
Sebelum meninggalkan Athena, Nadin menyempatkan diri untuk berpamitan dengan para member Hybrid yang kini hanya tinggal berempat. Sedikitnya mereka sempat dibuat kerepotan karenanya, terutama Ramos.
“Baik-baik ya. Sekali-kali kabari kami. Nanti akan aku kirim tiket konser khusus buatmu,” ucap Ramos dengan senyumnya yang menangkan seperti biasa.
"Makasih ya, Kak," balas Nadin."Omong-omong, apa Axel baik-baik aja?"
"Kamu gak perlu khawatir. Dia orang dengan mental baja."
"Syukurlah..."
"Apa aku boleh kirim nomormu ke dia?"
"Boleh, Kak."
Ramos sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kalau kalian ketemu nanti, panggil dia Dion," bisiknya sebelum Nadin melangkah pergi.
Cukup emosional bagi Nadin saat memandang gedung manajemen Athena untuk terakhir kalinya. Bagaimana pun tempat itu sudah dia kunjungi selama bertahun-tahun. Di sana pula karirnya mulai terbangun hingga bisa menjadi sangat besar. Dan kini, akhirnya pun harus berakhir di tempat yang sama.
“Ayok,” ajak Tyo. Dia bermaksud mengantarkan Nadin kembali menuju apartemen.
Di sepanjang perjalanan, Nadin terus memandangi ponselnya. Menatap sebuah pesan dari nomor tak bernama. Tapi dia tahu jelas siapa si pengirim.
‘Bisa ketemu sebentar hari ini? Setidaknya untuk terakhir kali.’
Sudah beberapa jam berlalu sejak pesan tersebut masuk. Nadin masih belum memutuskan akan membalas atau tidak. Hingga entah kenapa tiba-tiba dia merasa yakin untuk membalasnya.
‘Di taman jam 7 malam.’ Ketik Nadin singkat.
“Bang, aku turunin di depan aja ya.”
“Mau ngapain?”
“Mau menyelesaikan masalah.”
“Serius. Mau apa?”
Nadin bergegas memasang masker dan tudung jaketnya sebelum turun dari mobil. Cukup butuh waktu sampai dia berhasil membujuk Tyo agar tidak perlu menunggunya.
Akhirnya, Nadin pun melangkah ke arah taman. Mencari tempat duduk yang tersembunyi di antara pepohonan dan tanaman yang lebat. Dia duduk bersandar sembari menikmati langit yang perlahan menguning di atas air mancur yang selalu tampak cantik di matanya.
Masih tersisa satu setengah jam hingga waktu pertemuannya. Padahal Nadin bisa saja mempercepatnya. Tapi, dia memilih untuk menikmati waktu kesendiriannya di tempat tersebut. Hingga tak terasa langit perlahan mulai kehilangan sinarnya. Dan lampu taman mulai menyala, untuk menggantikan mentari yang tengah terlelap.
Nadin mendengar suara gemersik dedaunan dari sisi sebelah kanan air mancur. Saat menoleh, Juna baru saja muncul dari balik sana.
Rasanya masih belum biasa bagi Nadin untuk memandang laki-laki itu lagi. Tapi, dia sudah tidak ingin lari. Dan mengakhiri semua hal yang membuat perasaannya selalu merasa tidak nyaman. Dia pun memberikan senyuman tipis.
“Masih setengah tujuh,” ucap Nadin setelah melirik ke layar ponselnya.
“Aku tahu kamu pasti sampai duluan.”
Juna pun duduk di samping Nadin. “Kamu baik-baik aja?”
Wanita tersebut justru tertawa, lalu menghembuskan napas. “Mana mungkin aku baik-baik aja. Cuma berusaha begitu,” ucapnya sembari tersenyum.
Untuk beberapa saat, keduanya saling diam sembari menatap air mancur.
“Aku keluar dari manajemen,” tambah Nadin, sembari tidak mengubah arah pandangnya.
Juna yang cukup terkejut, menoleh ke arah wanita di sampingnya. “Kenapa?”
Juna mengembalikan pandangannya ke arah depan. “Berarti, kamu mau pindah?”
“Iya. Ibu minta supaya berhenti rawat inap. Kita berdua mau pindah ke rumah yang biasa, di tempat yang biasa juga. Gak jauh dari sini sih sebenernya.”
“Kamu yakin ibu mau berhenti dirawat?”
“Iya. Lagian uang tabunganku suatu saat bakal habis. Dan aku belum yakin bisa dapat pekerjaan yang gajinya bagus.”
