
Dear Nadin.
Kalau kamu baca surat ini, itu berarti aku sudah pergi jauh. Ke tempat yang sementara ini belum bisa kamu kunjungi. Namun dari sana, aku masih bisa melihatmu, dengan hidup yang kuharap akan selalu membuatmu bahagia.
Aku yakin kamu akan marah besar dan semakin membenciku setelah membaca surat ini. Tapi itu tidak masalah, karena aku sendiri sudah terlanjur membenci diriku sendiri. Atas apa yang sudah aku lakukan kepadamu.
Hidupku tidak lagi sama setelah tahu bahwa aku akan pergi lebih dulu meninggalkanmu untuk hidup di tengah kesedihan. Aku tidak bisa membayangkan kamu terus larut dalam kesedihan, jika tahu keadaanku yang sebenarnya. Satu-satunya hal yang terpikirkan hanyalah bagaimana caranya menjauh darimu, dan menghilang dalam kesendirian.
Kalau saja aku jujur soal keadaanku, tentu kamu tidak akan terima kalau aku memintamu untuk pergi. Sampai akhirnya aku mendapatkan sebuah ide gila, yang ternyata kenyataannya jauh dari apa yang kubayangkan.
Tidak pernah sekalipun aku berencana untuk membuatmu terjatuh hingga tampak setersiksa itu. Aku hanya bermaksud membuatmu merasa benci padaku, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh. Karena kupikir, kebencian akan membuat keberadaanku bisa dilupakan dengan lebih cepat.
Tapi, ada kalanya aku sangat menyesal dengan apa yang sudah kuperbuat. Saat melihatmu sehancur itu, aku pun merasakan hal serupa. Hampir saja aku memutuskan untuk menghentikan semuanya di tengah jalan. Hanya saja… sudah terlalu lambat. Tidak ada pilihan selain menyelesaikan apa yang sudah kumulai.
Nadin.
Sejujurnya…
Satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku hanya kamu. Sejak dulu, hingga sekarang pun, tidak pernah berubah. Dan tidak akan pernah berubah.
Tidak ada sehari pun yang kulalui tanpa memikirkanmu. Membayangkanmu…
Apakah kamu sehat hari ini? Apakah kamu bahagia hari ini? Semua pertanyaan yang tak terbalaskan itu kadang membuatku sesak. Membuatku ingin secepatnya pergi dari dunia ini. Agar bisa selalu memandangimu dari atas sana.
Aku penasaran, bagaimana perasaanmu sewaktu membaca surat ini. Apakah kamu semakin membenciku? Kuharap begitu. Lebih baik benci saja aku, dan lupakan bahwa lelaki sepertiku pernah terlahir di dunia. Orang yang bahkan tidak bisa menjaga dan membuatmu bahagia.
Kuyakin akan ada orang lain yang bisa lebih mampu menjaga senyumanmu. Dan hidup bersama dalam kebahagiaan.
***
Nadin tidak bisa berhenti menitikkan air mata sedari awal membaca surat itu. Dia yakin benar tulisan itu… benar-benar dibuat oleh Juna…
“Apa Kak Juna… sekarang sudah…”
Axel menggeleng. "Dia mengirimkan surat lainnya. Dan yang terakhir baru saja sampai tiga hari lalu."
Akhirnya, Axel mengeluarkan semua surat yang dia simpan di dalam laci di kamarnya. Menyerahkan benda itu kepada si penerima asli. Bahkan dia sama sekali tidak pernah melihat isinya. Semua amplop itu masih tersegel rapat, dari semula sampai di tangannya.
Nadin masih lanjut membaca surat lainnya. Sembari terduduk lemas di atas lantai kamar Axel. Sementara Axel sendiri hanya bisa terduduk mengamati. Sembari menahan diri untuk terus berada di tengah keadaan yang tidak dia suka. Lagi-lagi, dia harus mendengar isak tangis Nadin.
***
Nadin…
Semua ini membuatku tersiksa. Tidak kusangka rasanya sesulit ini untuk menjauh darimu. Kupikir aku akan semakin terbiasa. Tapi kenyataannya, rasa sepi ini menyiksaku setiap saat.
Terlebih saat aku dengar soal kepergian ibumu. Membuatku berpikir bahwa mungkin ini hukuman atas kekecewaan ibumu kepadaku. Yang sudah mengingkari janji untuk menjaga dan membahagiakan anaknya. Saat itu aku hanya bisa memohon ampun padanya, dan mencari cara lain agar kamu tetap bisa bahagia, meski tanpa kehadiranku.
