
“Baru ini yang bisa kami dapatkan. Karena tidak semua data base bisa diakses. Akan kami coba selidiki lebih lanjut,” jelas seorang lelaki berjas dan berkacamata hitam. Dia pergi setelah menyerahkan sebuah amplot cokelat terisi penuh kepada Stefan.
Beberapa helai kertas dan setumpuk foto ada di dalam amplop. Stefan membaca berkas tersebut dengan seksama, lalu menelepon Axel.
“Ya halo.” Suara Axel agak tertutup dengan suara bising dari kendaraan yang berlalu lalang.
“Kamu sedang naik motor? Telepon aku balik kalau sudah sampai.”
“Tunggu! Biar aku menepi dulu,” balas Axel langsung. Beberapa saat kemudian, suaranya pun terdengar lebih jelas. “Aku ke rumah Nadin pagi ini, tapi dia dan semua barangnya sudah gak ada! Dia benar-benar pergi begitu saja. Bahkan nomor teleponnya sudah gak bisa dihubungi.”
“Apa kamu sudah coba kontak ke tempat kerjanya?”
“Sudah! Dan mereka bilang Nadin sudah berhenti. Bahkan dia sudah memutus kerja sama dengan label rekaman yang biasanya. Aku yakin itu bukan keinginannya sendiri.”
“Iya, sudah pasti. Nadin gak mungkin melakukan sesuatu secara tiba-tiba kayak gitu.”
“Iya… terus, ada apa kamu nelepon?”
Stefan kembali melirik ke dalam berkas yang ada di dalam genggamannya. “Sepertinya aku tahu kenapa Frans membutuhkan Nadin.”
“Yang benar? Kenapa?”
“Perusaan Zabran itu sudah punya cukup nama di kalangan penyedia jasa kontruksi. Jadi, sudah tentu hampir semua pebisnis percaya untuk menggunakan jasa mereka. Tapi menurut info yang kudapat, ada satu pebisnis besar yang memiliki hubungan tidak baik dengan mereka. Sepertinya Frans sadar kalau nama perusahannya bisa jadi jatuh hanya karena satu orang itu saja. Dan dia sedang berusaha untuk menjalin kerja sama. Padahal dia sempat mendapatkan penolakan beberapa kali. Hingga terakhir dia sengaja pergi ke Amerika hanya untuk mengikuti pebisnis yang juga sedang tinggal di sana sementara waktu.”
Axel mendengarkan dengan seksama, namun dia masih belum paham sepenuhnya. “Lalu, apa hubungannya dengan Nadin?”
“Nama si pebisnis itu Dwiyatno. Dia salah satu donatur beasiswa yang diterima Nadin. Seorang pecinta musik juga. Saat di Amerika, dia selalu datang ke konser Nadin. Sepertinya dia dan isterinya suka kepada Nadin. Karena mereka berdua tidak bisa memiliki keturunan. Dulu sempat mengadopsi anak, namun meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu.”
“Maksudnya, Frans menggunakan Nadin untuk bisa menjalin kerja sama dengan orang itu?”
“Iya, aku pikir begitu.”
“Brengsek!” Axel merasa darahnya mulai naik ke kepala. Dia sudah tidak tahan ingin menemui dan menghabisi Frans dengan tangannya sendiri.
“Selain itu ada satu hal penting yang harus kamu tahu. Aku pernah bisa kalau dia orang yang berbahaya, bukan?”
“Iya. Aku mengerti, dia bisa melakukan apa saja dengan kekuasaan dan kekayaannya.”
“Bukan itu. Maksudku, dia benar-benar berbahaya. Dia manusia berdarah dingin yang bahkan berani menghabisi nyawa seseorang dengan tangannya sendiri.”
“Huh,” Axel mendengus. “Aku menghargai kekhawatiranmu. Tapi aku gak akan takut kepadanya.”
“Dengar, Xel. Dia jauh dari apa yang kau bayangkan. Aku mendapatkan data soal puluhan wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Frans. Dan kau tahu apa yang terjadi kepada sebagian besar dari orang-orang itu? Frans membunuh mereka.”
Kini Axel hanya bisa terdiam. Dia mulai merasakan kengerian dari sosok lelaki yang hanya dia temui beberapa kali itu. “Yang benar saja. Kalau memang dia melakukan hal kayak gitu, seharusnya semua orang gempar!”
