Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tujuh




“Nadin, ayo berangkat.”


“Iya, Kak.” Nadin bergegas memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berjalan ke arah Tyo yang sudah siap di depan mobil.


Tyo duduk di bangku samping Nadin, karena kali ini bukan dia yang membawa mobil. Sejak tadi dia sibuk dengan teleponnya.


“Duh, salon yang biasa tiba-tiba minta cancel.”


“Mba Eva? Kenapa?”


“Ada keluarganya kena musibah.”


“Gimana, dong? Kayaknya susah cari yang bisa didatangin langsung.”


Tyo kembali sibuk dengan teleponnya. Mencoba menghubungi beberapa salon—yang langsung menolak karena jadwal mereka penuh. Hingga salon terakhir yang dia hubungi, memberikan kabar baik. “Akhirnya!” serunya dengan lega.


“Dapat, Bang?”


“Iya. Meski agak jauh, sih. Kalau gak salah tempat itu langganan Juna. Kamu kenal kan, sama owner-nya?”


“Oh, iya. Aku pernah antar Kak Juna ke sana beberapa kali.”


Mobil pun langsung melesat ke tempat tujuan. Meski masih pukul delapan pagi, tapi salon yang mereka tuju sudah tampak sibuk. Tempat tersebut memang salah satu yang sering didatangi para artis. Namanya pun terbilang cukup terkenal.


“Halo, Nadinnn… duh, udah lama kayaknya gak ketemu ya!” sapa seorang ibu paruh baya bertubuh tinggi langsing, dengan tahi lalat di atas hidung. Dia adalah owner dari salon tersebut. “Tambah cantik aja, sih,” sambungnya sembari memeluk Nadin dan mencubiti pipinya.


“Maaf ya, Miss. Salon langganan kita lagi off hari ini,” ujar Tyo.


“Ah, gak apa. Mau sering-sering juga boleh, kok.”


Nadin hanya tersenyum dan mengangguk sedari tadi. Lalu mengikuti si pemilik salon ke sebuah ruangan. Sementara Tyo duduk di ruang tunggu.


Sang pemilik salon langsung turun tangan untuk mendandani Nadin. Cukup beruntung karena biasanya dia hanya menangani pelanggan tertentu dan sering tidak di tempat. Juna menjadi salah satu dari pelanggan tersebut, meski sebenarnya dia agak risih karena sering digoda oleh janda beranak satu itu.


“Kemarin juga Juna habis dari sini. Dia makin sibuk aja ya kelihatannya.”


“Iya. Lagi banyak dapat kerjaan dari brand fashion sama kosmetik.”


“Gak aneh sih, soalnya mukanya menjual banget. Siapa sih yang gak suka.”


“Iya,” balas Nadin singkat.


“Tapi, gak susah emangnya pacaran beda manajemen gitu?”


“Enggak juga, sih.”


“Oh… tapi hubungan kalian baik-baik saja, kan?”


Ada sedikit nada yang terdengar aneh dari kata-kata wanita tersebut. Nadin agak bingung menangkap maksud dari pertanyaan barusan. Karena dia merasa wanita tersebut tidak hanya bertanya karena iseng dan hanya berbasa-basi dengan pelanggannya.


“Baik-baik aja. Emangnya kenapa, Miss?”


“Oh… syukurlah. Gak kenapa-napa sih, cuma penasaran. Soalnya…”


Lagi-lagi ada keanehan dari kalimat yang baru saja didengarnya. Apalagi wanita itu menjeda kata-katanya. Tambah membuat Nadin merasa penasaran. Sekaligus kesal karena orang itu tidak langsung to the point mengatakan apa yang ingin disampaikan.


“Kenapa?” tanya Nadin yang tidak sabar.


“Em, gimana ya. Tapi saya kok sering lihat perempuan lain ya…”


“Mungkin itu orang kantor atau rekan kerjanya.”


“Saya juga awalnya mikir gitu. Tapi orangnya selalu sama. Cantik banget, tinggi, kayaknya sih model.”


“Oh… Kak Juna emang lagi banyak pemotretan. Mungkin memang rekan kerjanya, jadi datang ke sini bareng.”


“Pernah sih, ke sini bareng. Tapi staff saya beberapa kali lihat mereka berdua jalan sama makan di luar. Dan katanya sih, gak keliatan lagi kerja. Soalnya gak ada manajer atau staff lain.”


Nadin mulai semakin kesal mendengarkan itu semua. Bagaimana pun dia tidak akan mempercayai gosip begitu saja dibandingkan pacarnya sendiri. Entah apa yang terjadi, tapi dia yakin ada penjelasan di balik semua itu. Orang-orang pasti hanya salah paham, pikirnya.


“Iya, saya juga gak percaya, sih. Juna emang keliatannya setia.”


Kata-kata tadi terucap dengan keyakinan penuh. Tidak ada alasan yang membuat Nadin tidak mempercayai Juna. Dan dia akan tetap seperti itu seterusnya.


Beberapa saat setelahnya, si owner salon tidak lagi membahas soal Juna. Tapi entah kenapa ada sebuah perasaan yang mengganjal dalam hati Nadin. Perlahan dia goyah akan perkataannya sendiri. Perasaan cemas pun mulai muncul.


