
Lima bulan telah berlalu. Tentu bukan waktu yang sebentar, dan tidak mudah bagi Nadin untuk memulai hidup baru. Dia masih harus melalui hari-hari penuh hinaan dari orang-orang yang masih saja tidak bisa menghilangkan kekecewaannya. Internet pun masih kadang ramai dengan namanya, yang padahal sudah bukan lagi siapa-siapa.
Nadin kini tinggal di rumah sederhana yang dia beli di pinggir ibu kota. Daerah yang tenang dan tidak terlalu ramai. Tapi masih mudah jika sewaktu-waktu harus pergi ke kota.
Uang tabungannya masih cukup banyak untuk membiayai hidup sehari-hari, namun Nadin tetap bekerja sebagai guru musik private. Memang tidak mudah untuk bisa menemukan murid, saat namanya masih terus disinggung media. Tapi, setidaknya dia sudah mempunyai dua murid tetap sekarang.
Ibu Nadin sendiri sudah tidak bisa beraktivitas dengan bebas. Untuk berjalan pun harus sangat hati-hati agar tidak terjatuh. Nadin yang khawatir masih tetap membawa ibunya untuk mengecek kesehatan berkala ke rumah sakit.
“Huwaa…” Nadin mengangkat kedua tangan ke udara untuk meregangkan otot-ototnya. Lalu duduk pada bangku di pinggir jalan. Menatap jalanan yang tidak begitu ramai, sembari menikmati jajanannya.
“Wah, power rangers akhirnya lengkap lagi,” gumamnya sewaktu melihat poster Hybrid dengan seorang anggota baru—pengganti Axel. Lalu dia tertawa kecil.
Sebulan terakhir, perasaan Nadin sudah jauh lebih baik. Dia tidak lagi terganggu dengan berita maupun gosip dalam internet. Biasanya dia selalu menangis kepada ibunya tiap kali membaca tulisan orang-orang. Tapi sekarang, dia sudah jauh lebih tegar. Mungkin lebih tepatnya, mencoba untuk tidak peduli.
Hubungannya dengan Tyo dan Ramos masih tetap terjalin dengan baik. Mereka sering mengobrol lewat telepon, dan kadang mengunjungi rumah Nadin. Sementara Juna, benar-benar menghilang. Hanya sempat terdengar kabar kalau dia melanjutkan karirnya sebagai model di Jepang.
Di antara semua itu, yang masih menjadi pertanyaan adalah, entah kenapa Axel sama sekali tidak pernah mengontaknya. Padahal Ramos sudah memberikan nomor Nadin padanya.
Nadin sempat mengirimkan pesan lebih dulu. Tapi tidak kunjung terbalaskan hingga saat ini. Bahkan pesan terakhir baru saja dia kirim tadi pagi. Setidaknya dia ingin sekali bertemu untuk meminta maaf.
“Hai, sendirian aja.” Kemunculan seorang laki-laki mengejutkan Nadin. Orang itu tiba-tiba saja duduk di sampingnya, dengan sangat dekat. Nadin spontan mundur sembari hanya tersenyum canggung.
Saat hendak berdiri dan pergi, ternyata ada lelaki lain yang menghalangi jalannya. “Permisi,” ucap Nadin. Tapi dia justru dihalangi.
“Mau ke mana? Kan, aku baru datang,” ucap laki-laki yang duduk. Dia pun lekas bangkit.
Nadin mulai merasa tidak nyaman. Ternyata berada di daerah sepi seperti itu justru membuatnya tidak bisa melarikan diri ke tengah keramaian.
Nadin pun berusaha berjalan menyamping, dan melangkah dengan cepat. Tapi dua lelaki berwajah sangar itu masih terdengar mengobrol di belakangnya. Bahkan mereka mengikuti ke mana pun dia pergi.
Nadin ingin sekali pulang. Tapi dia pikir, akan lebih gawat kalau orang-orang itu sampai tahu rumahnya. Jadi, dia akan menuju ke kantor polisi yang terdekat, meski jaraknya masih sekitar satu kilometer.
Setelah berjalan cukup jauh, Nadin semakin yakin kalau dua orang tadi masih terus membuntutinya. Membuatnya mulai berkeringat dingin dan khawatir. Tapi dia tidak kunjung menemukan orang yang kelihatannya bisa membantu.
