Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Sepuluh



‘Aku tunggu di kantorku sebelum pukul 10 besok.’


Nadin terus menerus melirik ke arah jam tangannya. Belum lama sejak jarum pendek pada jam mengarah ke angka satu. Entah kenapa dia tidak bisa merasa tenang sejak pagi. Padahal sama sekali tidak ada hal buruk yang terjadi. Atau mungkin belum.


“Kamu kenapa, sih? Daritadi lihat jam terus. Ada janji?” tanya Axel dengan wajah bingung. Dia tidak sengaja menangkap gelagat aneh Nadin sedari tadi.


“Enggak, kok.”


“Hm… Apa kamu bosan?”


Nadin menggeleng. Lalu menyandarkan kepala pada bahu Axel yang duduk di sampingnya. “Justru aku gak mau jauh-jauh dari kamu,” balasnya.


Axel pun tertawa. “Kenapa kamu mendadak manja gini?”


Mereka berdua terduduk di atas bangku yang ada di tepi pantai. Sudah dari beberapa hari lalu mereka berencana untuk pergi ke tempat tersebut. Setelah Nadin agak merengek karena sudah lama tidak pergi ke pantai. Tapi, kali ini dia justru tidak bisa benar-benar menikmatinya.


“Maaf ya, baru bisa ajak ke pantai yang dekat. Next-nya, aku bakal ajak kamu ke Bali, atau Lombok,” jelas Axel. Dia masih berpikir kalau Nadin merasa kecewa karena hanya diajak ke pantai yang berjarak dua jam dari tempat tinggal mereka.


“Kapan?”


“Nanti sewaktu bulan madu.”


Nadin pun tertawa. “Jangan lupa ajak keluargamu juga. Mereka pasti mau jalan-jalan jauh.”


“Lha, masa bulan madu ngajak-ngajak orang? Kamu mau diikutin sama mereka tiap pergi ke mana-mana?”


“Yaa… kita booking hotel yang beda sama mereka, dong.”


Keduanya pun lanjut bercanda, mengobrol dengan asik, dan berjalan-jalan sembari menikmati makanan yang di jual di sekitar sana. Semuanya berhasil membuat Nadin lupa akan kegelisahannya. Setidaknya hingga sebuah telepon masuk ke dalam ponsel Axel.


Nadin melihat dengan jelas ekspresi wajah Axel yang mendadak serius. Perlahan mulai bisa menangkap raut keterkejutan dan kekhawatiran pada wajah sang pacar.


“Maaf, Nadin. Kita harus pulang sekarang,” ucap Axel. Dia tampak sangat terburu-buru, mengajak Nadin kembali ke arah mobilnya terparkir.


“Kenapa? Ada apa?”


“Restoranku didatangi polisi.”


“Hah? Kok, bisa?”


“Entahlah, pegawaiku panik sampai gak bisa menjelaskan dengan baik.”


Nadin pun tidak bertanya apa pun lagi. Dia hanya duduk dengan mulai berkeringat dingin. Apalagi saat Axel menyetir dengan kecepatan tinggi.


Dia terus berpikir, apakah kejadian ini ada hubungannya dengan Frans? Atau hanya kebetulan semata?


Sekitar pukul lima, Axel dan Nadin baru saja sampai di depan restoran Axel. Di mana banyak orang berkumpul. Tempat tersebut sudah dijaga oleh beberapa polisi, dan diberikan segel agar tidak ada siapa pun yang masuk.


Para pegawai Axel langsung berlarian saat melihat kehadiran sang bos. Mereka semua tampak panik dan mengharap bantuan.


Axel lekas menemui polisi yang ada, bermaksud meminta penjelasan. Namun, dia justru disambut dengan surat perintah penangkapan.


“Kami mendapatkan laporan soal penyalah gunaan obat terlarang di restoran ini. Anda harus ikut kemi ke kantor polisi,” jelas salah seorang polisi yang langsung memborgol tangan Axel sebelum menggiringnya ke dalam mobil.


Para wartawan yang ternyata sudah hadir lebih dulu, bergabung dengan gerombolan orang yang datang karena penasaran. Semuanya saling berdesakkan, bahkan hingga membuat Nadin kesulitan untuk menyusul Axel.


Nadin pun langsung berlari ke arah mobil Axel, lalu memakainya untuk turut pergi ke kantor polisi. Dia terus mengekor di belakang para polisi agar tidak perlu tertinggal. Namun dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk setidaknya mengobrol dengan Axel. Lelaki itu diseret ke ruangan yang kemudian tidak bisa Nadin masuki.


“Sebaiknya Anda berikan penjelasan! Kalian tidak bisa bertindak seenaknya tanpa alasan seperti itu!” protes Nadin kepada salah seorang polisi. Suaranya yang nyaring bahkan mencuri beberapa orang petugas lain yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Tolong duduk sebentar, Bu. Akan saya jelaskan,” ucap polisi berkumis dengan tenang. Dia mempersilakan Nadin untuk duduk di depan mejanya.


“Belakangan ini kami sedang gencar dalam penyelidikan para organis gelap yang memperjualbelikan obat-obatan terlarang. Hingga akhirnya kemarin baru berhasil menangkap salah seorang dari Bandar tersebut,” si polisi mulai menjelaskan. “Setelah dilakukan interogasi yang sangat panjang, akhirnya kami mendapatkan satu informasi soal ke mana orang tersebut mendistribusikan barang dagangannya. Dan kami mendapatkan nama Bapak Dion disebut.”


