Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Puluh Tiga



Nadin menatap mie yang dia gulung dengan garpunya sedari tadi, namun tak kunjung dia lahap. Pertanyaan wartawan yang dia dengar dua hari lalu masih terus terngiang di kepalanya.


“Kamu kenapa?” tanya Axel yang menyeruput mie dengan semangat. “Sakit?”


“Enggak.”


“Terus kenapa kayak yang gak semangat gitu.”


Akhirnya, Nadin menjauhkan piringnya yang masih terisi separuh. Dia benar-benar kehilangan nafsu makannya.


“Xel. Cara kamu ngehadapin gosip gimana, sih? Kamu gak pernah ngerasa keganggu gitu?”


“Pasti keganggu, sih. Apalagi kalau gosipnya masih baru. Pasti ke mana-mana gak pernah bisa tenang. Tapi kalau buatku pribadi, selama hal itu gak benar, aku santai aja.”


“Hmm…”


“Kenapa tiba-tiba nanya gitu?”


“Enggak… Akhir-akhir ini kamu pernah denger gosip tentang aku gak, sih?”


Axel tampak berpikir sesaat. “Enggak, sih. Cuma soal acara kamu yang baru itu aja.”


“Hmm…”


“Emang ada apa?”


Nadin masih ragu untuk membicarakannya dengan Axel. Tapi, dia sendiri tidak ada pilihan lain selain menceritakannya. Sebelum semua gosip itu bertambah besar.


“Kayaknya ada yang gosipin soal aku yang suka jalan sama cowok lain selain Juna. Udah pasti yang mereka maksud itu kamu. Meski aku sendiri gak tahu orang-orang itu sadar kalau itu kamu atau enggak.”


“Yang bener?”


Nadin mengangguk. “Mungkin sekarang beritanya belum naik. Aku ]cuma khawatir nanti bisa jadi heboh.”


“Yah... kalau emang sampai kejadian, kita tinggal ngejelasin apa adanya aja. Toh, kita Cuma main dan makan kayak biasa.”


“Iya, sih… Tapi pasti nanti bakal dihubung-hubungin sama Kak Juna.”


“Ya suruh dia akting kayak biasa aja. Kayaknya dia jago buat berpura-pura di depan kamera.” Axel menjeda kata-katanya dan meneguk minuman dari gelasnya. “By the way, kamu baik-baik aja tetap lanjutin acara itu?”


“Mau gak mau, sih. Aku berusaha baik-baik aja.”


“Aku yakin kamu udah mikirin itu baik-baik. Tapi, jangan sampai maksain diri ya.”


“Iya, Xel. Makasih ya.”


“Ayo, semangat, semangat! Baru juga ulang tahun udah loyo aja.”


“Apa hubungannya sama ulang tahun.”


Axel tertawa. “Eh iya, jadi keingetan. Kamu diundang ke acara ulang tahunnya DJ Marco minggu depan?”


“Iya. Aku sama Juna dapat juga undangannya.”


“Datang, gak?”


“Rencananya sih mau datang. Soalnya waktu itu dia kasih undangannya langsung. Jadi gak enak kalau gak datang.”


“Bareng Juna?”


“Gak tau, deh. Kita belum ngomongin soal itu.”


“Hmm… Aku sama anak-anak Hybrid juga datang. Aku sih berharapnya Juna gak ada supaya kamu bisa gabung.”


“Kemungkinan besar sih dia gak datang. Soalnya kita berdua agak kurang suka tempat ramai kayak bar. Tapi, coba lihat nanti.”


“Pokoknya nanti, kamu bakal kita ajak buat bersenang-senang ala Hybrid!”


“Lihat aja nanti.”


“Pasti aneh, deh.”


“Sembarangan. Aku yang ngerancang sendiri permainannya.”


“Tuh kan, udah pasti aneh.”


***


Hari-hari pun berlanjut seperti biasanya. Nadin masih tetap bekerja di tengah kegalauan yang masih terasa. Berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi antara di dan Juna. Dan bermain bersama Axel untuk menghilangkan kepenatannya.


Akan tetapi, orang-orang di belakangnya mulai semakin ramai dengan gosip yang semakin tersebar luas. Semakin banyak yang mengirimkan foto-foto yang diambil secara diam-diam saat Nadin dan Axel sedang bersama. Dan mulai membuat berita-berita yang bahkan tidak benar.


