepat Grace dan Mitha menanyakan ke semua orang yang berada di sana. Apakah ada salah satu dari mereka melihat keberadaan Eva. Sayangnya tidak ada yang tahu kemana perginya Eva.
Menghilangnya Eva pada akhirnya sampai ke telinga panitia dan yoga selaku ketua OSIS. "Bagaimana Eva bisa hilang? Ayo cari dia! Aku rasa dia belum jauh dari sini!" Ujar Yoga dengan penuh rasa khawatir.
"Eva bagaimana kamu bisa menghilang? Aku sangat khawatir." Gumam Yoga.
Tepat di samping Yoga, Gisell sedari tadi menatap ekspresi wajah Yoga yang sangat khawatir dengan Eva. Rasa khawatir itu bahkan lebih seperti rasa khawatir kehilangan orang yang dicintai.
*
*
Di tempat Eva saat ini berada. Dirinya sedari tadi sangat ketakutan bagaimana tidak, sejauh matanya memandang hanya terlihat hutan yang lebat dan suara dari para binatang yang tinggal di sekitar sana.
"Ma, Eva takut…. Sangat takut…." Lirihnya yang sedari tadi mencari jalan keluar.
Ingin rasanya dia menghubungi temannya namun sayang disaat seperti ini sinyal ponselnya hilang dan parahnya dia sama sekali tidak membawa peta.
*
*
Kembali ke tempat yang sedari tadi kalang kabut mencari keberadaan seseorang yang hilang. Mereka sangat fokus mencari Eva, saking fokusnya bahkan orang yang datang kali ini mereka abaikan.
Orang yang diabaikan itu pun menghentikan siswa yang sedari tadi mencari kesana-kemari. "Permisi, kenapa tempat ini terlihat berantakan dan kenapa kalian semua berhamburan kesana-kemari." Tanyanya.
Siswa itu pun menjawab. "Ada salah satu siswi dari kelas XI MIPA 1 yang hilang pak. Namanya kalau tidak salah Eva."
Deg!
Dengan cepat orang itu pergi menuju ke suatu arah dengan perasaan yang bercampur aduk. Jujur saja baru kali ini dirinya merasakan sangat amat takut.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note: Maafkan diriku yg gak bisa update lagi sibuk di Rl. Bikin makalah, dan laporan.🤯
Harap maklum ye 😗
Alasan gak update, yaitu lagi periksa hapusan di mikroskop. Jujur mataku agak lelah abis pake mikroskop jadinya gak bisa ngetik. apalagi harus bikin tugas ini itu. udh ah gitu aja 🙂