
“Sekian untuk kelas hari ini. Jangan lupa latihan juga di rumah ya!”
“Iya, Bu!” sepuluh orang anak sekolah dasar menjawab serentak. Lalu mulai membereskan alat musik mereka, sebelum berhamburan dari ruang kelas.
Nadin masih berdiri di depan kelas. Tersenyum, sembari menunggu semua muridnya pergi. Dia senang sekali mengajar anak-anak kecil, dibanding dengan usia remaja. Menurutnya, umur-umur SD itu saat di mana potensi seorang anak bisa berkembang dengan pesat. Selain itu, dia memang suka anak kecil.
Ponsel dalam saku rok Nadin bergetar. Saat dilihat, tertera nama Dion di sana.
“Hei, kamu sudah selesai ngajar?”
“Baru aja selesai. Pas banget kamu nelepon jam segini.”
“Wah, pantesan aku ngerasa pengen nelepon kamu.”
Nadin terkekeh kecil. “Kamu lagi di restoran ya? Kayaknya rame banget.”
“Iya, nih. Hari ini resto di-booking buat acara tunangan.”
“Aku baru tau kamu kasih sewa buat acaranya juga.”
“Cuma di lantai duanya saja, sih. Ternyata selalu banyak yang telepon buat sewa.”
“Oh… Jangan-jangan kamu sengaja buat kayak gitu biar pas ngadain acara sendiri gak perlu sewa tempat ya?”
“Gak, dong! Aku gak akan bikin acara tunangan kita di sini.”
“Emangnya bakal tunangan sama aku?”
“Stop! Jangan ngomong sesuatu yang menyeramkan!”
Nadin pun tertawa. “Kamu masih sibuk gak?”
“Hm… mungkin baru selesai sore. Kenapa? Kamu kangen?”
“Enggak. Justru takut kamu yang kangen sama aku.”
“Kita makan malam bareng aja nanti gimana?”
“Boleh. Di rumah aku aja ya. Mumpung aku ada waktu buat masak.”
“Siap, Princess!”
Setelah menutup telepon, Nadin mulai melangkah sembari bersenandung senang. Beberapa hari ini mood-nya sedang baik. Udara sangat cerah. Anak-anak didiknya pun menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Rasanya, tidak ada apa pun yang membuatnya tidak bersyukur.
Di pertengahan jalan pulang, Nadin berhenti di supermarket untuk membeli bahan masakan. Kemudian bergegas menuju ke rumahnya. Dia mandi, dan mulai bersiap di dapur.
Kadang Nadin merasa tidak percaya diri dengan masakannya, karena Axel jauh lebih mahir. Tapi, ada kesenangan sendiri saat melihat seseorang yang dia sayang menikmati apa yang dia buat. Terlebih lagi saat mendapatkan pujian. Meski dia kadang bingung, apakah Axel memang benar-benar menyukai masakannya?
Untuk malam ini, Nadin menyiapkan ikan asam manis, sapo tahu, mie goreng, dan perkedel jagung. Bahkan dia tidak sadar sudah menyiapkan bahan terlalu banyak hanya untuk dua orang.
Di tengah kesibukannya, terdengar ketukan pada pintu rumah. Jarang sekali ada yang datang selain Axel. Sampai-sampai membuat Nadin berpikir kalau mungkin lelaki tersebut sedang mencoba mengejutkannya, dengan datang lebih awal. Masalahnya, ini terlalu cepat. Kegiatan memasaknya saja baru dimulai.
Pintu pun kembali diketuk. “Iya, tunggu sebentar!” teriak Nadin, sembari melepas apron. Lalu dia melangkah dengan cepat ke arah pintu.
Nadin benar-benar mengira kalau yang datang adalah Axel. Padahal saat membuka pintu, justru wajah Frans-lah yang muncul di baliknya.
Senyuman pada bibir Nadin hilang seketika. Bahkan dia mencoba untuk langsung menutup pintu. Tapi, Frans lebih dulu menahan pintu dengan tangannya, dan mendorongnya hingga terbuka lebar.
“Hei, siapa yang mengizinkan kamu masuk?!” protes Nadin. Namun, sang tamu tidak peduli dan justru tetap melangkah masuk.
Padahal Nadin sudah hampir berhasil melupakan apa yang terjadi beberapa hari ke belakang. Menganggap bahwa dia tidak pernah mengenal lelaki bernama Frans.
“Rumahmu enak juga. Sayang kecil sekali.”
Nadin merasa tangannya mulai berkeringat. Entah kenapa aura yang dikeluarkan lelaki itu cukup membuatnya merasa takut. Padahal dia hanya sedang duduk tenang.