“Orang itu bilang kalau dia sudah beberapa kali mengirim barang ke restoran Bapak Dion.”


“Kenapa bapak percaya omongan orang itu begitu saja? Bisa saja dia mencoba mencemari nama baik Dion!”


“Iya, kami tentu sudah melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengambil beberapa sample makanan dan diperiksa di lab. Dan hasilnya, makanan dari restoran Pak Dion positif mengandung zat yang sama dengan yang terkandung dalam barang orang yang kami tangkap.”


“Apa saya bisa menemui orang yang kalian tangkap kemarin?”


“Maaf, untuk saat ini belum bisa. Orang tersebut masih dalam masa pemeriksaan.”


Nadin tidak memiliki pilihan lain untuk pergi dari kantor polisi, karena sudah tidak ada yang bisa dia lakukan di sana. Selanjutnya, dia hanya terpikir untuk menelepon Stefan. Orang yang paling memungkinkan untuk membantu hanyalah Stefan, pikirnya.


“Aku akan meminta pengacaraku untuk membantu Axel. Secepatnya kami akan ke sana,” ucap si lelaki berambut perak melalui telepon.


“Iya. Makasih, Kak.”


Sembari menunggu Stefan datang, nadin hanya bisa mondar mandir di depan kantor polisi—dengan tidak tenang. Berharap semua permasalahan bisa selesai di malam ini.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di hadapannya. Dia pikir Stefan atau pengacara yang dia maksud lah yang sampai. Namun justru lelaki berkaca mata hitam yang muncul dari balik kaca mobil.


“Pak Frans menunggu Anda di kantornya,” ucap lelaki misterius tersebut dengan nada dan wajah datar.


Seketika, Nadin teryakinkan bahwa semua kejadian ini memang ulah Frans. Karena dia tidak menuruti perkataan lelaki tersebut.


Awalnya, Nadin berpikir untuk tetap tinggal dan menunggu Stefan. Namun, lelaki yang merupakan anak buat dari Frans situ kembali berkata. “Dia bilang ini kesempatan terakhir untuk Anda. Jika lewat dari hari ini, keadaan sudah tidak bisa diperbaiki lagi.”


Meski Stefan mungkin saja bisa menyelamatkan Axel, tapi Nadin jadi ragu karena tampaknya Frans memiliki power yang sangat besar. Dia takut menyesal jika tidak menuruti perkataan lelaki tersebut untuk yang kedua kalinya. Alhasil, dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang hingga sampai di sebuah gedung tinggi tempat Frans bekerja.


Si lelaki berkaca mata hitam memandu jalan Nadin. Dia pun berhenti di depan sebuah ruangan dan mempersilakan Nadin masuk setelah membukakan pintu.


Lelaki yang merupakan sumber dari permasalahan hari ini terduduk pada bangkunya. Tampak sibuk menuliskan sesuatu di dalam tumpukan dokumen. “Oh, ada tamu rupanya,” ucapnya, berlagak terkejut.


“Gak perlu basa basi. Kau kan, yang menyebabkan semua kekacauan ini?”


Frans pun bersandar pada punggung kursinya, dan menatap Nadin yang tampak emosi. “Kan, sudah kubilang. Datang ke tempatku tepat waktu, atau kamu akan menyesal. Tapi kamu justru memilih untuk menguji keseriusanku.”


“Sebenarnya apa yang kamu mau dariku?”


Si lelaki berwajah tegas itu pun bangkit. Dan berjalan ke hadapan Nadin. “Sudah kubilang, aku ingin kita melanjutkan hubungan seperti saat di Amerika,” ucapnya, sembari menyentuh rambut wanita di hadapannya.


Nadin pun mundur beberapa langkah. “Sudah kubilang, aku ini gak punya apa-apa! Gak ada untungnya kamu berurusan dengan orang sepertiku. Bahkan kamu jauh lebih kaya dariku. Kamu punya segalanya!”


Mendengar hal itu, Frans justru tertawa kecil. “Aku tahu. Yang gak aku punya cuma satu. Yaitu, kamu.”


“Gak masuk akal. Ada banyak perempuan yang jauh lebih cantik dan yang tergila-gila denganmu. Tapi aku cuma perempuan biasa yang ingin hidup tenang. Jadi tolong jangan ganggu aku!”


“Nadin… kamu pikir, kenapa ada orang yang lebih memilih mengoleksi mobil klasik dibandingkan mobil keluaran terbaru yang canggih? Kamu gak bisa memukul rata apa yang disukai semua orang. Kalau aku menginginkanmu, apa itu salah?”


Nadin hanya bisa terdiam. Sembari tetap waspada karena Frans terus berusaha melangkah mendekat ke arahnya.


“Selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Gak ada orang yang boleh menolak atau mengacaukannya. Begitu juga dengan kamu.”


“Dasar orang gila!” hardik Nadin. Dia berniat untuk lekas pergi dari ruangan tersebut. Namun, langkahnya seketika terhenti.


“Apa kamu melihat orang itu mendekam dalam penjara selamanya? Atau aku bantu supaya keadaan kembali normal seperti sedia kala, besok?”


Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam. Frans menanti jawaban dari Nadin yang masih berdebat dengan dirinya sendiri.


“Kau bisa mengembalikan keadaan sampai besok pagi?”


“Jangankan besok, malam ini pun bisa langsung kuselesaikan segera. Hanya tinggal menunggu jawaban ‘ya’ darimu.”