Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Delapan



Dua hari berlalu sejak Nadin pergi ke apartemen Juna. Sejak saat itu, dia tidak bisa berhenti merasa gundah. Bahkan tiap detik Juna selalu muncul dalam pikirannya. Dia selalu bertanya-tanya apa yang sedang pacarnya itu lakukan, di mana, dengan siapa… Bahkan dia tidak pernah bisa lepas dari ponsel. Hanya sekedar untuk menunggu


balasan.


Saat ini pun Nadin terduduk pada bangku di depan danau. Dia sedang ada syuting iklan hari ini. Di tengah waktu istirahat pun yang dia pikirkan hanya menunggu balasan Juna.


“Perasaan kamu main hape terus,” ucap Axel, sembari mengambil ponsel Nadin.


“Axel! Balikin, gak?!” Nadin tampak sangat panik dan langsung merebut paksa benda miliknya.


“Santai… santai… Ini, minum dulu.” Axel memberikan segelas kopi pada Nadin. Dan turut bergabung duduk pada bangku yang ada.


Dia sedang tidak ada pekerjaan saat ini, dan hanya iseng mengikuti Nadin ke tempat tersebut.


Nadin tidak langsung meneguk kopi yang dia terima. Justru terdiam dan melamun. Membuat Axel langsung bertanya-tanya. “Kamu kenapa?”


“Apanya?”


“Kenapa melamun gitu?”


“Siapa yang melamun?”


“Kayaknya dari kemarin kamu gitu juga.”


Nadin pun menyeruput kopinya. “Paling aku cuma pura-pura gak lihat aja, soalnya males ketemu kamu.”


“Ouch. Sakit…” Axel berlagak seakan rasa sakitnya nyata dan memegang dada, dan tertawa. Tapi raut wajah Nadin memang tidak seperti biasanya. Tiap kali diganggu pun tidak lagi marah-marah seperti yang selalu dia lakukan.


“Eh, tadi aku nemu spot bagus buat foto Amstagram. Ke sana yuk.”


“Males, ah.”


Tanpa menghiraukan balasan Nadin, Axel langsung menarik tangannya paksa. Membuat Nadin mau tidak mau mengikuti lelaki itu—entah menuju ke mana. Dia ingin protes dan marah seperti biasa, tapi ada perasaan yang membuatnya malas untuk melakukannya. Perasaanya masih tidak karuan hingga membuatnya malas bercanda.


Axel berhenti di sisi lain danau, di mana terdapat sebuah gapura yang dihiasi oleh tanaman rambat. Di dalam sana, ada sebuah taman yang dipenuhi dengan berbagai bunga warna-warni yang cantik.


Untuk beberapa detik, pemandangan yang ada berhasil membuat Nadin terpana. “Wah…” gumamnya pelan.


“Gimana, mood-nya baikan?”


Nadin melirik sinis ke arah lelaki di sampingnya. “Sok, tahu,” balasnya. Dia sendiri tidak sadar kalau sejak tadi wajahnya terus menyiratkan kegelisahan. Sekarang dia justru bingung kenapa Axel bisa menebak suasana hatinya.


“Hatiku ini sangat peka Kalau kamu ngerasa bete atau sedih, aku pasti bisa langsung tahu,” jawab Axel dengan nada yang dilebih-lebihkan. Dia memegangi dadanya dengan sebelah tangan.


“Huh,” Nadin mendengus. “Sebelum kamu muncul, mood aku baik-baik aja, tuh!” Dia mengembalikan pandangan ke depan. Bibirnya pun sedikit tersungging. Warna-warni petal bunga yang berserakan di dengan hamparan dedaunan hijau, berhasil menyihir suasana hatinya perlahan. Ditambah dengan angin yang membelai rambutnya dengan lembut.


Melihat semua itu, membuat Axel tidak berani menginterupsi. Dia pun turut menikmati pemandangan dalam diam.


“Ya udah lah! Aku malas bahasnya lagi!”


“Kamu begitu karena belum dengar penjelasanku, kan?”


“Terus aja ngomong kayak gitu. Mau sampai kapan?”


Ketenangan pun berakhir setelah sayup-sayup terdengar suara pertengkaran yang mendekat. Nadin bisa langsung menyimpulkan seperti itu, karena si wanita bicara dengan nada tinggi. Entah siapa dua orang itu, tapi Nadin merasa lebih baik dia pergi dari sana sebelum suasana menjadi canggung karena berpapasan dengan orang itu.


“Kenapa?” tanya Axel. Dia melihat ekspresi Nadin tiba-tiba berubah.


“Kayaknya kita harus pergi sekarang.”


