Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Enam



Pertemuannya dengan Frans membuat Nadin cukup berdebar. Bukan karena senang, namun khawatir akan membongkar cerita yang berusaha dia tutupi dari semua orang. Tentang apa yang terjadi di antara mereka berdua saat di Amerika.


Saat bertemu di luar gedung, rasanya Nadin ingin berlari untuk menghindar. Tapi kalau saja dia melakukannya, justru akan membuat Frans berpikir kalau dia masih memikirkan semua tentang mereka. Jadi, dia berusaha keras berusaha agar tampak biasa saja. Karena memang dia sama sekali tidak memiliki perasaan spesial apa pun pada lelaki tersebut.


Saat melihat ekspresi Axel ketika melihat dia datang dengan Frans, ada kegelisahan yang muncul. Dia sama sekali tidak ingin membuat Axel berprasangka apa pun. Jadi, dia pikir apa yang terjadi dulu akan lebih baik untuk disimpan oleh dirinya sendiri.


Hanya saja, dia tidak pernah tahu kalau keadaan masih belum bisa membiarkannya hidup dengan tenang. Kedatangan Frans dan keluarganya ke Indonesia, seakan menjadi sebuah penyakit mengancam yang bibitnya sudah dia buat sendiri di Amerika. Kini, hanya tinggal menunggu apakah penyakit itu akan sembuh, atau justru semakin parah.


“Kamu sudah ketemu sama Pak Adya?”


“Sudah. Tadi dikenalkan sama Stefan. Tadi dia nanyain kamu juga.”


“Oya? Nanti aku harus kasih salam dulu sama Pak Adya. Eh, tapi emangnya dia tahu kamu siapa?”


“Tadi aku bilang kalau dia pacar kamu,” sahut Stefan dengan cepat. “Terus ekspresi ayah itu kayak mau bilang ‘oh jadi ini orang yang mengambil calon menantuku’ begitu. Sambil menatap penuh kekecewaan.”


“Ngarang! Pak Adya justru baik banget, kok. Dia bilang mau kasih aku peluang buat mengembangkan bisnis.”


“Hei, anaknya kan, aku. Jadi aku yang lebih tahu apa yang ayah pikirkan.”


“Aku bahkan heran kenapa kamu bisa jadi anaknya Pak Adya. Dia salah apa sampai punya anak kayak kamu?!”


Di tengah pembicaraan, Nadin yang semula sedang santai sembari turut bercanda, langsung dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang wanita.


Empat orang ibu-ibu datang mendekat. Salah satunya yang bersanggul, memanggil namanya. Hampir dia tersedak saat melihat siapa orang tersebut.


“Lho, Bu Ana?”


Ana adalah ibu dari Frans. Tentu saja mereka berdua pun bertemu pada saat di Amerika.


“Tuh kan, beneran Nadin! Kaget tadi Frans tiba-tiba bilang kalau Nadin juga ada di sini. Anak itu emang suka kasih kejutan.”


“Eh, beneran Nadin yang itu, kan? Yang penyanyi?” ucap ibu-ibu lainnya. Mereka berempat terus mengobrol asik, sembari terus melihat ke arah Nadin yang tampak bingung.


“Iya, beneran,” balas Ana. Sembari mencengkeram lengan Nadin dan menariknya mendekat.


“Wah… enak ya, Bu Ana punya calon menantu artis.”


“Anak saya emang paling bisa kalau cari pasangan.”


Pembicaraan ibu-ibu itu seakan menjadi sebuah petir yang menyambar tubuh Nadin. Seketika dia merasa merinding, karena Axel sudah pasti bisa mendengar semuanya. Membuat dia sama sekali tidak bisa menoleh ke arah belakang.


“Ikut dulu yuk sebentar, bapak mau ketemu katanya.”


Ana berniat menarik lengan Nadin dan mengajaknya berjalan. Saat itu Axel yang semakin merasa bingung, berniat untuk mencegah Nadin pergi. “Nad!”


Nadin dan Ana pun menoleh ke belakang.


“Eh, maaf ya temannya Nadin. Ibu pinjam dulu Nadinnya sebentar. Penting,” ucap Ana. Lalu lanjut berjalan, masih sembari melingkarkan tangannya pada lengan Nadin yang tidak berkutik.


***


Lima bulan sebelumnya, di Amerika.


Tentu saja Nadin merasa lelah dengan semua kegiatan yang dia lakukan. Apalagi di tengah udara panas yang tidak biasa dia dapatkan di Indonesia. Hanya saja, semua kesibukan itu membuatnya merasa senang juga karena seakan mendapatkan kehidupan yang baru.


