Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Tiga Puluh Sembilan



Siang itu di musim gugur, mentari bersinar dengan penuh semangat. Menyirami berbagai tanaman yang tumbuh subur di tengah halaman—di depan jendela kamar seseorang.


Lelaki itu terduduk lemas di atas kasurnya. Dengan wajah putih pucat dan pipi cekung, serta mata yang sudah kehilangan sinarnya. Tubuhnya terbungkus piyama biru tua, yang padahal masih terlalu cepat dia kenakan. Sebuah topi rajut berwarna abu tua bertengger pada kepalanya yang sudah tidak memiliki rambut sehelai pun.


‘Kenapa bunga-bunga itu terus berayun dengan riang di luar sana?’ tanyanya dalam hati. Sedikit kesal karena apa yang ada di luar jendela kamarnya tampak bergembira di kala dia harus menahan kesedihan.


Rerumputan yang bergoyang itu seakan mengejeknya yang tak lagi bisa bergerak dengan bebas selayaknya orang-orang normal.


‘Tok-tok.’


Seseorang mengetuk sebelum memunculkan wajahnya dari balik pintu. Seorang wanita tua berwajah cantik. Berjalan masuk sembari memaksakan senyuman di balik kesedihan yang terasa.


“Kamu sudah bangun, Juna?” tanya wanita tersebut. Sembari melangkah dan duduk di atas kasur. Mengusap-usap punggung sang anak yang tak merespons. “Ibu mau keluar dulu sebentar. Kamu mau sesuatu?”


Lelaki itu menggeleng lemah. Masih tetap memandang jauh ke luar jendela.


Akhirnya, wanita itu pun pergi, dan menutup pintu kamar rapat. Akan tetapi, suara ketukan kembali terdengar, tak lama setelahnya.


Juna pikir ibunya kembali karena melupakan sesuatu. Namun dia spontan menoleh saat mendengar suara benda berat yang terjatuh. Saat itu, betapa terkejutnya dia karena yang terlihat bukanlah sosok dari sang ibu, melainkan seorang wanita lain yang tentu saja dia kenal.


Nadin terdiam saat baru saja melangkah masuk ke dalam kamar. Matanya menatap ke arah lelaki yang juga menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya.


Tanpa sanggup berkata apa pun, Nadin langsung berjalan cepat, dan memeluk Juna yang bergeming. Lalu, mulai menangis. Disebabkan oleh rasa haru, rindu, sedih, sekaligus takut.


Untuk beberapa saat, Juna masih belum sadar bahwa dia tidak sedang bermimpi. Sosok yang tengah memeluknya benar-benar nyata. Bukan lagi bayang-bayang yang selalu muncul di tengah tidurnya.


Dia pun menaruh tangannya pelan pada punggung Nadin. Mendekap wanita itu dengan erat, dan mulai menitikkan air mata.


Ibu Juna yang saat itu berdiri di luar kamar, menyeka air mata dengan tangannya, dan tersenyum. Dia memilih untuk pergi, dan memberikan waktu kepada dua orang yang tengah saling melepas rasa rindu itu.


Nadin melepas pelukannya. Dia memandang wajah Juna yang membuat hatinya tersayat. Entah apa saja yang telah dilalui oleh lelaki tersebut, namun raut pada wajahnya seakan tak menunjukkan sedikit pun kebahagiaan.


Nadin mengelus pipi Juna—yang langsung memejamkan matanya. Menikmati kehangatan dari seseorang yang seharusnya tak lagi dia temui.


“Ini benar-benar kamu ya…” ucap Juna pelan. Dia memegang tangan Nadin yang masih menempel pada pipinya.


“Iya, Kak. Ini aku…” balas Nadin sembari agak memaksakan untuk tersenyum. “Aku ada di sini…”


Juna pun membuka matanya. Memberikan senyuman yang sama sekali tak berubah. Memandang wanita di hadapannya dengan sorot mata penuh rasa sayang. Dan mengecup bibirnya pelan.


Rasanya aneh bagi Nadin. Saat dia merasakan bibir kering Juna yang menyentuh bibirnya. Semua perasaan sayang yang sempat terkubur, seketika berhamburan keluar. Membuatnya sadar bahwa semua perasaan itu tak pernah hilang. Hanya sedang bertahan dan menunggu seseorang yang dapat memancingnya untuk kembali.


Begitu pula dengan Juna, yang berpikir perasaannya untuk Nadin perlahan hilang termakan waktu. Namun semua pemikiran itu seketika terbantahkan.


***


Juna dan Nadin duduk di atas kasur, sembari memandang ke satu titik yang sama. Pemandangan indah di luar jendela. Semua itu kini seakan tampak jauh lebih indah. Bahkan Juna yang sempat membencinya pun, seketika mulai menikmatinya.


Nadin bersandar pada bahu Juna. Keduanya tak henti bergandengan tangan, seakan enggan untuk saling melepaskan.


Nadin tertawa kecil saat melihat Juna ternyata memakai cincin serupa dengannya. Ternyata kekasihnya itu membuat sepasang cincin, yang sebenarnya dia siapkan sejak lama untuk melamar Nadin suatu hari nanti. Karena keadaan terlanjur mengacaukan semua itu, Juna akhirnya memberikan cincin itu sebagai hadiah ulang tahun. Dan memilih untuk tidak menceritakannya kepada Nadin.


Nadin mengangguk. “Iya. Indah sekali…” ucapnya, sembari tersenyum. Juna tahu benar kalau Nadin selalu berkeinginan untuk melewati musim gugur di jepang. Memandangi daun momiji yang berguguran dengan indah. Seperti yang sekarang sedang mereka lihat melalui jendela.


