
Bandara Internasional Soekarno-Hatta
Disinilah Eva dan Theo berada, setelah menempuh perjalanan di udara selama kurang lebih 16 jam mereka pun sampai dengan selamat dan aman.
Di depan pintu kedatangan bandara sudah ada tiga orang yang sudah sangat menantikan kedatangan mereka. Mereka adalah Mommy Irene, Daddy David, dan asisten kesayangan author Jo.
Mommy Irene sedikit berlari menghampiri menantunya dan putranya yang baru keluar. Theo sudah merentangkan tangannya karena ingin dipeluk oleh mommy nya, namun hal yang tak diduga terjadi. "Eva, sayang bagaimana kabarmu? Apakah baik? Bagaimana liburannya?" Mommy Irene memeluk Eva bukannya Theo sang putra. Bahkan mommy Irene juga menghujani Eva dengan berbagai macam pertanyaan.
"Mom!" Pekik Theo.
"Apa?! Kamu sudah besar! Jangan manja! Kalau mau peluk sana peluk Daddy!" Ujar mommy Irene.
Theo memandang Daddy nya yang tak jauh dari sana. Tampak Daddy David menyilangkan tangannya di depan dada berharap Theo tidak mengikuti instruksi istrinya yang kelewat bar-bar. Sementara mommy Irene dan Eva tertawa cekikikan ketika melihat ekspresi Theo maupun Daddy David.
"Mom, ayo kita pulang. Eva ingin memberikan mommy oleh-oleh dan bercerita banyak hal." Ujar Eva kepada mommy Irene.
Mommy Irene mencium seluruh wajah Eva yang sudah dia anggap putrinya. "Ohh, kau sangat manis sekali sweetie. Ayo kita pulang."
Meninggalkan para wanita yang sudah berjalan di depan, para pria di belakang tampak tersenyum melihat wanitanya tampak bahagia. Kecuali Jo, si jomblo. "Tuan, anda harus ke perusahaan karena masalahnya sedikit rumit." Ujar Jo.
"Apakah harus sekarang?" Tanya Theo. Jo mengangguk sebagai jawaban.
Di Parkiran Theo menghampiri Eva yang sedang berbincang dengan mommy nya. "Sayang, aku ada urusan di perusahaan, kamu diam di rumah mommy ya, nanti malam aku jemput." Ujar Theo lalu mengecup singkat bibir Eva sebelum menuju mobilnya bersama Jo.
Eva jelas malu karena dilihat oleh mommy Irene. Sementara mommy Irene tampak memperlihatkan tatapan kepo nya bahkan jiwa gosipnya ikut menyeruak. "Ahh, hubunganmu sangat harmonis ya." Seringai mommy Irene, makin malu sudah Eva.
*
*
Di belahan negara lainnya.
Tuan Davies tampak kalang kabut dikala dirinya tidak mendapati seorang pun di apartemen yang ditinggali oleh putrinya. Jarinya terus menerus memencet tombol bel.
Tak lama seseorang datang menghampirinya, seorang petugas keamanan dan pembantu rumah tangga yang akan datang setiap 2 hari sekali. "Permisi tuan, anda mencari siapa?" Tanya wanita yang usianya sudah tidak muda lagi.
Tuan Davies berbalik menatap kedua orang tersebut. "Saya, mencari penghuni apartemen ini." Ujarnya.
"Ah, tuan Theo dan nyonya Eva sudah kembali ke Indonesia kemarin tuan." Sahut petugas keamanan tersebut.
Deg!
"Ah, terimakasih atas informasinya." Tuan Davies lalu masuk ke dalam mobilnya meninggalkan apartemen tersebut menuju mansionnya.
Sesampainya di mansion, raut wajah tuan Davies datar dan tidak bersemangat, lalu duduk di sofa ruang tamu. Nyonya Hanna datang membawakan kopi untuk suaminya. "Ada apa? Kenapa kamu terlihat murung?" Tanyanya.
"Hanna, Eva sudah kembali pulang. Aku seperti kehilangan separuh jiwaku, baru saja kami bertemu dan sekarang dia sudah kembali." Ujar Davies sendu. Nyonya Hanna hanya diam tidak bisa menanggapi.
"Kenapa kamu tidak menyusulnya?" Tuan besar Helios berkata sembari menuruni tangga dengan tongkatnya. Lalu duduk di dekat Hanna putrinya.
Davies dan Hanna menoleh. "Tapi ayah, bagaimana dengan perusahaan?" Tanya Hanna.