“Itu kenapa aku bilang dia berbahaya. Dia sangat kuat sampai bisa menyembunyikan jejaknya. Frans bukan orang bodoh yang melakukan sesuatu tanpa rencana. Dan gak akan ragu melenyapkan siapa pun yang mengacaukannya.”
“Ini gila! Kita gak bisa ngebiarin Nadin ada di dekat monster kayak dia!”
***
“Kupikir kemampuan aktingmu sudah menurun, ternyata masih hebat juga.”
“Sebaiknya kau bayar aku sepadan buat ini semua.”
Frans sedikit tertawa. “Pasti.”
“Tapi, aku masih gak mengerti kenapa kamu harus repot hanya untuk menjalin kerja dengan Pak Dwiyatno. Dengan nama perusahaanmu yang besar itu, seharusnya aku gak diperlukan. Apa yang membuat dia kelihatan benci padamu?”
Nadin melirik ke arah Frans yang menyetir dengan wajah seriusnya seperti biasa. Namun tak kunjung mendapatkan jawaban untuk beberapa waktu. Seakan lelaki itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Kau tahu pun, gak akan mempengaruhi apa-apa.”
Nadin pun mendengus. “Kayaknya aku tahu kenapa. Sifatmu itu memang mudah memancing kebencian orang lain.”
Mobil pun berhenti di depan gedung apartemen. Nadin turun, dan Stefan melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
Padahal ini hari pertama Nadin ‘bekerja sama’ dengan Frans, tapi rasanya waktu berjalan sangat lambat. Bahkan dia merasa lelah karena sudah lama tidak pernah berakting seperti tadi. Berpura-pura ternyata cukup melelahkan.
Nadin pun berjalan masuk melewati pintu kamarnya dengan langkah gontai. Saat hendak menutup pintu, betapa terkejutnya dia karena seseorang mendadak menariknya. Seorang lelaki bertopi pun dengan cepat melesat masuk, dan menutup pintu dari dalam.
Bahkan Nadin tidak sempat melakukan apa pun, hanya bisa tertegun karena terkejut dengan mulut yang sedikit menganga. Apalagi setelah menyadari bahwa sosok lelaki bertopi itu tiada lain adalah Axel.
Axel pun memeluk Nadin erat dengan napasnya yang masih agak tersengal.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Nadin. Dia justru tidak memberikan respons yang diharapkan Axel.
“Kamu gak senang ketemu denganku?”
“Bu-bukan begitu. Tapi, kamu gak boleh ada di sini!” Tentu Nadin merasa cemas kalau-kalau Frans mendadak datang dan memergoki Axel ada di dalam ruangannya.
“Tolong dengarkan aku dulu, Nadin. Kamu harus cepat pergi dari sini. Frans itu orang yang berbahaya! Aku gak mau kamu terluka. Kita pergi saja sekarang dari sini.”
“Aku tahu, Xel…” balas Nadin. “Karena itu aku gak bisa pergi gitu aja. Kamu tahu sendiri apa yang Frans lakukan padamu waktu itu. Hanya dalam sehari dia bisa membolak-balikkan keadaan semudah itu! Dia pasti tahu kamu yang menjemputku kalau aku tiba-tiba pergi.”
“Aku gak peduli apa yang terjadi padaku. Yang penting, aku mau kamu aman, gak ada di dekat orang itu.”
“Tapi aku peduli soal kamu! Aku yang akan tersiksa kalau ada apa-apa sama kamu!”
Nadin pun membuka pintu dan berusaha mendorong tubuh Axel untuk keluar. “Please, Xel. Kamu masih punya keluarga yang membutuhkanmu. Jangan egois hanya karena orang kayak aku. Tolong jangan datang lagi ke sini!”
“Nad, Nadin!”
Nadin langsung membanting pintu, menutupnya rapat setelah Axel berada di luarnya. Lalu mengunci pintu dan menjauh dari sana.
Perasaannya mendadak jadi tak karuan. Rasanya benar-benar berat saat kamu harus menghindar dari seseorang yang sebenarnya sangat ingin kamu temui. Seperti itulah yang Nadin rasakan. Membuatnya terpaksa harus menghabiskan hari dengan kegelisahan dan penuh rasa bersalah.