Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Puluh Enam



Di tengah kegelapan yang mengerubungi, Nadin merasa tengah mendengar suara seseorang memanggil namanya. Sayup-sayup berkata dari kejauhan. Namun perlahan semakin keras, hingga tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.


‘Nadin.’


Nadin agak tersentak dikejutkan oleh suara yang entah milik siapa. Hanya sempat terbesit bayangan Juna untuk beberapa saat.


Saat itu, Nadin baru saja tersadar kalau dia telah pingsan, akibat mabuk dari minuman—yang entah apa—yang dia minum sembarangan. Kepalanya masih terasa pening, namun mual dalam perutnya sudah hilang.


Kesadarannya masih belum pulih sepenuhnya. Dia bahkan butuh waktu cukup lama hingga menyadari saat ini sedang tertidur di atas kasur. Di dalam ruangan yang cukup gelap. Bahkan dia sempat lupa kalau terakhir kali sedang berada di tengah pesta. Entah apa yang terjadi saat itu hingga dia bisa tiba-tiba berada di ruangan tersebut.


Nadin mencoba menenangkan diri agar denyutan pada kepalanya hilang. Lalu membalikkan badan dengan sekuat tenaga—sembari agak mengerang. Saat itu, dia baru menyadari kalau tidak sedang sendirian di tempat itu. Ada seseorang yang masih terlelap di sampingnya.


"Juna…" ucap Nadin spontan. Untuk beberapa saat dia termenung, sembari menatap wajah lelaki tersebut.


Beberapa detik setelahnya, kesadaran Nadin baru saja kembali. Matanya terbelalak karena entah bagaimana bisa sedang berada dalam satu ranjang dengan Axel. Dia bergegas bangkit dan duduk di atas kasur. Saat itu dia baru menyadari kalau pakaiannya telah dilucuti, dan saat ini dia hanya mengenakan pakaian dalam saja. Bahkan Axel pun tampak bertelanjang dada.


‘Apa-apaan ini?! Tidak mungkin…”


Nadin mulai panik. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, tapi masih belum bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang berputar dalam kepalanya.


Saat melihat pakaiannya tergeletak di atas lantai, Nadin lekas mengambil dan mengenakannya kembali. Lalu bermaksud untuk langsung pergi dari ruangan tersebut. Hanya saja, pintunya terkunci. Dia pun tidak bisa menemukan kuncinya di mana-mana, dalam arti lain, mereka terkurung di dalam sana.


Nadin terus mencoba menarik-narik pintu dengan sekuat tenaga-meski sia-sia. Hingga suaranya membangunkan Axel yang langsung mengerang sembari memegangi belakang kepalanya.


Nadin justru bertambah panik, karena dia masih mengira Axel-lah yang membuatnya ada di ruangan itu. Dan entah apa yang lelaki itu sudah lakukan kepadanya selama tak sadarkan diri.


Axel pun terduduk. “Arghh…” Dia masih tampak kesakitan dan belum sadar akan keadaan yang terjadi.


Setelah kesadarannya kembali, dia agak terkejut karena ingat ada seseorang yang sudah menghantam kepalanya hingga tak sadarkan diri.


“Nadin… kamu gak apa-apa?” tanyanya langsung dengan nada cemas. Dia bermaksud melangkah mendekat ke arah nadin. Namun, dia harus kembali terkejut karena wanita tersebut tampak sangat ketakutan.


“Jangan mendekat!” teriak Nadin. “Diam, di sana!” Suaranya terdengar seakan ingin menangis.


Axel yang baru tersadar kalau dia hanya mengenakan celana boxernya, berpikir kalau Nadin mungkin salah paham dengan apa yang terjadi. Tentu hanya dia yang tahu bahwa ada seseorang yang sudah menjebak mereka berdua, hingga berada di tempat itu.


“Kamu salah paham, Nadin…”


“Please, Xel! Jangan dekati aku…” Nadin masih terus menolak untuk didekati. Bahkan sekarang dia mulai menangis. Lalu mulai menggedor pintu sembari berteriak. “Tolong! Siapa saja, tolong!”


Axel hanya bisa mengepalkan tangan kesal. Bahkan dia tidak tahu siapa orang yang melakukan itu semua kepada mereka. Yang tersisa hanyalah bayangan akan sosok lelaki yang sempat ingin membawa Nadin pergi.


Axel mencari-cari keberadaan barang miliknya. Namun hanya ada celana dan jas yang tergeletak di atas lantai. Ponsel yang seharusnya selalu dia bawa, entah berada di mana.


“Tolong… siapa saja…” Perlahan, suara Nadin mulai melemah. Namun berganti dengan isak tangis yang semakin kencang.


Selang beberapa menit. Nadin merasa ada  seseorang yang mencoba membuka pintu dari luar. Sepertinya kunci pintu tersebut tergantung di luar.


Nadin menanti dengan penuh harap. Ingin lekas berlari dan menjauh dari tempat tersebut secepat mungkin.


Saat pintu dibuka. Nadin pun menerobos keluar tanpa melihat siapa yang membukakan pintu untuknya. Hingga tanpa sadar menabrak dan terjatuh ke dalam pelukan orang tersebut.


Nadin mendongakkan kepalanya ke atas. Hingga mendapati wajah Juna yang tampak terkejut akibat kemuncullannya yang tiba-tiba dari balik pintu. Di luar semua permasalahan yang terjadi, Nadin setidaknya merasa tenang saat melihat wajah seseorang yang dia kenal. Apalagi orang tersebut sang mantan kekasih yang sudah dia kenal selama bertahun-tahun.