Hingga tiba-tiba, dua lelaki itu berjalan sangat cepat dan mendorong tubuhnya hingga masuk ke sebuah gang sepi. Nadin diseret dan mulutnya dibekap sebelum sempat berteriak. Lalu dia didorong ke aras tumpukan kantong berisi sampah.
Dua lelaki yang ada memandangnya dengan tatapan menjijikan. Sembari menyeringai seram.
“Kayaknya aku tahu siapa kamu.”
“Kamu yang suka muncul di tv itu, kan?”
“Oh iya, yang waktu itu katanya selingkuh dari pacarnya. Iya… yang itu.”
“Mau dong jadi selingkuhanmu juga.”
Saat seorang laki-laki berusaha mencengkeram lengannya, Nadin memukul wajah orang itu menggunakan tasnya. Lalu dia bangkit dan mencoba berlari. Sayangnya, dia tidak kalau cepat. Tangan orang tersebut lebih dulu menjenggut bagian belakang bajunya.
“Tolong!”
“Kalau mau selamat, ikut kami.”
“Yang ada justru gak akan selamat,” sahut suara seseorang yang langsung membuat kedua preman itu menoleh.
Nadin merasa familiar dengan suara itu. tapi dia masih belum bisa menoleh ke belakang.
Tak lama kemudian, terdengar suara perkelahian dan jerit kesakitan dari salah satu preman. Lalu, disusul oleh suara dari lelaki yang membekap Nadin—yang ditarik oleh si orang misterius dengan kuat.
Nadin sempat terhuyung ke belakang, namun dia masih bisa menahan agar tidak terjatuh. Saat membalikkan badan, dia menangkap kehadiran seseorang di sana. “Axel!” serunya senang.
“Jangan coba-coba ganggu dia lagi!” ucap sang mantan member Hybrid itu kepada dua lelaki yagn lari terbirit-birit.
Axel pun membalikkan badan, tersenyum ke arah Nadin yang langsung berlari memeluknya.
“Astaga! Ke mana aja kamu selama ini?! Kenapa chat-ku gak pernah di balas?”
“Ini dibalas. Langsung di depan orangnya.”
“Udah gitu, tiba-tiba muncul pula.”
“Sebenernya aku udah dari tadi ngikutin kamu, sih. Tapi gak tau kenapa takut banget mau nyapa…”
“Hah?” Nadin pun tertawa. Merasa tidak percaya, sekaligus lucu mendengar jawaban aneh Axel.
Dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan temannya itu. meski kini penampilannya cukup berubah drastis.
Axel yang sebelumnya berambut cokelat acak-acakan, menggunakan setelan jeans robek dan jaket kulit, dan berwajah sangat.
Namun sosok yang ada di hadapan Nadin sekarang menata rambutnya cokelatnya dengan rapi, berpakaian kasual layaknya laki-laki normal, dengan celana jeans—tidak robek, dan kaos lengan buntung. Wajahnya pun tampak lebih lembut dari biasa. Dan pembawaannya, jauh lebih tenang. Badannya pun jauh lebih berisi, karena mungkin banyak berolah raga.
“Kamu banyak berubah ya,” ucap Nadin.
“Kamu sendiri kenapa gak banyak berubah?” balas Axel. “Tapi, aku suka rambut barumu.”
Nadin memang baru saja memotong pendek rambut kesayangannya. Selama ini dia selalu suka memanjangkan rambut bergelombangnya yang indah. Tapi, entah mitos atau memang benar, dia merasa bebannya banyak berkurang setelah memotong rambut.
Setelah beberapa saat mengobrol seru, tiba-tiba Nadin teringat akan sesuatu. Dia sadar kalau belum sempat meminta maaf pada Axel yang banyak direpotkan olehnya.
“Xel… Aku tahu ini udah terlambat. Tapi, dari dulu aku pengen ngehubungin kamu buat minta maaf.”
“Minta maaf buat apa?”
“Buat semuanya. Aku ngerasa kamu udah banyak aku repotin. Sampai terlibat di tengah masalah pribadi aku.”
Axel hanya tertawa kecil, padahal Nadin tampak murung. Dia lalu menggenggam tangan wanita tersebut dan berjalan dengan lebih cepat. “Daripada ngomongin masa lalu, lebih baik kita bahas yang seru-seru aja, gimana?” ucapnya, sembari menuju ke arah motornya terparkir.
Nadin pun mulai kembali memperlihatkan senyum manisnya. Dan berkata dengan penuh semangat. “Setuju!”