“Tenang… aku cuma mau membicarakan sesuatu. Duduk saja dulu.”
“Cepat bicara. Lalu pergi dari sini!”
“Hm… oke,” balas Frans santai. Lalu melipat kedua lengan di depan dada. “Aku ingin kita melanjutkan hubungan sewaktu di Amerika dulu.”
“Hah? Kau masih harus menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya? Sudah pasti aku gak mau.”
“Bukan, bukan begitu. Aku bukan sedang bertanya, tapi menyuruhmu untuk melakukannya.”
Nadin mendengus. “Kau ini gak sadar diri ya? Tiba-tiba datang, memerintah seenaknya. Cukup. Kalau kamu gak pergi dari sini, aku akan telepon polisi!”
Frans masih tidak beranjak dan hanya memandangi Nadin lekat. Keduanya saling menghunuskan pandangan. Seakan memberikan serangan tanpa kata-kata.
Hingga akhirnya Nadin kehabisan kesabaran dan bermaksud untuk mengambil ponselnya ke dalam kamar. Namun, Frans bergerak tak kalah cepat. Dia bangkit, dan berhasil menyusul Nadin dengan kakinya yang panjang.
Frans mencengkeram lengan Nadin dan mendorong tubuhnya ke arah tembok. Posisi mereka berdua menjadi sangat dekat. Tubuh Nadin yang mungil, membuatnya tak berdaya untuk melawan.
“Kamu harus mengerti Nadin, siapa orang yang sedang kamu hadapi. Di Indonesia, kekuasaanku jauh lebih kuat dibandingkan dengan saat ada di negara lain. Aku bisa melakukan apa saja, sekaligus yang akan membuatmu menyesal jika menolak keinginanku.”
“Buat apa aku melakukan hal yang gak ada untungnya sama sekali buatku.”
“Kau pikir begitu? Aku bahkan bisa memberikan segalanya buatmu. Kamu mau uang? Jabatan? Kalau mau, aku bisa membangun sekolah musik untukmu.”
“Aku gak butuh semua itu!”
Dengan sedikit rasa kesal, Frans mencengkeram wajah Nadin dengan tangannya yang lebar.
“Sudah kubilang, aku gak sedang memberi tawaran. Turuti saja, kalau kau belum siap melihat bisnis pacarmu itu hancur.”
Rasa takut semakin menjadi-jadi. Kalau hanya dirinya yang terancam, Nadin masih bisa menghadapinya. Tapi, dia mulai khawatir karena Frans bermaksud untuk menyeret Axel ke dalam masalah mereka.
Lelaki itu tersenyum licik. “Bukan hanya bisnisnya. Setelah itu, akan aku hancurkan juga orangnya.”
Frans pun melepas cengkeramannya, dan melangkah mundur dari hadapan Nadin. “Kau harus tau, kalau aku bukan orang yang sabar. Aku tunggu kamu di kantorku besok,” tambahnya. Kemudian dia pun pergi, meninggalkan Nadin yang jatuh terduduk di atas lantai.
Belum pernah Nadin merasakan tekanan seperti itu sebelumnya. Terlebih lagi, yang dia hadapi hanya satu orang saja. Namun rasanya lebih menyesakkan, bahkan jika dibandingkan dengan masalah perselingkuhannya dulu.
Nadin pun menghela napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri dan kembali melanjutkan kegiatannya. Di satu sisi, dia berpikir mungkin hanya berpikir terlalu berlebihan soal Frans. Masih merasa kalau apa yang lelaki itu katakan hanya gertakan semata.
‘Semua akan baik-baik saja…’
Saat Axel datang malam harinya, Nadin sudah bisa bertingkah normal. Dia memilih untuk tidak membahas soal kedatangan Frans, karena tidak ingin Axel merasa khawatir. Jadi, dia berusaha untuk tampak ceria seperti biasanya.
“Wah… gini ya rasanya pas pulang kerja udah ada yang masakin di rumah,” ucap Axel saat melihat berbagai makanan di atas meja.
“Apaan, sih, padahal setiap hari ngeliat makanan enak di restorannya sendiri.”
“Tapi kan, yang buatnya beda. Yang ini spesial karena yang buatnya juga spesial.”
“Nasi goreng spesial juga tetep jadi spesial, meski bukan aku yang buat.”
Axel hanya tertawa. Lalu lanjut mengobrol dengan asik, sembari menikmati makan malam bersama. Tanpa tahu ada rahasia tersembunyi di balik senyuman yang dia lihat dari wajah wanita di hadapannya itu.