“Kamu gak apa-apa?”


Nadin belum bisa berkata-kata. Dia justru membalas pertanyaan Juna dengan tangisnya yang langsung pecah.


*“Shit!” *umpat Axel saat tubuhnya terjatuh ke atas lantai. Padahal kepala bagian belakangnya masih terasa sakit.


“Hei, kau salah paham.” Axel berusaha menjelaskan, namun Juna benar-benar menutup telinga.


Juna menarik baju Axel dengan paksa, dan memberikan tendangan sehingga lelaki tersebut terdorong hingga keluar dari ruangan tersebut.


Nadin yang masih kebingungan, tambah semakin panik karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jadi, dia langsung pergi menjauh dari sana. Dan pergi mencari bantuan.


Ternyata tempat dia berada masih berada dalam satu gedung yang sama dengan tempat pesta yang diadakan Marco. Hanya berada pada lantai yang lebih tinggi. Sayup-sayup, Nadin masih bisa mendengar suara alunan music yang perlahan semakin jelas.


Dengan wajah yang sudah tampak semrawut, Nadin berlari dengan panik. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan tatapan bingung.


Nadin pun sampai pada lantai di mana pesta masih berlangsung. Dia bergegas menuju ke tempat di mana Ramos berada, sembari berharap orang yang dicari masih ada di sana.


Perasaannya cukup lega saat melihat lelaki rambut merah itu masih duduk pada meja yang sama. Dengan wajah sembab, Nadin berlari mendekat. “Kak… Kak Ramos, tolong…” ucapnya.


“Astaga, Nadin. Kamu kenapa? Darimana saja kamu daritadi? Kamu pergi sama Axel?”


Tangan Nadin yang gemetar mencengkeram lengan Ramos. Dia tertunduk tanpa bisa menjawab. Tentu saja Ramos langsung mengajak Nadin pergi karena merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


Ketiga member Hybrid yang lainnya pun mengekor pada sang ketua. Mereka terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Hingga akhirnya cukup terkejut saat melihat Axel dan Juna yang saling baku hantam. Di tengah beberapa orang yang hanya menonton sembari merekam.


Dilihat berapa kali pun, tampak jelas kalau Juna lebih unggul dibandingkan Axel yang sudah mulai tampak mendapatkan lebam serta luka berdarah pada wajahnya. Namun Axel tidak tampak menyerah dan terus mencoba menyerang balik Juna yang tampak seperti kesetanan.


Ramos dan Bintang melerai kedua orang yang tengah berkelahi. Sementara Grey dan Ve meminta orang-orang yang ada di sana untuk pergi—setidaknya berhenti merekam dan mengambil gambar. Nadin sendiri hanya bisa berdiri dengan kaki gemetar di pinggir tembok.


Ramos dan Bintang cukup kesulitan menangani Axel dan Juna yang seakan tidak kunjung kehabisan tenaga. Keduanya masih berusaha memberontak dan kembali saling serang.


“Kalian berdua, cukup! Ini akan jadi masalah besar!” ucap Ramos. Dia langsung menarik paksa Axel. Lalu menyuruh Ve untuk membawanya pergi.


Juna yang sudah mulai bisa tenang, hanya berdiri sembari menatap tajam pada Axel yang mulai menjauh. Kemudian, dia mulai berjalan ke arah Nadin, bermaksud membawa pergi wanita tersebut. Akan tetapi, Ramos menghalanginya. “Biar aku yang antar Nadin pulang,” katanya. Dia merasa khawatir karena setenang apa pun, Juna seakan masih menyimpan banyak emosi yang terpendam. Dan cukup mengkhawatirkan jika dia dibiarkan pergi berdua dengan Nadin yang juga masih belum bisa tenang.


Juna hanya mendengus sebelum akhirnya pergi menjauh.


“Bilang ke yang lain kalau aku akan antar Nadin dulu,” ujar Ramos pada Grey yang langsung mengangguk dan pergi.


Ramos membuka jasnya dan memakaikannya ke arah punggung Nadin. Wanita bertubuh mungil itu masih terisak, tak bisa berhenti menangis. Dia pasti bingung dan cukup terkejut dengan apa yang sudah terjadi. Bahkan dia sama sekali tidak berkata apa pun hingga sampai di apartemen. Membuat Ramos harus menelepon Tyo—yang terkejut setengah mati—untuk menanyakan alamat tempat tinggal Nadin.


“Astaga. Aku benar-benar kaget waktu kamu telepon tadi. Nadin sudah sampai?”


“Iya. Aku baru saja keluar dari apartemen Nadin.”


“Terima kasih, Ramos. Aku bersyukur ada kamu di sana.”


"Oiya, hp Nadin hilang entah di mana, jadi kontak ke nomor kamarnya saja."


Ramos masuk ke dalam mobilnya, masih sembari menggenggam ponsel. “Kayaknya kamu harus siap-siap, Bang. Sepertinya ada yang menjebak mereka dan bermaksud membuat skandal yang besar.”


“Kamu benar. Aku sudah mulai ngerasa gak enak.”


“Masalahnya, ini bukan hanya akan jadi masalah sepele seperti skandal Axel yang sudah-sudah.”


“Ya, aku tahu. Karena, masalah ini menyangkut Juna dan Nadin.”


“Iya. Dan terburuknya. Ini bisa jadi akhir dari karir salah satu dari mereka.”