
...Flashback on!...
Sore hari
Di sebuah mansion mewah dan luas, suara sepasang sepatu pantofel terdengar berjalan sangat cepat. Membuat seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
"Suamiku, ada apa? Tumben kamu pulang cepat dan kenapa kamu kelihatan sangat gelisah dan cemas?" Nyonya Hanna bertanya kepada suaminya yang baru saja datang.
"Hanna, tolong panggilkan Ayah, aku ingin membicarakan hal yang serius." Ujar Tuan Davies dengan nada tegasnya. Melihat suaminya yang terlihat serius, nyonya Hanna dengan segera memanggil ayahnya untuk turun di ruang tamu.
Tak lama, nyonya Hanna dan Tuan besar Helios datang, nyonya Hanna tampak membantu ayahnya yang sudah tidak muda lagi menuruni anak tangga, bahkan ayahnya menggunakan tongkat untuk menumpu keseimbangan tubuhnya. Keduanya lalu menghampiri Davies yang duduk cemas di sofa empuk dan mewah. Nyonya Hanna memapah ayahnya dengan hati-hati lalu mendudukkannya di sofa.
"Ada hal penting apa sehingga kau ingin kita berkumpul disini Davies?" Ucap Tuan Helios dengan suara beratnya sungguh walaupun umurnya sudah tidak muda lagi, wibawanya tidak pernah luntur.
Davies diam lalu menyerahkan sebuah map coklat dimana di depannya terpampang logo sebuah rumah sakit. Nyonya Hanna mengeluarkan kertas yang berada di dalam map coklat tersebut. "Ada apa ini? Davies jelaskan!" Tuan Helios tampak kesal karena menantunya itu diam.
Davies menarik nafasnya lalu menjelaskan apa yang terjadi. "Ayah, Hanna aku sudah menemukan putriku dengan Jessica." Ujarnya.
Deg!
Nyonya Hanna dan Tuan besar Helios tampak sangat terkejut. "Benarkah? Lalu dimana dia sekarang?" Tanya nyonya Hanna.
"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk menyelidikinya, selama ini putri ku tinggal di Indonesia bersama Jessica dengan.... dengan serba kekurangan. Dan saat ini, putriku ada disini dan begitu dekat denganku. Dia adalah Eva." Tuan Davies berucap dengan nada rendahnya.
"Ja-jadi Eva, dia adalah putrimu?" Tanya nyonya Hanna tak percaya sementara Tuan besar Helios tetap diam menyimak perkataan menantunya. Nyonya Hanna kembali membaca kertas yang digenggamnya yang ternyata adalah hasil tes DNA suaminya dan juga Eva.
Tuan Davies mengangguk. "Benar, aku baru menyadari bahwa dia adalah putriku ketika di pesta kemarin. Bola matanya sangat mirip denganku selain itu aku merasakan ikatan batin yang kuat." Ucapnya.
"Oh God, pantas saja aku seperti tidak asing ketika melihat matanya." Ujar Nyonya Hanna.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Tuan besar Helios.
"Aku akan menemui putriku dan meminta maaf kepada Jessica." Sahutnya.
Tuan besar Helios menggenggam tangan Putrinya Hanna. Dirinya tahu bagaimana perasaan putrinya saat ini. "Aku tidak akan menghalangimu. Jika kau ingin bertemu dengannya ajak juga aku dan Hanna ada kebenaran yang perlu didengar olehnya." Ujar Tuan besar Helios.
...Flashback end....
*
*
Kembali ke masa kini, malam harinya.
"Nak, apakah kami boleh masuk? Ada hal yang ingin kami bicarakan. Ah, sebelumnya maaf bertamu malam-malam." Ujar Nyonya Hanna mewakili karena baik Davies maupun ayahnya tampak diam bahkan hanya menghentakkan tongkat kayu yang digunakannya sebagai jawaban.
Theo mempersilahkan mereka masuk. "Tidak masalah Tante Hanna." Ujarnya. Theo membawa mereka ke ruang tamu lalu menyuruh ketiganya duduk di sofa.
Disaat ketiganya duduk, Eva datang karena suaminya yang sangat lama menerima tamu. "Hubby, kenapa lama sekali, siapa yang datang?" Tanya Eva.
Tuan Davies tampak gemetar lalu bangkit dan berlari mendekati Eva.
Pelukan hangat diterima oleh Eva. Rasa dipeluk seperti ini belum pernah sama sekali dirasakan oleh Eva. Nyaman dan aman. Sementara Theo mengernyitkan dahinya menatap interaksi antara istrinya dan tuan Davies. Nyonya Hanna dan tuan besar Helios tampak tersebut kecut dan sedikit terharu melihatnya.
"Tu-tuan Davies?" Tanya Eva.
"Eva, putriku!" Ucap tuan Davies.
Deg!
Satu kalimat yang dilontarkan Tuan Davies sukses membuatnya terpaku. Apa yang dikatakannya putrinya? Aku? Yang benar saja?! Batin Eva.
Melihat reaksi putrinya yang hanya diam, Tuan Davies kembali bersuara. "Nak, aku, aku ayahmu nak!" Ucapnya namun, kali ini ada keteguhan dan keyakinan di dalam hatinya.
"Tidak! Tidak! Aku tidak memiliki ayah! Mama bilang ayah sudah tiada!" Eva berteriak melepaskan pelukan keduanya. Lalu merosot ke lantai sambil menutup telinganya, seolah tidak ingin mendengar kata-kata yang barusan didengarnya. Bahkan air matanya sudah mengalir membasahi wajah cantiknya.
Mendapatkan reaksi itu, Tuan Davies hanya bisa diam membisu. Bagaimana bisa putrinya menganggapnya sudah tiada.
Theo menghampiri istrinya yang terduduk di lantai lalu membawanya ke sofa tak lupa dirinya juga duduk di sampingnya sembari memeluk tubuh bergetar istrinya. Sebenarnya Theo cukup terkejut, namun dirinya berusaha tidak memperlihatkannya.
"Mari kita bicarakan secara pelan-pelan. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Theo.
Tuan besar Helios dan nyonya Hanna hanya diam membiarkan Davies yang menceritakan terlebih dahulu.
Kalian bertanya bagaimana Tuan Davies bisa melakukan tes DNA karena seusai pesta tuan Davies menemui Eva dan memeluknya. Disaat memeluk putrinya dirinya mengambil sehelai rambut Eva tanpa sepengetahuannya. Selain itu, insting seorang ayah tidak akan pernah salah jika menyangkut putrinya.
Bersambung……
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Maaf ye, othor baru sempet up, besok rencana mau crazy up, gimana?😗...
...Tapi tergantung like juga sih, setelah othor liat banyak pembaca gelap dan gak kasih like.😑😑...
...Dah lah males
...
...Jangan lupa...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote...
...Gift...
...Rate nya ⭐⭐⭐⭐⭐...