“Kamu pasti kecewa setelah baca suratku. Karena aku sekonyol itu sudah merencanakan sesuatu yang sangat bodoh.”


“Tapi, seenggaknya aku mengerti kenapa Kak Juna melakukan semua itu. Kalau diingat lagi, aku memang kecewa. Tapi begitu tahu kenyataannya, entah kenapa aku sedikit merasa lega. Karena ternyata Kak Juna gak benar-benar berubah,” jelas Nadin. Dia menjeda perkataannya sesaat. “Tapi… apa gak keterlaluan sampai melibatkan orang lain. Maksudnya… apa Mala tahu soal ini?”


“Iya. Aku dan dia hanya terikat perjanjian. Meski mungkin dia mulai semakin percaya kalau aku benar-benar berpindah hati kepadanya. Padahal aku sudah menjelaskan kalau akan melakukan semua yang dia minta, sebagai persyaratan karena dia mau membantuku.”


"Apa dia tahu kakak di sini?"


"Enggak sama sekali. Gak ada yang tahu soal keberadaanku selain keluargaku. Setelah aku pergi ke sini, aku memutus kontak dengannya."


Nadin terdiam sejenak. Sekelebat bayangan Mala dan Juna muncul dalam pikirannya. Lalu memejamkan mata sebentar untuk melupakannya.


“Aku gak minta kamu buat percaya itu semua…”


“Aku percaya, kok. Aku selalu percaya sama Kak Juna.”


Beberapa puluh menit selanjutnya, mereka habiskan untuk menceritakan semua hal yang tersembunyi selama ini. Dari mulai lebih dari setahun yang lalu saat Juna baru menyadari akan penyakitnya. Leukemia Mielogen Kronis, yang sekian lama telah menggerogoti tubuhnya tanpa sadar, mulai membuat hidupnya tidak tenang.


Bukan hanya dari Nadin, Juna bahkan menyembunyikan soal keadaannya dari keluarganya sendiri. Hingga semua itu benar-benar sudah tidak bisa ditutupi dan membuatnya harus berkata jujur kepada orang tuanya.


Akan tetapi, pengobatan biasa yang Juna jalani waktu itu sama sekali tidak cukup. Hingga sel kanker dalam tubuhnya bertumbuh dengan cepat, dan membuatnya perlahan kehilangan kesempatan untuk hidup.


Tentu Juna merasa terpukul saat dirinya divonis tidak akan berumur panjang. Namun dia lebih merasa tersiksa saat membayangkan reaksi Nadin jika mengetahui semua itu.


Keputusasaan membuatnya berpikir untuk merancang sebuah rencana yang terlalu gegabah. Namun dia pikir hanya itu cara tercepat untuk membuat Nadin menyingkir, sebelum dia terlanjur kehabisan waktu.


Saat itu, Juna teringat akan seorang rekan kerja yang dia hiraukan setelah menyatakan perasaannya. Mala bukan hanya sekali mencoba berbagai cara untuk membuat Juna berpaling padanya, namun selalu gagal. Hingga suatu saat, dia pernah menangis hingga memohon agar Juna mau sebentar saja melihatnya. Karena itulah Juna menemui Mala untuk melakukan rencananya.


Hanya saja, Juna tidak pernah berniat untuk memberikan lebih banyak beban pada Nadin. Dia tidak pernah menyangka kalau semua itu justru memancing sesuatu yang jauh lebih besar. Hingga dia sendiri tersiksa karena harus membuat wanita yang dia cintai menanggung beban yang begitu besar.


Namun Juna tak memiliki pilihan selain melanjutkan perjalanannya. Dengan perasaan berat hati, dia pun pergi. Ke sebuah tempat yang sangat jauh, agar tak mendapat sedikit pun kesempatan untuk melihat sosok Nadin lagi. Dengan pemikiran bahwa dia pun akan bisa melupakan wanita tersebut dengan cepat.


Sayangnya, semua itu salah. Juna justru merasa kondisi hatinya jauh lebih buruk dibandingkan dengan fisiknya. Tidak ada satu pun hari yang dia lewati tanpa memikirkan Nadin.


Apakah dia bahagia?


Apakah dia tidak sedang menangis?


Apakah dia sudah menemukan orang yang bisa selalu menjaga senyumannya?


Terkadang rasa rindu membuatnya terbangun di tengah tidur. Memaksa kakinya untuk melangkah pergi menemui Nadin. Tapi pikirannya berhasil memaksanya untuk diam. Dan menanti ajal menjemputnya di tengah kesendirian. Membiarkan wanita itu untuk hidup tanpa harus merasakan lagi sakitnya kehilangan. Meski dia sendiri harus menerima. Sebuah kematian menyedihkan, di tengah rasa rindu yang tak kunjung terobati.


Sebenarnya, ada satu orang yang tahu semua cerita itu, yakni ibu Nadin. Hari itu, saat Juna mengunjungi rumah sakit untuk terakhir kali, dia menceritakan semuanya. Berharap agar ibu Nadin mengerti, kenapa dia tidak bisa menepati janjinya.


Saat itu, Juna benar-benar takut dan merasa bersalah. Bahkan dia memohon agar ibu Nadin mau memaafkannya. Sembari menangis sejadi-jadinya seperti seorang anak kecil di hadapan sang ibu.


Namun, wanita itu hanya tersenyum dengan sedih. Dia berkata kalau Juna tidak perlu meminta maaf. Karena dia sendiri merasa akan melakukan kesalahan yang sama. Membuat Nadin kembali menanggung kesedihan, karena harus meninggalkannya lebih dulu...