Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Delapan



Jantung Nadin tak henti berdetak dengan kencang, seiring dengan langkah kakinya yang berat. Dia ingin sekali pergi dari sana. Namun belum menemukan waktu tepat untuk berkata jujur kepada wanita yang masih menarik lengannya.


Apa yang akan terjadi kalau dia berkata jujur soal semuanya? Nadin merasa takut hal itu akan menimbulkan sebuah masalah yang sangat besar. Dan dia sama sekali tidak ingin menyebabkan kekacauan di tengah acara yang sedang berlangsung.


Beberapa saat sebelum sampai pada sebuah meja bundar di sisi ruangan, Nadin sudah bisa melihat keberadaan Frans yang berdiri di samping ayahnya. Lelaki itu menatap ke arah Nadin, dan memberikan senyuman dengan berbagai arti. Satu hal yang jelas, Nadin merasa kesal diperlakukan seperti itu.


“Nadin! Ya ampun, kayaknya kita sudah lama gak ketemu ya! Om sampai kaget waktu tiba-tiba Frans bilang kamu ada di sini,” sambut Pak Yandhika dengan ramah. Wajahnya tampak bahagia sekali saat mendapati sosok Nadin di hadapannya.


Sementara Nadin, berusaha untuk membalas dengan ramah—meski agak terpaksa. Karena dia pikir, satu-satunya orang yang harus disalahkan hanyalah Frans. Kedua orang tuanya hanyalah korban dari sebuah kebohongan—yang seharusnya tersimpan di Amerika.


“Kamu sehat, kan?”


“Iya, sehat, Om. Makasih…”


“Karena ada proyek ini, kayaknya Om dan tante akan lama di Indonesia. Jadi kita bisa sering ketemu. Kamu harus sering-sering datang ke rumah ya!”


“Em, maaf, Om.”


Baru saja Nadin hendak membongkar semuanya. Frans memotong dengan cepat. Tampaknya dia menyadari apa yang hendak wanita tersebut katakan. “Aku mau bicara sama Nadin dulu ya,” ucapnya. Sembari merangkul bahu Nadin.


Keduanya pun memisahkan diri dari tempat semula, dan pergi ke luar ruangan. Berjalan pada lorong yang agak sepi.


“Kamu apa-apaan?” tanya Nadin dengan kesal. “Bukannya kamu sudah janji?”


“Bukannya sudah aku jelaskan?”


“Jelaskan apa?”


Frans memasang wajah berpikir untuk beberapa saat. “Oh, iya juga. Salahmu sendiri sewaktu di bandara pergi begitu saja sebelum mendengar penjelasanku.”


Nadin merasa semakin kesal. Apalagi saat mendapati ekspresi Frans yang seakan tidak memiliki salah apa pun padanya. Lelaki itu tampak menikmati semua yang terjadi, atau mungkin sengaja melakukannya.


“Aku gak peduli apa alasanmu. Tapi, aku minta kamu jelaskan yang sebenarnya kepada orang tuamu. Sebelum semuanya jadi semakin rumit!”


“Kalau aku menolak?”


“Biar aku yang melakukannya.”


Nadin bermaksud membalikkan badan dan kembali ke ruangan. Tentu Frans tidak membiarkannya begitu saja dan menarik lengannya. Kini lelaki itu memegangi lengan Nadin dengan kedua tangannya.


Saat itu, posisi Frans membelakangi arah pintu ruangan, sehingga dia tidak melihat keberadaan seseorang yang tengah menuju ke arahnya.


Nadin bisa menangkap sosok Axel yang datang dengan penuh emosi. Tanpa basa-basi, lelaki itu menarik bahu Frans, dan memberikan sebuah pukulan pada wajah. Membuat si lelaki yang terkena serangan hampir saja terjatuh kalau tidak ada tembok di dekatnya berada.


Nadin langsung melangkah ke belakang Axel. Bersembunyi di sana, masih sambil memperhatikan Frans yang tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan sama sekali. Padahal pukulan yang diterimanya sangat keras, hingga suaranya bisa terdengar. Namun wajah lelaki tersebut masih tetap sama, seakan tidak terintimidasi sama sekali.


Frans melangkah beberapa kali ke hadapan Axel. “Kau siapa?” tanyanya dengan santai. Kedua  tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


“Aku pacarnya Nadin.”


“Ho…” ucap Frans, sambil melirik ke arah kepala Nadin yang tersembul di balik tubuh Axel. “Nadin tidak pernah bilang kalau dia punya pacar.”


“Huh, buat apa dia menceritakannya kepada orang yang tidak jelas sepertimu.”


“Orang tidak jelas?” Frans sedikit tertawa meremehkan.


Axel berusaha keras menahan emosinya agak tidak meledak-ledak seperti biasa. Dia menahan diri agar bisa lebih tenang, setidaknya di hadapan Nadin. “Jangan ganggu dia lagi.”


“Mungkin itu lebih tepat dikatakan kepada Nadin. Dia tahu benar siapa yang duluan mengganggu siapa. Aku hanya sedang ingin bertemu dengan pacar yang memutus kontak saat di Amerika.”


Seketika, Nadin merasakan tangannya berkeringat dan sedikit bergetar. Bukan, dia tidak takut dengan keberadaan Frans. Namun mulai seram membayangkan reaksi Axel saat mendengar kata-kata barusan.


Nadin yang saat ini berdiri di belakang punggung Axel, sama sekali tidak bisa melihat eskpresi dari pacarnya itu. Tapi dia yakin, sedikitnya Axel pasti merasa kecewa karena dia sudah menyembunyikan sesuatu selama di Amerika.


