
Pagi ini hujan menyiram bumi dengan lebatnya. Nadin sangat senang saat-saat seperti itu, karena dia bisa menikmati bau khas yang muncul. Hanya saja, dia tidak suka kalau harus mendengar gemuruh dan kilat dari atas langit. Membuat mood-nya memburuk seketika.
Nadin baru saja selesai sarapan saat seseorang menekan bel apartemennya. Dia menghela napas dalam-dalam saat tahu Frans yang ada di luar sana. Lelaki itu pun masuk setelah pintu dibuka. Lalu memberikan kantong plastik berisi makanan.
“Kamu sudah sarapan?”
“Sudah. Terima kasih,” balas Nadin dengan nada dingin. Namun dia tetap menerima pemberian Frans.
Lelaki itu pun masuk dan duduk di atas sofa. Sementara Nadin menaruh makanan ke atas meja makan. Sengaja dia lakukan perlahan untuk menghindari percakapan dengan Frans.
“Apa ada orang yang datang ke sini tanpa sepengetahuanku?”
‘Deg’ dada Nadin seakan terhantam sesuatu dengan kencang. “Cuma tukang ojek yang mengantar makanan.”
“Apa orang itu harus sampai masuk ke dalam sini?”
Nadin merasa yakin kalau Frans pasti mengawasinya diam-diam. “Kau mengawasiku ya?” tanyanya dengan kesal.
“Padahal baru sebentar, tapi kau sudah melanggar perjanjian kita. Enaknya, aku apakan orang itu kali ini?”
Frans pun bangkit, dan berjalan santai sembari mengetikkan sesuatu di dalam ponselnya. Nadin mulai tidak bisa tenang.
“Sudah kubilang, jangan coba-coba ganggu dia!” Nadin berjalan cepat ke arah Frans.
“Kamu sendiri yang seakan mengujiku. Akan kubuktikan kalau aku gak pernah bermain-main dengan perkataanku. Sekali kamu membuat masalah, orang yang kamu pedulikan—yang akan menanggung akibatnya.”
Frans pun lanjut melangkah keluar. Meninggalkan Nadin dengan kepanikan yang semakin menjadi-jadi.
Wanita itu pun segera berjalan cepat ke arah mejanya. Mengambil kertas yang terlipat dari dalam laci. Dia sudah punya firasat kalau Frans akan menyita ponselnya, jadi dia sudah mencatat nomor telepon penting untuk berjaga-jaga.
Nadin langsung menelepon nomor Axel, namun berkali-kali dicoba pun tidak kunjung diangkat. Kemudian dia menelepon ibu Axel, dan tentu saja ibu Axel berpikir kalau sang anak pasti ada di rumahnya, atau sedang pergi ke restoran.
Rasa cemas yang semakin menjadi-jadi membuat Nadin memilih untuk pergi dari apartemen, untuk mencari Axel. Dia sangat yakin kalau Frans pasti sedang berencana untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada lelaki itu. Dan dia akan merasa sangat bersalah kalau hal itu sampai terjadi.
Nadin bahkan tidak peduli bajunya terbasahi air hujan. Dia hanya berpikir untuk menemukan Axel secepatnya.
Nadin pergi ke semua restoran Axel, namun tak kunjung menemukan keberadaannya. Lalu menuju ke rumah Axel, dan lelaki itu pun tak ada di sana.
‘Kamu di mana…?’
Rasa sesak yang terasa di dalam dada, membuat Nadin tak lagi bisa menahan tangis. Akhirnya dia hanya bisa terduduk lemas di depan pintu rumah Axel sembari membasahi pipinya dengan air mata. Suara isak tangisnya berbaur dengan suara hujan yang tak kunjung mereda.
Nadin sangat takut kalau harus mendengar kabar buruk soal Axel lagi hari ini. Kalau sampai Frans melukai Axel, mungkin dia benar-benar akan mengakhiri hidupnya sendiri kali ini.
Di luar dugaan, saat itu Axel muncul. Dia baru saja kembali ke rumahnya, sembari membawa paying dan menjinjing kantong kresek hitam yang terisi penuh. Betapa terkejutnya dia saat melihat Nadin tengah terduduk sembari menangis di depan pintu rumahnya. Bahkan baju wanita tersebut tampak basah kuyup.
“Astaga, Nadin? Kamu kenapa?”
Mendengar suara Axel, membuat Nadin spontan bangkit dan menyerbu lelaki tersebut dengan pelukannya. Lalu menangis sejadi-jadinya. “Syukurlah… kamu gak apa-apa…” ucapnya terbata-bata.