Ingin sekali aku berlari ke sana dan memelukmu. Terus berada di sisimu. Tapi itu semua hanya angan-angan belaka. Karena untuk melangkah keluar rumah saja aku tidak sanggup.
Nadin…
Mungkin ini akan jadi surat terakhirku. Sebenarnya, aku tidak berharap kamu membaca ini semua. Akan lebih baik jika semua dibiarkan tetap seperti sebelumnya.
Tapi jika kamu benar-benar membacanya. Kuharap hidupmu sekarang sudah dipenuhi dengan kebahagiaan. Teruslah tersenyum, Nadin. Sesekali pandanglah ke atas, dan perlihatkan senyum indahmu itu. Agar aku bisa mengobati kerinduanku dari atas sana.
***
Surat terakhir itu dikirim dari Jepang seminggu yang lalu. Meski tidak ada yang tahu, tapi Nadin berpikir kalau Juna masih baik-baik saja. Lelaki itu pasti masih hidup. Di suatu tempat, dalam kesendirian…
“Beberapa hari sebelum pergi, dia tiba-tiba datang ke kedai. Berlagak seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara kami, dan bilang ingin mulai berteman denganku,” jelas Axel. “Aku benar-beanr tidak mengerti jalan pikirannya. Mana mungkin aku percaya kepada orang yang bahkan sudah membuat hidupmu dan hidupku hancur. Tapi, hari itu dia berhasil memaksaku, hingga berkata rela memohon hingga bersujud untuk bisa mendapatkan bantuanku.”
Axel menjeda ceritanya untuk menghela napas. “Setelah aku mengiyakan, dia memintaku untuk menyimpan surat pertamanya itu. Tapi aku tidak langsung menerima dan memaksanya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu, akhirnya dia menjelaskan semua. Dan melarangku untuk memberitahukannya padamu. Hingga saatnya tiba.”
Nadin tiba-tiba memaksakan untuk tertawa. Dengan air mata yang masih terus mengalir. “Gak mungkin. Semua itu cuma cerita karangan, kan? Kamu, Juna, kalian berdua bersekongkol untuk mengarang semua ini?!” ucapnya dengan sedikit emosi. Dia meremas surat dalam genggaman dan melemparnya.
“Sama sekali nggak. Untuk apa aku melakukan itu semua sama kamu? Dan Juna… Dia benar-benar jujur. Sejak dulu sampai sekarang, dia masih tetap cinta sama kamu…”
Nadin menutup telinga dengan kedua tangan. Seakan sudah menolak untuk mendengar apa pun lagi.
Axel pun mendekat ke arah wanita itu, dan memegang tangannya. “Aku tahu dia memang bodoh sudah melakukan semua ini. Tapi semua itu dia lakukan hanya karena satu alasan, yaitu kamu… yang bahkan lebih dia pikirkan dibanding dirinya sendiri,” jelasnya dengan nada lembut.
Tangis Nadin pun perlahan mereda. Dia berusaha keras menenangkan diri. “Kenapa…” ucapnya pelan. “Kenapa kamu gak menyembunyikan semua ini dariku? Bukannya kamu gak suka kalau aku masih memikirkan soal Juna?”
Lelaki itu pun tersenyum tipis, dan memandang Nadin dengan lekat. Berkali-kali dia sempat menanyakan hal sama kepada dirinya sendiri. Padahal bisa saja dia memusnahkan semua surat Juna, dan membiarkannya menghilang tanpa harus diketahui oleh Nadin. Sekarang, kenapa justru dia sendiri yang berusaha membuat Nadin untuk kembali memikirkan soal mantan kekasihnya itu?
“Sampai kapan pun kamu gak akan pernah bisa berhenti memikirkan orang itu. Karena tanpa sadar kamu sendiri merasa ada hal janggal yang terjadi. Dan aku pikir ini yang terbaik. Apa kamu gak mau menemui dia? Aku yakin Juna pun membutuhkanmu di sana.”
Lagi-lagi air mata Nadin menetes. Axel berkali-kali menyekanya menggunakan tangan.
“Pergi saja, Nadin. Aku yakin kamu masih belum terlambat. Aku akan membantumu untuk bisa bertemu dengannya.”