"Bukankah kita mempunyai cabang perusahaan disana? Kita bisa pelan-pelan memindahkannya ke Jakarta. Lagipula aku ingin dekat dengan cucuku." Ujar tuan besar Helios. Jujur saja walaupun Eva bukan cucu kandungnya namun, dia sangat menyayanginya sepenuh hati. Itu dilakukan tuan Helios karena untuk menebus kesalahannya dan juga karena dirinya sudah lama menginginkan seorang cucu.
"Terimakasih ayah!" Davies sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudahlah, sekarang bereskan semua dokumen yg diperlukan dan segera berkemas. Aku akan menghubungi bawahan kita disana agar menyiapkan mansion yang dekat dengan mansion cucuku." Ucap tuan besar Helios.
Tuan Davies dan nyonya Hanna tampak begitu senang. Lalu dengan cepat melaksanakan titah dari tuan besar Helios.
*
*
Hari sudah mulai sore, namun tampak Eva dan mommy Irene masih sibuk unboxing oleh-oleh yang Eva beli dari Prancis. Sungguh Eva sudah ketularan kebiasaan mommy Irene saat ini.
"Ah, ini adalah tas limited edition yang hanya ada 3 di dunia! Kau membelikannya untuk mommy terimakasih putriku!" Pekik mommy Irene lalu memeluk Eva.
"Ketika aku melihatnya aku kepikiran mommy jadi aku beli saja." Sahut Eva.
Tak lama Theo datang dengan wajah lelahnya. Namun, bukannya disambut baru sampai di rumah dirinya tidak mendapati siapapun. Theo masuk ke dalam mansion dan mendapati istrinya sedang sibuk bergosip dengan sang mommy bahkan sampai mengabaikan dirinya yang baru datang.
"Sayang, aku pulang." Ujar Theo.
Eva berbalik lalu menatap suaminya. "Ah, kamu sudah pulang. Sekarang ke kamar dan mandi setelah itu makan malam." Ucap Eva.
"Tapi bukankah kita akan pulang ke rumah?" Tanya Theo.
"Hubby, kita menginap disini ya, ya." Mohon Eva, dirinya ingin menginap karena ingin bercerita lebih banyak dengan mommy Irene.
Theo tentu saja tidak bisa menolak permohonan istrinya. Pada akhirnya Theo menghela nafas berat lalu mengiyakan permohonan istrinya. Gagal sudah rencana berduaan dengan istrinya yang sudah direncanakan dengan matang.
*
*
Beberapa hari kemudian, Eva sedari tadi sibuk menyiram tanaman bunga yang ada di depan pekarangannya. Eva merasa bosan karena dirinya sedang masa liburan tapi tidak bisa liburan karena suaminya sibuk dan sahabatnya Mitha sibuk pacaran. Eva sendiri juga sudah bosan membaca novel dan komik dan memilih untuk melakukan kegiatan lain seperti memasak dan menanam bunga.
Namun, di jalan di depan rumahnya banyak sekali truk box pengangkut barang berseliweran. 'Mungkin ada orang pindahan' pikirnya. Karena bagaimanapun mansionnya terletak di kawasan elit dan seluruh penghuninya adalah para sultan. Eva pun kembali fokus pada aktivitasnya. Namun, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh kehadiran seseorang.
"Putriku, ayah datang." Ujar tuan Davies menyapa Eva dari balik pagar rumahnya.
"Tuan Davies, nyonya Hanna, Tuan Helios?" Ucap Eva melongo tak percaya.
Ada sedikit rasa tidak suka di dalam hati tuan Davies ketika putrinya sendiri belum mau memanggilnya ayah, namun tidak apa asalkan putrinya sudah mau dekat dengannya.
"Silahkan masuk ke dalam." Ucap Eva lalu mengarahkan ketiganya masuk ke dalam mansionnya. "Jadi, tetangga yang pindah di samping adalah tuan Davies?" Ujar Eva.
Tuan Davies mengangguk. "Tentu, ayah tidak ingin berjauhan denganmu."
"Dan kakek juga ingin lebih dekat denganmu." Ucap tuan besar Helios dengan senyumannya.
"Kita tinggal bersebelahan, mungkin kita akan sering belanja dan menghabiskan waktu bersama nantinya." Ujar Nyonya Hanna kepada Eva.
"Sebagai, penyambutan ayah ingin kamu dan suamimu makan malam bernama nanti malam? Bagaimana?" Tanya tuan Davies kepada putrinya.
"Aku tidak bisa menolaknya." Sahut Eva.
Bersambung…….
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Like 👍...
...Komen 💬...
...Vote...
...😗😗😗😗...