“Nadin! Kau di mana?!”


Sang pelatih sudah berkali-kali menelepon sembari marah karena Nadin belum juga sampai di lokasi, padahal pertunjukan tak lama lagi akan dimulai.


“Ma-maaf, Sir. Saya tidak lama lagi sampai! Maaf!”


Sungguh keteledoran yang sangat bodoh karena dia melupakan biolanya di apartemen. Sehingga di pertengahan jalan, dia harus kembali. Padahal dia bangun kesiangan hari ini. Meski pun sempat naik taksi, namun tetap saja dia sudah terlalu terlambat.


Sebelum benar-benar sampai di lokasi, Nadin sadar kalau uang cash-nya tidak akan cukup untuk membayar taksi yang dia tumpangi. Jadi, dia terpaksa turun sebelum argonya bertambah. Lalu nekat berlari di sepanjang jalan.


Nadin sudah tidak peduli kepada penampilannya yang mungkin sudah sangat semrawut. Dia hanya berharap bisa sampai tepat waktu. Setidaknya, beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai.


Di sepanjang jalan, banyak orang-orang yang sedikit kesal karena hampir saja tertabrak oleh Nadin. Namun sayang, ada satu orang yang harus menjadi korban.


Seorang lelaki yang tengah menelepon di pinggir kolam air mancur tidak melihat kehadiran Nadin yang berlari ke arahnya. Hingga bahunya tertabrak dengan keras, membuat tas kulit yang dia genggam sedikit terlempar dan masuk ke dalam kolam. Sementara orangnya sendiri hanya oleng. Justru Nadin yang akhirnya jatuh terduduk.


“Hei, matamu ditaruh di mana?!” bentak lelaki yang menjadi korban tabrakan.


Itulah cerita awal bagaimana Nadin dan Frans bisa bertemu.


“Ma-maaf!” Nadin langsung bangkit dan menundukkan kepala penuh rasa bersalah. “Saya sedang terburu-buru.”


Frans langsung panik saat menyadari tasnya berada di dalam kolam. Lalu mengambil benda tersebut dengan cepat, dan mengecek isinya yang sudah tidak terselamatkan.


Dia pun langsung menghunuskan tatapan tajam ke arah Nadin. Dengan wajah dipenuhi amarah. Seketika membuat Nadin merasa seram. “Kau bermaksud menghancurkan hidupku, hah? Tahu tidak seberapa penting benda ini? Sekarang kau menghancurkannya begitu saja!” bentak Frans di depan muka Nadin.


“Maaf… Maaf… Aku akan ganti rugi nanti.”


“Huh, ganti rugi? Bahkan ini tidak bisa diganti dengan nyawamu sekalipun!”


“Maaf! Tapi apa bisa kita bahas ini nanti? Maafkan aku, aku sedang buru-buru.”


Nadin bermaksud lanjut berlari, tapi Frans lebih dulu mencengkeram lengannya. “Kau mau melarikan diri begitu saja, hah?”


“Ti-tidak! Aku benar-benar sedang buru-buru. Aku agak bertanggung jawab setelah ini…” ucap Nadin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Apa jaminannya?”


Nadin pun mengeluarkan passport dari dalam tas, dan memberikannya begitu saja kepada Frans. “Aku akan kembali,” ucapnya, sebelum lanjut berlari.


Frans mendecak kesal. Hari ini, dia pun akan menghadapi hari penting karena akan berhadapan dengan calon mitra bisnisnya. Dia sudah menyiapkan berbagai dokumen yang diperlukan. Tapi semua itu dihancurkan dengan seketika oleh seorang wanita yang teledor. Dan kini dia tidak memiliki waktu untuk mencetak ulang semuanya.


Frans melirik passport yang dia genggam. Lalu mengecek identitas yang tertera di dalamnya. Saat itu dia baru sadar kalau orang yang menabraknya memang tidak terlihat seperti orang Amerika. Namun, dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan orang yang berasal dari Negara yang sama dengannya.


“Nadin Carmelia…”


Lelaki bermata tajam itu berpikir sejenak. Nama dan wajah itu benar-benar tidak asing baginya. Hingga beberapa saat kemudian, dia teringat akan sesuatu.


“Nadin?” gumamnya. Lalu, dia pun mendengus keras. “Aku harus membuatmu bertanggung jawab untuk semua ini.”