
Tiga hari berlalu dengan sangat lambat bagi Nadin. Dia seakan baru saja melewati beberapa abad yang sangat berat. Namun, hati ini hatinya dan pikirannya sudah jauh lebih baik. Meski memang dia masih belum terbiasa hidup tanpa kehadiran sang ibu.
Setidaknya, Nadin sudah mulai sadar kepada sekitar. Dia bahkan mulai merasa bersalah kepada Axel yang terus menjaganya.
Pagi ini, Nadin terbangun lebih awal. Saat melangkah keluar dari dalam kamar, Axel tampak masih terlelap di atas sofa. Sejak hari pertama, lelaki itu terus tidur di tempat yang sama. Bahkan Nadin sama sekali tidak terpikir menyuruhnya untuk memakai kamar yang semula ibunya tempati. Pasti Axel merasa tidak nyaman tidur di sana, pikirnya.
Nadin pun duduk di atas lantai, tepat di depan wajah Axel yang masih terbuai dalam mimpinya. Dia pandangi lekat lelaki tersebut. Seseorang yang sudah banyak berkorban untuk dirinya tanpa mengharapkan apa pun.
Nadin mendekatkan wajahnya, dan mengecup kening Axel pelan. “Makasih ya…” bisiknya, sebelum bangkit dan berjalan ke arah dapur.
Tentu saja Axel tidak menyadari apa yang terjadi. Dia hanya mendapatkan sebuah mimpi indah, di mana Nadin yang berdandanan layaknya malaikat, datang ke arahnya. Wanita itu berpakaian serba putih, dengan rambut panjang bergelombangnya yang selembut sutra. Sosok cantik itu pun mendekat dan memberikan sebuah ciuman pada kening Axel yang merasa sangat bahagia. Lalu, sang malaikat pun pergi setelah mengucap terima kasih.
Setelahnya, Axel pun terbangun. Dia sedikit kecewa karena mimpinya harus berakhir. Mimpi itu merupakan mimpi terindah yang pernah dia dapatkan.
Masih belum beranjak dari tempatnya, Axel mulai mendengar ada suara bising dari arah dapur.
‘Apa aku masih mimpi?’ tanyanya. Namun, dia sadar kalau wangi yang dia cium benar-benar nyata.
Axel pun bangkit dengan cepat. Lalu menoleh ke arah dapur yang ada di belakangnya, dan mendapati sosok Nadin ada di sana. Sedang sibuk melakukan sesuatu di depan kompor. Lalu wanita itu tampak tengah mengacungkan pisau. Membuat Axel terkejut dan langsung berlari mendekat.
“Kamu lagi ngapain?” saru Axel, sembari mencengkeram lengan Nadin—yang menggenggam pisau.
Nadin cukup dibuat terkejut karenanya. Lalu dibuat kebingungan saat melihat wajah cemas Axel.
“Aku lagi bikin sarapan, Xel…”
Si lelaki berambut cokelat pun menjadi kikuk karenanya. Beberapa saat lalu dia sempat berpikir kalau Nadin hampir melakukan sesuatu yang bodoh. Padahal, hal itu lebih tepat diucapkan kepada dirinya sendiri.
Axel pun langsung melepas cengekeramannya. “Eh, sorry…” ucapnya. “Em, kamu udah gak apa-apa? Biar aku yang teruskan masaknya.”
Nadin hanya bisa mengalah dan tersenyum. Dia membiarkan Axel mengambil alih, namun tetap berada si sana untuk membantu.
***
Setelah selesai mandi, Nadin berdiri di tengah rumah dan mengamati sekeliling. Dia sadar kalau rumahnya sudah lama tidak dibersihkan. Debu-debu mulai menumpuk, dan membuatnya berkali-kali bersin saat membereskan tumpukan kardus di pojok ruangan.
Saat itu, tiba-tiba seekor kecoak terbang dan langsung menyerbu ke arahnya. Nadin spontan berteriak dan membuat barang-barang dalam kardus jatuh berhamburan ke atas lantai.
Axel yang saat itu tengah berada di dalam kamar mandi, langsung terkejut saat mendengar suara teriakan Nadin. Tanpa pikir panjang lagi, dia memakai handuk di pinggang, dan berlari keluar.
“Kamu kenapa?” teriaknya dengan cemas. Lalu mendapati Nadin yang berjongkok tak jauh dari sana.
Tapi lagi-lagi wanita itu berteriak, bukan karena kecoak, namun kali ini karena melihat Axel bertelanjang dada.
Axel pun langsung panik dan kembali masuk ke kamar mandi. “Kamu kenapa?” teriaknya dari dalam sana.
“Enggak apa-apa. Cuma kecoak,” balas Nadin. Wajahnya agak memerah.
Nadin baru menyadari kalau ternyata tubuh Axel sangat atletis. Padahal sebelumnya terbilang biasa saja. Tapi setelah beberapa bulan tidak bertemu, memang benar lelaki itu berubah banyak. Sepertinya dia mulai pergi ke gym.
Kali ini Axel keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. “Udah pergi kecoaknya?” tanyanya.
“Gak tau ilang ke mana.”
