
Malam itu, Nadin baru saja selesai meeting dengan label rekaman pukul tujuh. Padahal acara yang diberitahukan Stefan pun dimulai pada jam yang sama. Belum lagi dia perlu mengganti pakaian sebelum datang ke acara.
‘Aku lambat datangnya ya. Baru aja selesai nih.’ Nadin mengetikkan sederet pesan kepada Axel yang sudah sampai sejak beberapa menit lalu di lokasi. Lalu dia melesat pulang dengan cepat, dan kembali pergi ke luar rumah.
Bahkan Nadin hanya sempat dandan di dalam taksi selama perjalanan. Agak panik karena rambutnya tampak agak berantakan. “Aduh…” gumamnya, sembari menyisir rambut menggunakan jari.
Sesampainya di depan gedung acara, Nadin yang terburu-buru langsung membuka pintu mobil dan hampir melesat sebelum membayar ongkosnya. “Mba! Uangnya!” teriak si sopir.
Nadin langsung menghentikan langkah dan berbalik arah. “Aduh!” ucapnya lagi sembari menepuk dahi. “Maaf ya, Pak. Saya buru-buru sampai lupa,” ucapnya sembari nyengir.
Hanya saja, dia kembali panik saat menyadari dompetnya tidak ada di dalam tas. ‘Hah, jangan bilang ketinggalan!’
Saat hendak menelepon Axel, dia pun baru sadar kalau ponselnya tidak ada juga di dalam tas.
‘Astaga, Nadin! Semuanya aja lupa dibawa!’ Rasanya dia kesal sejadi-jadinya kepada diri sendiri. Karena pergi dengan terburu-buru, dia hingga tidak memastikan dompet dan ponselnya sudah masuk ke dalam tas. Dia justru
hanya ingat harus membawa alat make up saja.
Si sopir taksi sudah mulai kesal karena penumpangnya lama sekali mengorek-ngorek tasnya.
“Em… maaf, Pak. Saya masuk dulu ke dalam ya.”
“Eh, gak bisa, Mba. Bayar dulu baru pergi.”
“Saya lupa bawa dompet. Saya mau pinjam dulu ke teman saya di dalam.”
“Ya temannya saja yang suruh ke sini.”
“Masalahnya… hp saya juga ketinggalan…”
“Ah alasan, pasti Mba mau pergi tanpa bayar, kan?” sahut si sopir dengan nada kesal.
“Enggak, Pak. Beneran deh. Bisa lihat di tas saja gak ada apa-apa.”
“Saya gak mau tahu, pokoknya harus bayar dulu sekarang!”
Rasanya Nadin ingin sekali marah. Si sopir taksi sama sekali tidak memberikannya waktu untuk menyelesaikan masalah. Justru membuatnya semakin pusing dan emosi.
“Ada apa?” Sebuah suara muncul dari arah belakang Nadin. Dia langsung berbalik arah dengan sedikit terkejut.
Seorang lelaki berambut hitam, dengan mata yang tajam ada di sana. Tubuhnya yang tegap dan tinggi dibalik setelan jas biru dongkernya seakan menunjukkan bahwa dia bukan orang biasa.
“Mba ini mau pergi tanpa bayar,” balas si sopir taksi.
“B-bukan. Dompet saya ketinggalan!”
“Biar saya yang bayar. Berapa?” Akhirnya, lelaki tersebut menggantikan Nadin untuk membayarkan ongkos taksinya. Membuat si sopir yang terus menggerutu kesal sedari tadi langsung melesat dari hadapannya.
Akhirnya, Nadin bisa menghembuskan napas penuh kelegaan. Meksipun cukup merasa malu karena harus mendapatkan bantuan dari seseorang.
“Akhirnya kita ketemu lagi ya,” ucap si lelaki. Sembari memberikan senyuman pada wajah tegasnya yang sekilas tampak galak.
Tentu saja Nadin ingat siapa orang itu. Seorang direktur perusahaan kontruksi yang cukup memiliki nama. Namanya Frans Alberta Zabran. Meski baru saja memasuki usia kepala tiga, namun dia sudah memiliki saham di berbagai perusahaan.
Nadin bertemu dengan Frans saat masih di Amerika. Mereka terbilang cukup sering bertemu beberapa bulan sebelum akhirnya Nadin kembali ke tanah air. Namun setelah itu, keduanya tidak pernah berhubungan lagi. Bahkan Nadin sama sekali tidak tahu kalau Frans akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat.
“Makasih ya. Maaf harus ketemu kayak gini. Aku jadi malu…” Nadin benar-benar merasa tidak enak. “Omong-omong, aku pikir kamu bakal masih lama di Amerika.”
“Rencananya begitu, tapi karena Pak Adyawiguna mengadakan acara ini, jadi aku sekeluarga pulang.”
“Oh… Kamu join proyek Smart City ya.”
“Sudah pasti. Sudah dari lama ayahku mengincar proyek itu. jadi begitu tahu ada acara, dia langsung beli tiket.”
“Wah…” Nadin sedikit tertawa karena tidak pernah bisa membayangkan kehidupan keluarga kaya seperti itu. Sama seperti keluarga Juna tiap kali pergi berlibur, rasanya tidak ada bedanya saat mereka hendak berlibur ke luar negeri dan dalam negeri.
“Kamu sendiri kenapa ada di sini?”