Awalnya, semua pembicaraan itu hanya terhenti di dalam sebuah forum rahasia dalam internet. Namun perlahan, mulai ada orang-orang yang berani mempublikasikannya dalam artikel dalam blog pribadi mereka.


Gosip soal perselingkuhan Nadin pun mulai banyak dibicarakan. Meski belum satu pun yang membahas soal sosok laki-laki yang sering terlihat berada bersamanya. Satu hal yang pasti, semua orang yakin bahwa laki-laki itu memang bukan Juna.


“Juna! Juna! Bisa kamu kasih komentar soal berita yang lagi marak dibicarakan soal Nadin?”


“Aku gak bisa berkomentar banyak karena itu Cuma sekedar gosip. Jadi kalian pun gak perlu membahasnya lebih jauh.”


“Tapi sudah banyak foto yang beredar soal Nadin yang pergi dengan seorang laki-laki, itu bagaimana?”


“Itu hanya fotonya sewaktu pergi dengan temannya. Bagaimana pun Nadin punya teman, dan aku tidak pernah melarangnya untuk pergi dengan siapa saja.”


Sebuah tayangan gosip memuat rekaman saat seorang reporter sedang berusaha mewawancari Juna di tengah kerumunan. Saat itu Juna baru saja selesai melakukan show di sebuah hotel, dan langsung dikerubungi banyak orang saat akan pergi ke arah mobilnya terparkir. Namun, semua orang yang ada di sana hanya membahas soal Nadin. Sama sekali tidak peduli dengan pekerjaan yang dia lakukan di sana.


Para penjaga yang mengawal Juna pun tampak kewalahan. Para reporter dari berbagai media tampak berdesakkan, tak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan berita.


“Juna! Satu lagi! Kalau Nadin benar-benar selingkuh, bagaimana?”


“Intinya, sampai kapan pun aku akan tetap percaya dengan Nadin. Itu saja.”


“Juna!” Orang-orang yang berkerumun itu terus berusaha menarik perhatian Juna. Padahal lelaki tersebut sudah masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk pergi.


Mala yang tengah menonton dalam apartemennya, langsung mematikan televisi. Lalu melempar remote tv dengan kesal.


“Kenapa sih dia masih aja ngebelain cewek itu?! Padahal ini momen yang tepat buat bikin cewek itu hancur!” gerutunya.


“Ya, mana mungkin dia kayak gitu, Mala. Kamu ada-ada aja,” balas Sherin, salah satu teman Mala—yang tahu soal hubungannya dengan Juna. “Dia kan masih terikat kontrak. Semua orang tahunya mereka masih pacaran. Kalau Juna tiba-tiba mengiyakan, bakal jadi aneh. Yang ada, nanti Nadin duluan yang ngebocorin semuanya.”


“Tapi tetap aja. Mau sampai kapan?!”


“Kamu udah ngobrol sama dia?”


“Udah! Beratus-ratus kali! Selalu saja jawabannya ‘waktunya belum tepat’. Aku gak ngerti apa yang dia tunggu.”


“Ya… mungkin dia memang udah punya rencana. Tapi, aku pribadi entah kenapa gak bisa percaya sama Juna. Dia bener-bener misterius. Gak bisa ditebak. Kamu yakin dia orang yang bisa dipercaya?”


“Iya, lha! Gak ada alasan buat aku gak percaya sama dia. Selama ini udah berkali-kali dia ngebuktiin soal perasaannya sama aku.”


“Oke, oke. Anggaplah aku percaya.”


“Tapi aku tetap aja gak mau nunggu lebih lama lagi. Gimana caranya biar cewek itu hancur secepatnya?”


Sherin tertawa kecil. “Kamu kan biasanya paling jago soal itu. Kenapa gak kasih effort sedikit aja. Biar lebih cepat.”


Mala berjalan ke arah jendela. Memandang ke arah deretan bangunan yang ada di seberang apartemennya. Di mana salah satunya memberikan dia ide.


“Kamu benar, Sher. Kayaknya aku harus turun tangan. Kamu mau bantu aku, kan?”


“Kapan sih, aku gak bantu kamu?”


“Good. Aku yakin gak lama lagi karir dan hidup cewek itu bakal hancur,” ucap Mala dengan senyuman licik yang tampak pada wajahnya. Dia pun tertawa kecil membayangkan wajah Nadin yang penuh kepedihan, muncul dalam kepalanya.