“Biarkan saja ibu tetap dirawat. Biar aku yang bayar biaya rumah sakitnya.”
Nadin menggeleng. “Enggak, Kak. Makasih. Biar aku yang memikirkan soal ibu. Aku udah gak mau ngerasa berutang budi sama Kak Juna.”
Nadin memiringkan duduknya dan menggenggam tangan Juna. “Dan, aku cuma mau bilang kalau apa pun yang terjadi di antara kita, cukup berakhir di hari ini. gak ada lagi kebencian atau apa pun. Aku juga berterima kasih buat semua hal yang udah Kak Juna kasih dan perjuangkan buat aku. Mungkin aku bukan yang terbaik buat Kak Juna. Tapi tetap Kak Juna akan jadi seseorang yang spesial buat aku, sebagai seorang teman.”
Wajah Nadin mulai memerah. Dia berusaha keras menahan kesedihan yang hampir membeludak. Bibirnya pun tetap memaksakan untuk tersenyum. “Cuma itu yang mau aku bilang, Kak. Makasih ya… semoga kakak bahagia sama apa yang jadi pilihan kakak. Dan doakan supaya aku juga bahagia dengan hidup baru aku.”
Nadin bermaksud untuk berdiri dan pergi dari sana. Namun hingga dia berdiri, Juna tak kunjung melepaskan tangannya. Lelaki itu justru turut bangkit dari duduk. Padahal Nadin sudah tidak tahan ingin menangis sejadi-jadinya.
“Tunggu, aku sama sekali belum bilang apa-apa,” ucap Juna. Masih sembari menggenggam tangan Nadin erat.
“Gak perlu…”
“Dengarkan dulu sebentar. Karena ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir kita.”
Nadin menatap wajah Juna lekat. Alis lelaki tersebut terangkat, seakan menahan kesedihan. “Aku juga akan pindah,” sambung Juna. “Minggu depan. Ke Jepang.”
“Kenapa tiba-tiba?” Tentu Nadin terkejut. Karena kelihatannya Juna masih tetap bisa melanjutkan karirnya, tapi justru mendadak akan pergi. Padahal seharusnya dia yang mengasingkan diri ke tempat sejauh itu.
Tanpa menjawab apa pun, Juna menarik tangan Nadin hingga membuat wanita tersebut terjatuh ke dalam pelukannya. Juna pun mendekap Nadin erat, seakan tidak ingin melepasnya pergi.
“Maaf…” ucapnya.
Nadin bisa mendengar dengan jelas suara Juna yang bergetar.
“Aku tahu suatu saat pasti akan membuatmu menangis dan kecewa. Tapi, aku sama sekali gak pernah berharap melihatmu harus melewati hari-hari menyiksa seperti kemarin. Aku gak bisa berhenti membayangkan kamu sendirian, ketakutan, kesepian… Aku pikir dengan kepergianku, kamu bisa terus hidup bahagia. Bahkan jauh lebih bahagia… Aku benar-benar minta maaf…”
Mendengar hal itu, Nadin sudah tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir. Dia pun memeluk balik Juna dengan erat. Meluapkan semua perasaan yang bercampur aduk di dalam hati.
Setelah melepas pelukannya, Nadin bisa melihat wajah Juna dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia hanya bisa memandangnya dengan senyuman. “Makasih ya…”
“Satu hal lagi, sebelum kamu pergi. Apa aku boleh meminta tolong untuk terakhir kali?”
“Meminta tolong apa?”
“Aku tahu kamu mungkin akan benci atau muak sewaktu melihat hal-hal yang berhubungan denganku. Tapi, bisa kamu simpan cincin pemberianku waktu itu?”
Tanpa berniat memperpanjang pembicaraan, Nadin hanya mengangguk mengiyakan.
“Terima kasih,” balas Juna. Dia pun berpamitan dan menghilang di balik air mancur. Meninggalkan Nadin yang masih berdiri seorang diri, menatap langit.
“Lima tahun untuk… perpisahan. Apa itu adil?” gumamnya seorang diri. Lalu mulai berjalan pulang.
Hari ini tercatat sebagai hari terakhir dari kehidupan Nadin yang lama. Dia sebagai seorang artis, dan dia sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan lelaki bernama Juna.
Terhitung sejak esok, Nadin sudah membuat kesepakatan dengan diri sendiri, bahwa dia akan memulai lembaran baru. Memulai semuanya dari awal, bersama sang ibu tercinta.