Killer Teacher Fell In Love With Me

Killer Teacher Fell In Love With Me
Bab 57 - Kecupan Manis



Saat ini pasangan pasutri ini sedang menuju ke sebuah restoran untuk makan siang. Theo tampak tenang dan fokus memperhatikan jalan sedangkan Eva terlihat sedikit kesal.


Theo menghembuskan nafasnya. "Hei kamu masih marah?" Tanya Theo menatap wajah Eva sekilas.


"Gimana saya gak marah? Kenapa bapak beliin saya kalung yang harganya mahal ini?!." Kesalnya. Menunjuk kalung yang sudah menjuntai di leher jenjangnya.


Alih-alih ikut marah pak Theo justru tersenyum. "Aku lihat kamu sangat memperhatikan kalung itu jadi aku belikan saja." Ucapnya. Melihat wajah Eva yang tampak marah justru menggemaskan baginya.


Beberapa saat lalu ditoko perhiasan, Eva memang melihat kalung yang sekarang dipakainya dengan intens karena sangat indah. Namun, baru saja dia melihat harganya membuatnya berpikir 2 ah tidak 10 kali untuk membelinya.


"Saya gak masalah bapak mau beliin saya kalung, tapi bukan kalung seharga 1 milyar juga pak. Uangnya mending ditabung saja." Protesnya.


"Baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi. Jadi jangan marah ya." Jawabannya. Eva tidak tahu bahwa pria yang ada di sampingnya bisa saja membeli perusahaan tempat kalung itu dibuat dalam hitungan menit.


*


*


*


Kembali ke Star International High School.


Deg!


Yoga diam mematung, bagaimana bisa dia sebagai sahabat tidak mengetahui mengenai keadaan Tante Jesy yang sudah berpulang? Bodoh kau! Bodoh! Umpatnya dalam hati.


Sementara Grace merinding melihatnya, ketika Mitha marah dia akan terlihat sangat menyeramkan. Apakah semua anak pengacara memang seperti ini? Batin Grace.


"Kau memang tidak pantas menjadi sahabatnya, bahkan kau sudah melukai hatinya cukup dalam! Tak sadarkah dirimu jika Eva begitu menyukaimu?!" Tanya Mitha menunjukkan Yoga tepat di depan wajahnya.


Deg!


'Apa? Apa yang dia bicarakan? Jadi, selama ini Eva menyukaiku? Berarti…. Sekarang adalah….' Yoga membatin.


Tanpa ba bi bu lagi Yoga pun segera pergi meninggalkan Mitha dan Grace. "Hei! Mau kemana kau?" Teriak Grace.


"Aku akan menemui Eva dan menghiburnya." Ucapnya. Dalam benaknya pasti saat ini Eva sedang sedih dan dalam keadaan rapuh karena kehilangan ibunya. Dan sekarang adalah kesempatannya untuk bertemu lalu menjadikan dirinya sandaran untuk Eva.


"Akhirnya sekarang aku berani, Eva tunggu aku. Aku akan datang dan mendampingimu karena, aku juga mencintaimu." Kalimat itu terlontar dari mulut Yoga yang saat ini sedang mengendarai motor sportnya di jalan raya.


*


*


Yoga pun telah sampai di depan rumah Eva, dilihat rumah tersebut yang terlihat sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Yoga pun memberanikan dirinya memencet tombol. Dia mengatur nafasnya serta perasaannya.


Namun, sudah beberapa kali dirinya memencet bel sama sekali tidak ada tanda orang yang akan membuka pintu. Lalu dia berinisiatif bertanya kepada tetangga yang lewat.


"Permisi Bu, Eva kenapa tidak ada di dalam?" Tanyanya.


"Begitu ya, terimakasih Bu." Ujar Yoga, lalu ibu-ibu itu pun melanjutkan perjalannya.


*


*


*


Keesokan harinya, Eva dan pak Theo sudah selesai bersiap-siap dan sekarang ini sudah berada di meja makan memakan sarapannya. Karena tak lama lagi mereka akan berangkat ke sekolah, karena Eva sendiri hanya izin satu hari, walaupun pak Theo sudah memberinya izin dua hari.


Eva mengaduk-aduk nasi yang ada di piringnya lalu menatap pak Theo dengan ragu-ragu seolah ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan olehnya. "Pak, saya ingin menyampaikan sesuatu." Ucapnya.


"Katakan saja." Sahut pak Theo sambil mengunyah sarapan nasi omelette nya.


"Em, begini, pak bisakah hubungan kita tidak dipublikasikan dulu? Bukannya saya menyangkal hubungan ini, tapi saya hanya tidak siap saja jika diketahui oleh banyak orang." Ujar Eva ragu-ragu.


"Tentu saja, namun di dalam sebuah penawaran pasti ada harga bukan?" Ucap pak Theo dengan santainya. Sementara Eva tampak sedikit terkejut. "Aku ingin kamu mengganti gaya bahasamu agar tidak formal ketika kita hanya berdua. Jika sudah dirumah jangan panggil saya bapak." Lanjutnya.


Fyuh, Eva tampak lega dia pikir pak Theo akan menyuruhnya macam-macam. "Berikan saya waktu untuk itu. Tapi, saya harus memanggil bapak apa dong?"


"Itu terserah padamu."


Setelah selesai sarapan pak Theo membersihkan semua piring kotor, sementara Eva kembali ke kamar dengan wajah yang agak murung. Dihatinya yang paling dalam Eva jelas masih terluka dan Theo menyadari itu sehingga dia tidak membebankan pekerjaan rumah kepadanya. Dalam pikiran Theo, jika dia masih mampu maka dia sendiri yang akan mengerjakannya.


Theo dan Eva berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Theo. Tak lama kemudian mereka pun sampai di parkiran.


Eva melepaskan sabuk pengamannya, namun baru saja dia akan membuka pintu mobil dia justru dihentikan oleh tangan kekar pak Theo. "Ada apa pak?"


Bukannya menjawab pak Theo justru menunjuk pipinya seraya memejamkan matanya. Eva yang sudah mengerti kode seperti itu karena sering menonton Drakor pun dengan cepat mencium pipi kiri pak Theo.


Cup!


Kecupan manis yang pertama bagi mereka berdua.


Namun, baru saja Eva akan menjauhkan wajahnya, pak Theo dengan cepat menyambar bibir ranum Eva yang dipoles dengan lip tint rasa strawberry. Pak Theo mengecupnya sangat lama sampai Eva sudah sadar dari keterkejutannya. Seketika pipi Eva memerah bak kepiting rebus, dengan cepat dia membuka pintu mobil lalu segera menuju kelasnya. Sementara pak Theo terdiam sambil memegangi pipi kirinya lalu menuju bibirnya dan melihat kepergian istrinya itu.


"Huh! Aku bisa gila!" Ucapnya lalu menyugar rambutnya.


Bersambung……


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Hei hei hei hallooooooo!...


...Inget ye, like komen vote nya...


...1 like sangat berarti buat othor karena sebagai penyemangat buat bikin eps selanjutnya ...