Mereka berdua pun berjalan ke arah gapura—yang merupakan pintu keluar masuk taman tersebut. Hendak berbelok ke arah kanan, berlawanan dengan sumber suara yang kian mendekat itu.


Akan tetapi, kaki Nadin spontan terhenti, saat pojokan matanya menangkap sosok yang dia kenal. Saat menolehkan kepala ke arah sumber suara pertengkaran, dia sangat yakin bahwa yang ada di sana adalah Juna.


Juna dan seorang wanita—yang Nadin yakini adalah model yang sempat dia tabrak dulu—berdiri tak jauh dari sana. Sembari masih terus mendebatkan sesuatu yang entah apa.


Wajah wanita itu tampak kesal sekali. Garis wajahnya yang memang sudah tegas, tambah menunjukkan seberapa marahnya dia saat ini. Sementara Juna, masih tetap tampak tenang seperti biasa. Dahinya hanya tampak agak mengerut karena merasa tak tahan terus diomeli seperti itu.


Axel kembali bertanya-tanya dalam hati, kenapa ekspresi Nadin kembali berubah, bahkan berhenti tiba-tiba tanpa berkata. Saat baru saja menoleh ke arah yang sama, Nadin mulai melangkah ke arah orang yang tengah bertengkar itu. Mulai membuat Axel merasa khawatir karena Nadin tengah menuju ke arah badai—yang mungkin bisa menyakiti dirinya sendiri.


Mala yang tampak emosi, mendadak terdiam saat menyadari Nadin tengah berjalan ke arahnya. Bahkan memilih untuk tidak melanjutkan kalimat yang bahkan belum selesai diucap. “Ugh, I hate you!” gerutunya, sembari pergi meninggalkan Juna yang berusaha keras menahan keterkejutannya. Lelaki itu pun mengembuskan napas panjang.


“Kak Juna, ngapain di sini?”


Juna tersenyum tipis. “Kebetulan aku ada pemotretan di tempat ini. Tadi aku dengar kamu lagi ada syuting di sini juga.”


“Oh…” Nadin terdiam sesaat. Entah kenapa dia tidak bisa jujur kepada diri sendiri. Padahal ingin sekali bertanya apa yang terjadi pada Juna dan model cantik tadi. Tapi, kata-katanya selalu tertahan di tenggorokan.


“Baru aja aku mau cari kamu. Kerjaannya sudah selesai?” tanya Juna. Dia mengusap-usap kepala Nadin pelan.


“Belum. Habis istirahat take satu kali lagi. Habis itu selesai.”


“Jangan lupa makan ya. Aku ada pemotretan sore dan malam di sini. Jadi baru selesai agak malam.”


“Okay.” Nadin mendongakkan kepala dan tersenyum. “Kak Juna juga jangan lupa makan ya. Nanti kabari aku kalau sudah pulang.”


Axel masih berdiri di tempat sama saat Nadin berbalik arah dan berjalan ke arahnya. Dia melihat wajah wanita tersenyum—agak dipaksakan, yang perlahan mulai menghilang.


Untuk beberapa saat, dia sempat bertemu pandang dengan Juna. Saling menghunuskan tatapan tajam, sebelum akhirnya Juna lebih dulu berjalan menjauh.


“Pacarmu lagi ada kerjaan di sini juga?”


“Hu’um,” jawab Nadin singkat.


“Itu tadi model Mala itu, kan? Mereka kenapa?”


“I don’t know.”


“Gila, aslinya cantik banget. Tinggi, ramping. Tapi masih kalah kalau dibandingin sama kamu.” Axel berkata sembari nyengir, dan sedikit membungkukkan badan untuk melihat ke arah wajah Nadin.


Namun, wanita tersebut tidak merespons. Air wajahnya sudah tak karuan. Tampak agak memerah menahan tangis.


“Xel, maaf, habis ini aku kayaknya mau langsung pulang. Kita makan kapan-kapan lagi aja.”


“No problem.”


“Kamu gak usah tunggu aku sampai selesai.”


“Gak apa. Aku lagi gak ada kerjaan hari ini. Daripada bosen sendirian, aku mending liat syuting.”


Pembicaraan pun terhenti. Menyisakan suara kerikil yang tergilas oleh keduanya di sepanjang jalan. Hingga keberadaan mereka sudah hampir sampai di tempat para kru yang sudah bersiap-siap melanjutkan syuting.


“Aku ada di sini ya. Kalau-kalau kamu berubah pikiran.”


Nadin hanya mengangguk, lalu lanjut berjalan ke tempat kru make-up. Dengan perasaan tak karuan yang harus dia tahan untuk beberapa waktu.