Sudah pasti ada sesuatu yang Frans lakukan lagi, pikir Axel. Meski kali ini dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah lelaki itu perbuat.
“Kenapa kamu datang sampai hujan-hujanan gini?” tanya Axel. Dia berkata dengan sangat hati-hati dan dengan nada lembut. Namun Nadin justru kembali menangis.
“Dia… dia tahu kamu mendatangiku kemarin. Dan, dia bilang akan melakukan sesuatu untuk membalasnya. Aku takut kamu kenapa-napa…”
Axel pun memeluk Nadin. Membiarkan wanita itu meluapkan kesedihan dalam pelukannya. “Aku gak kenapa-napa, kok…”
“Maaf…”
Axel melihat ke arah wajah Nadin dan menghapus linangan air mata pada pipi wanita tersebut. Dia tidak bisa tahan kalau harus melihat Nadin terus tersiksa seperti itu. “Aku juga minta maaf ya… Aku malah bikin kamu tersiksa kayak gini cuma buat ngelindungin aku. Bener-bener gak berguna…”
“Enggak… dari awal semuanya memang salah aku. Kalau saja aku gak ketemu sama orang itu…”
“Kita emang gak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi… apa kamu bakal terus hidup kayak gini? Karena jujur, aku mungkin gak akan bisa ngebiarin itu terjadi.”
Nadin seketika terdiam. Dia masih belum berani menatap balik Axel yang duduk di sampingnya.
“Kamu gak benar-benar mau ninggalin aku selamanya, kan?” tambah Axel lagi.
Kali ini Nadin menggeleng. “Aku gak pernah mah hal itu terjadi. Tapi… aku butuh waktu buat cari cara untuk melepaskan diri dari Stefan.”
“Aku pasti akan bantu.”
“Enggak. Tolong biarin aku melakukan ini semua sendiri. Tolong janji janji kamu mau menunggu, tapi jangan lakukan apa pun buatku!” ucap Nadin dengan tegas, sembari menatap lekat Axel.
Tentu saja Axel tidak bisa menerima begitu saja. Namun, dia terpaksa berbohong agar Nadin merasa tenang. “Aku sudah pernah bilang kan, kalau akan menunggu kamu sampai kapan pun. Dan aku janji gak akan melakukan apa pun,” balasnya sembari tersenyum.
“Makasih, Xel…”
Axel sedikit tertawa. “Kenapa kamu panggil aku Axel lagi?” Dia pun mengusap kepala Nadin beberapa kali sebelum berjalan ke arah kamar karena mendengar ponselnya berdering.
Nadin masih menunggu Axel kembali sembari meneguk teh hangatnya. Kepalanya tak henti berpikir, mencari cara untuk membuat Frans tidak lagi membutuhkannya. Apakah cukup dengan membantunya menjalin kerja sama dengan Dwiyatno?
Tak berapa lama, Axel kembali ke tempat Nadin dengan terburu-buru. Wajahnya tampak sangat tegang karena sesuatu. “Barusan Kak Ramos telepon. Katanya, Bang Tyo masuk rumah sakit.”
“Hah? Kok, bisa?”
“Ada kawanan rampok yang melukainya.”
Tanpa menunggu apa pun lagi, Axel dan Nadin bergegas pergi ke rumah sakit. Di jalan, mereka lanjut menelepon dengan Ramos yang sudah lebih dulu pergi. Ramos bilang Tyo akan menjalankan operasi karena luka yang diterimanya sangat parah.
“Dia ditikam berkali-kali dengan senjata tajam. Ada warna yang menemukannya tergeletak di luar mobilnya. Setelah dicek, dompet dan ponselnya hilang,” jelas Ramos. “Tapi… anehnya mobil Tyo gak dibawa oleh perampok itu.”
Tentu saja hanya ada satu alasan yang bisa menjelaskan keanehan itu, pikir Nadin. Dia jadi merasa teledor karena sudah berpikir kalau Frans pasti akan melakukan sesuatu kepada Axel. Padahal, Frans hanya bilang akan membalasnya kepada orang yang dia pedulikan, dalam arti lain, bukan hanya Axel. Sudah pasti Frans pun tahu kalau Tyo cukup dekat dengan Nadin karena sudah bertahun-tahun menjadi manajernya saat di manajemen.
Axel menyadari perubahan pada raut wajah Nadin, seakan memberitahukan apa yang tengah wanita itu pikirkan. Dia pun menggenggam tangan Nadin dengan tangan kiri, sembari tetap fokus mengendarai mobilnya.
“Bang Tyo pasti baik-baik saja,” ucap Axel menenangkan.
‘Semoga…’