Meski terasa baik-baik saja, tapi Nadin tidak bisa memungkiri kalau akhir-akhir ini mereka jadi semakin jarang bertemu dan memberi kabar. Nadin tahu hubungan mereka sudah bukan seperti remaja yang setiap jam harus saling mengabari. Tapi, dia mulai cemas karena merasa Juna sedikit berubah.


*‘Kak Juna cuma lagi sibuk, Din… Lagi sibuk…’ *Nadin mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Pembicaraan di salon berhasil membuat Nadin gelisah seharian. Rasanya waktu lama sekali berlalu. Dia sudah tidak sabar ingin pulang dan menemui Juna. Kalau sudah merasa cemas berlebihan, bertemu adalah satu-satunya obat yang bisa membuatnya sembuh.


***


Pukul enam sore, Nadin baru bisa pamit untuk pulang. Setelah pesan terakhir yang dia kirimkan pukul satu, Juna sama sekali belum membalas chat-nya lagi. Sewaktu bilang akan pergi ke apartemen, Juna bilang harus memastikan dulu jam berapa dia pulang. Tapi, sampai sekarang balasan itu belum juga datang.


Akhirnya, Nadin memilih untuk langsung mendatangi apartemen Juna. Meski sebenarnya dia tidak yakin kalau pacarnya sudah pulang. Tapi, dia justru terkejut karena ternyata orang yang dicari ada di sana. Padahal dia pikir Juna masih sibuk seperti biasa hingga tidak bisa membalas chat-nya.


“Tuh, kan. Jahat deh, chat aku gak dibales.”


“Belakangan ini aku jadi kebiasaan gak pegang hp. Sampai lupa.” Juna berjalan ke arah kulkas. “Mau minum apa?”


Nadin yang semula duduk di sofa, bangkit dan berjalan mendekat ke arah Juna. Bermaksud untuk memilih sendiri minumannya. Saat itu, matanya tidak sengaja menangkap keberadaan dua gelas yang ada di tempat cuci piring. “Habis ada tamu ya?” tanyanya.


Juna menangkap mata Nadin yang masih mengarah pada gelas di tempat cuci piring. “Iya, tadi temanku mampir,” balasnya.


“Oh, siapa? Bang Surya?”


“Iya.”


Juna menjawab tanpa ragu. Tapi masalahnya, Nadin menangkap noda tipis pada salah satu gelas, yang dia yakini berasal dari sisa lipstik. Bukankah itu berarti Juna baru saja membohonginya? Tapi untuk apa dia melakukannya? Berbagai pertanyaan mulai berdatangan di dalam kepala Nadin.


“Wah, aku udah lama gak ketemu Bang Surya, nih.”


“Kamu mau minum apa jadinya? Cuma ada sari apel, jus jambu, soda…”


“Apel aja.”


“Mau sekalian makan juga?”


“Aku udah makan, kok tadi.”


Keduanya pun kembali ke sofa di depan televisi. Setelah menyimpan sepiring bolu di atas meja, Juna menyalakan tvnya. Sedikit menolong keadaan yang mendadak menjadi hening.


Nadin mendadak jadi pendiam karena masih bingung dengan apa yagn terjadi di hari ini. Entah kenapa dia jadi merasa canggung berada di dekat Juna. Setelah sekian lama, baru pertama kalinya dia merasa seperti itu. Tapi, anehnya dia tidak berani bertanya langsung kepada orang bersangkutan. Entah karena khawatir menyinggung jika semua pikirannya salah, atau karena takut semua gosip yang didengar jadi kenyataan.


“Kamu sudah memutuskan mau kado apa?”


“Eng?”


“Kado ulang tahun nanti.”


“Apa ya. Aku gak kepikiran apa-apa.”


Untuk beberapa saat, keadaan kembali hening. Hanya suara dari televisi yang terdengar. Nadin bahkan duduk dengan agak tegang. Meski tidak diucapkan, sedikitnya Juna menyadari perubahan Nadin. Tapi dia pun memilih untuk tidak membahasnya.


Juna menggeser posisi duduknya, hingga rapat dengan Nadin. Lalu merentangkan lengan ke belakang punggung sang pacar. “Are you okay?” tanyanya. “Kayaknya kamu gak sesemangat biasanya.”


“Kerjaan hari ini bikin capek…”


Juna terus menatap Nadin, meski wanita tersebut tak balik memandangnya. Dia mengelus pelan rambut Nadin. Dan perlahan mendekatkan wajah sang pacar ke arahnya. Bermaksud memberikan kecupan yang entah sejak kapan tidak dia lakukan.


Beberapa senti sebelum bibir keduanya saling bertautan, Nadin spontan mendorong dada Juna—yang tampak agak terkejut. Entah kenapa sedari tadi jantung Nadin berdetak tak karuan, bukan karena berdebar senang seperti biasa, melainkan dipenuhi ketidaknyamanan.


“Maaf…”


Juna lalu hanya mengecup dahi Nadin, sebelum mengembalikan pandangannya ke arah televisi. Bahkan dia sama sekali tidak bertanya, dan tampak seolah tidak ada yang aneh. Padahal jelas-jelas Nadin tidak bertingkah seperti biasanya. Seakan Juna tidak mempedulikan semua itu.