“Aku diundang buat datang. Sekalian nyapa Pak Adya juga, soalnya sudah lama gak ketemu.”
“Kalian masih berhubungan baik ya.”
“Iya…”
Sedikitnya Frans tahu soal kabar kepergian Juna lewat cerita yang dia dengar dari Nadin.
Frans sedikit tertawa kecil. “Gak usah. Waktu itu juga kamu banyak bantu aku, kan.”
“Jangan begitu, dong. Aku jadi gak enak.”
“Kalau gitu aku minta ganti dengan hal lain saja.” Frans menyodorkan ponselnya ke arah Nadin. “Kasih aku nomor hpmu.”
Tanpa berkomentar apa pun, Nadin pun memasukkan nomor ponselnya, dan mengembalikan benda tersebut ke si pemilik. “Cuma gitu aja?”
“Aku jarang jalan-jalan, jadi gak pernah tahu tempat makan yang enak. Kamu mau temani aku makan, kan?”
Nadin berpikir sejenak. Dia merasa ragu untuk mengiyakan, namun di satu sisi merasa tidak enak karena sudah dibantu. Mungkin dia akan mengajak Axel juga kalau memang Frans mengajaknya pergi, pikirnya.
“Hm… oke. Kalau memang sedang gak sibuk, akan aku antar.”
"Aku senang bisa ketemu kamu lagi. Dan aku rasa kita bakal sering ketemu setelah ini."
Saat itu, Axel tengah menunggu dengan tidak tenang di dalam sebuah ruangan yang sudah dipenuhi tamu undangan. Stefan ada bersamanya sejak tadi, sembari menyicipi makanan yang tersedia.
“Tenang aja sih, gak lama Nadin pasti sampai.”
“Kalau dia angkat telepon sih aku gak akan khawatir,” balas Axel. Beberapa kali dia melirik ke arah jam tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan lewat. Masalahnya, dia cemas karena Nadin sama sekali tidak membalas pesan dan mengangkat telepon.
“Hm…” balas Stefan, sebelum menyuapkan sepotong semangka. “Agak khawatir sih, kalau tiba-tiba di tengah jalan dia ketemu laki-laki yang lebih keren, kaya, perhatian, terus milih buat pergi sama orang itu.”
Seperti biasa, Stefan masih senang menggoda Axel yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Bukan begitu! Kalau dia sampai diganggu orang jahat, gimana?!”
Mata Axel terus tertuju ke arah pintu masuk. Sedari tadi berharap untuk melihat sosok Nadin masuk dari balik sana.
Hingga akhirnya, orang yang dia tunggu pun menampakkan diri. Berjalan bersama seorang lelaki yang sama sekali tidak dia kenal.
Axel masih terus memandangi kedua orang yang tengah berbicara dengan akrab itu. Sembari mulai bertanya-tanya dalam hati.
“Ternyata apa yang dibilang Stefan benar…” bisik si lelaki rambut perak di samping telinga Axel.
“Argh! Apaan, sih! Kamu mau mati ya!” sahut Axel yang terkejut. Dia langsung menggosok-gosok telinganya.
“Kamu pasti berpikir kayak gitu, kan?”
“Enggak!”
Nadin pun berjalan mendekat dengan cepat. “Dion!” ucapnya, sembari tersenyum. “Maaf ya, aku lama…”
“Kenapa kamu gak angkat telepon daritadi?”
“Tadi buru-buru banget, sampai hp ketinggalan di rumah. Maaf ya…”
Axel pun menghembuskan napas lega. Lalu menepuk kepala Nadin pelan. “Syukurlah kamu gak kenapa-napa. Aku sampai khawatir…”
“Sebenarnya dia lebih kkhawatir mikirin siapa laki-laki yang barusan datang bareng kamu,” sambung Stefan. Padahal, dia sendiri sudah tahu siapa Frans.
“Kamu daritadi gak bisa diam apa!” protes Axel. Meski dalam hati mengiyakan.
“Tadi itu Frans. Aku kenal dia sewaktu di Amerika,” balas Nadin. “Dia dan ayahnya punya perusahaan kontruksi. Katanya mereka gabung di proyek Smart City. Kak Stefan emangnya gak tahu?”
“Tahu, sih…”
“Kalau tahu ngapain nanya lagi?” celetuk Axel, masih dengan nada kesal.
“Masalahnya, kalau bukan aku, kamu pasti gak akan tanya,” jawab Stefan santai. “Tapi, Nad. Kalau aku boleh saran, lebih baik kamu jangan dekat-dekat sama orang itu.”
Perkataan Stefan langsung memancing rasa penasaran Nadin dengan seketika. “Kenapa, Kak?”
“Sebenarnya, Juna yang tahu lebih banyak. Tapi, aku hanya dengar kalau orang itu berbahaya. Jadi, lebih baik jaga jarak.”
“Aku setuju, sih,” tambah Axel. “Kalau orang yang suka sama kamu tambah banyak, nanti aku repot,” ucapnya dengan malu-malu.
“Soalnya dia ngerasa pasti bakal kalah.”
“Sembarangan!”
Nadin hanya bisa tertawa melihat dua orang di hadapannya yang selalu saja beradu mulut tiap kali bertemu. Tapi, semua itu menunjukkan kalau keduanya semakin bertambah akrab.