Axel pun membantu Nadin merapikan barang-barang yang berhamburan dari dalam kardus. Dia tampak bingung saat melihat banyak kertas yang berserakan. “Ini kertas-kertas apaan?”
“Oh, itu lagu. Dulu aku suka iseng-iseng nulis lirik lagu.”
“Terus, gak beneran dibuat?”
“Masih jelek ah.”
“Terus kenapa disimpen, gak dibuang?”
“Hm… kenang-kenangan. Soalnya semuanya udah jadi kayak pengganti buku harian buat aku.”
“Melihat matamu membuatku sadar. Ada binar yang berbeda dari pancarannya saat menatapku dari kejauhan. Membuat getaran dalam hatiku menjadi-jadi. Hingga kaki ini tak sadar bergerak perlahan…”
Nadin langsung panik saat sebuah lirik lagu yang dia tulis saat SMA dibacakan oleh Axel. “Ih, jangan dibaca!” serunya, sembari berusaha merebutnya. Tapi Axel justru berdiri dan mengacungkan kertas itu tinggi-tinggi, sambil masih terus mengejanya keras.
“Axel! Balikin gak!” paksa Nadin yang menahan malu. “Axel!!”
“Tentang apa?”
“Cinta?”
“Persahabatan aja gimana?”
Axel langsung memegang dadanya, dan berkata dengan dramatis. “Aku benar-benar kena friendzone ya…”
Hal itu membuat Nadin tertawa, untuk pertama kalinya, setelah melewati hari-hari yang berat.
***
Nadin dan Axel pun memutuskan untuk mencari udara segar di luar rumah. Mereka berjalan-jalan, dan singgah di sebuah kafe. Lalu benar-benar melanjutkan rencana mereka untuk membuat lagu bersama.
Nadin sibuk dengan pensil dan kertas. Mencatatkan tiap lirik yang sudah mereka sepakati.
“Kata-kata itu terdengar lembut di telinga…”
“Kayaknya lebih enak mengalun dibanding terdengar.”
“Boleh juga.”
Nadin kembali menulis dengan cepat. “Melekat dalam pikiran…”
“Abadi dalam kenangan.”
“Bagus tuh.”
Di saat Nadin sibuk dengan pekerjaannya, Axel justru tak henti memandangi wanita itu sembari tersenyum. Wajah Nadin sudah kembali berbinar. Tak lagi pucat dan suram seperti sebelumnya.
Bibir merah mudanya pun tampak bersinar. Membuat Axel tak pernah merasa bosan tiap kali memandanginya. Apalagi jika disertai dengan senyumannya yang manis. Begitu menggoda dan membuatnya tak tahan untuk menyentuhnya. Merasakan kelembutan itu dengan bibirnya.
‘Brak!’
Tiba-tiba, seseorang menggebrak meja. Membuat Axel sedikit terperanjat.
Entah bagaimana ceritanya, Tyo tiba-tiba berdiri di sana sembari menatap sinis kepada Axel. “Lha, Bang Tyo. Datang dari mana tiba-tiba ada di sini?!”
“Ya, dari pintu, lha!” balas lelaki berkacamata itu.
“Bang Tyo!” seru Nadin. Dia langsung bangkit dan memeluk mantan manajernya itu.
Wajah Tyo yang semula sinis langsung berubah sangat ramah. “Kamu udah baikan?” tanyanya sembari mengusap kepala Nadin dengan penuh kasih sayang.
“Iya. Makasih ya, Bang.”
Saat baru saja sampai di kafe tersebut, Nadin langsung mengirimkan pesan kepada Tyo dan mengajaknya untuk bertemu di sana. Namun dia lupa memberitahukannya kepada Axel.
Tyo pun bergabung dengan mereka berdua. Lalu kembali melirik ke arah Axel dengan wajah penuh kecurigaan. ”Kamu mikir apa tadi, ngeliatin Nadin sampai segitunya?” tanyanya.
“Hah? A-apaan, sih. Aku gak mikir apa-apa,” balas Axel dengan agak panik. Seakan khawatir Tyo bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.
“Awas kamu, kalau macam-macam sama Nadin.”
“Tenang, Bang. Axel aman, kok. Buktinya tiga ahri dia nginap di rumah, aku aman-aman aja,” ujar Nadin sembari tertawa.
“Gak, gak bisa. Aku harus menginap di rumahmu malam ini buat jaga-jaga.”
“Apaan sih, Bang. Orang aku biasa aja daritadi.”
“Biasa apanya? Mukamu udah kayak kakek-kakek mesum, tahu gak?”
“Hah? Sembarangan! Muka ganteng gini dibilang kayak kakek mesum. Gak salah?”
Nadin justru tertawa di saat ada dua orang yang tengah beradu mulut di hadapannya. Dia merasa sangat lega karena akhirnya sudah bisa tertawa tanpa beban. Hanya berharap kalau keadaan akan terus semakin membaik ke depannya. Agar dia tidak perlu merasakan hari-hari menyedihkan seperti kemarin.
‘Bu, aku punya banyak orang yang jagain di sini. Jadi ibu bisa istirahat dengan tenang ya…’