Nadin bergerak dengan cepat, dan berdiri di hadapan Axel yang bergeming. Lelaki itu terdiam sembari memikirkan sesuatu yang entah apa. Nadin menatapnya lekat, memberikan tatapan penuh harap agar tidak dimarahi habis-habisan.


“Dion… maaf…” ucap Nadin dengan nada pelan dan bergetar. Dia memegang tangan Axel dengan erat.


Hal selanjutnya yang Axel lakukan hanyalah menghembuskan napas. Mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Lalu mengusap kepala Nadin.


“Gak apa. Kamu pasti punya penjelasan soal semuanya, kan?” ucapnya lembut, seraya memberikan senyum menenangkan.


Semua itu membuat Nadin tak tahan untuk tidak memeluk lelaki di hadapannya. Dengan hati yang dipenuhi perasaan bersalah.


“Kamu gak kenapa-napa?” tanya Stefan yang datang mendekat.


Nadin pun menggelengkan kepala sembari tersenyum. “Enggak, Kak.”


Sejak tadi Stefan terus penasaran soal Frans. Meski ingatannya samar, dia dia yakin kalau Juna pernah membahas soal lelaki itu. Sepertinya mereka berdua sempat terlibat permasalahan, beberapa tahun lalu. Tapi saat itu Stefan terlanjur tidak peduli hingga tidak menyimak benar-benar cerita adiknya.


Kini saat lelaki yang dibicarakan mendadak muncul kembali, membuat Stefan berusaha keras mengingat. Meski hasilnya sama saja. Hanya satu hal yang tersisa dalam kepalanya, kata-kata Juna yang bilang bahwa Frans adalah orang yang berbahaya.


“Kayaknya kita pulang aja ya.”


Nadin merasa tidak enak karena sejak datang, dia sama sekali belum bertemu dengan Pak Adya. Tapi, dia sama sekali tidak ingin kembali ke ruangan tadi. Membuatnya merasa seram jika harus memikirkan akan terjebak di tengah keluarga Frans lagi.


“Maaf ya, Kak. Aku jadi gak sempat kasih sama ke Pak Adya.”


“Gak apa. Biar aku yang sampaikan. Makasih ya udah datang.”


Axel dan Nadin pun pergi menuju ke pintu keluar gedung. Keduanya terus bergandengan tangan dengan erat. Di satu sisi, Axel takut kehilangan. Sementara Nadin takut ditinggalkan karena merasa sudah mengecewakan. Mereka terus seperti itu hingga masuk ke dalam mobil Axel.


“Aku mau jelaskan soal tadi…” ucap Nadin, saat mobil Axel mulai berjalan.


“Gak usah memaksakan diri. Kamu pasti capek, kan? Cerita besok juga gak apa.”


“Enggak. Aku gak mau bikin kamu kepikiran semalaman.”


“Iya, sih. Aku pasti gak bisa tidur kalau belum dapat penjelasan.”


Nadin pun menceritakan semua hal yang terjadi sedetail mungkin, di sepanjang jalan menuju ke rumahnya. Selama itu Axel hanya mendengarkan tanpa menginterupsi, sembari fokus mengendarai mobilnya.


Awalnya Axel sempat merasa sakit hati karena Nadin seakan tidak menghargainya, hingga memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Frans. Sekalipun itu hanya sebuah rekayasa. Tapi, semua perasaan itu hilang setelah dia yakin kalau Nadin hanya bermaksud bertanggung jawab atas kesalahannya.


Tentu Axel menyalahkan Frans, yang pada akhirnya melanggar perjanjian yang dia buat dengan Nadin. Seharusnya mereka sudah tidak memiliki hubungan apa pun setelah Nadin pulang ke Indonesia. Tapi, tampaknya Frans sama sekali tidak memberi penjelasan apa pun kepada orang tuanya.


Hal itu pun membuat Axel agak cemas, karena dia sama sekali tidak bisa menebak apa maksud dari Frans. Apa memang lelaki itu terkanjur jatuh cinta pada Nadin? Sama sekali tidak ada yang tahu.


Cerita Nadin pun berakhir saat mobil Axel berhenti di depan rumahnya. Dia sudah selesai menceritakan semua, tapi entah kenapa masih ada perasaan yang mengganjal. Bahkan Axel sempat berterima kasih karena dia sudah berkata jujur.


Axel melirik ke arah Nadin yang justru duduk terdiam. Bahkan dia sama sekali tidak melepas sabuk pengamannya.


“Kamu kenapa?” tanya Axel pelan. Dia tahu Nadin merasa tidak enak, sehingga berusaha untuk menjaga nada bicaranya.


Nadin pun balik menatap Axel. “Kamu gak marah atau kecewa sama aku?” tanyanya.


“Enggak, kok.”


Axel tambah bingung saat Nadin tidak bereaksi dan masih tetap memandangnya. Padahal dia sudah menjawab pertanyaan tadi.


Akhirnya, Axel pun memberikan sebuah ciuman pada bibir Nadin. Lalu mengelus pipi wanita yang dia sayangi itu. “Aku sama sekali gak marah,” ucapnya lagi, sembari tersenyum.


Kali ini, Nadin membalas dengan senyuman. Perasaannya sudah cukup lega sekarang. Untung saja malam ini berakhir dengan baik. Karena jika tidak, mungkin Nadin akan terus terjagahingga pagi.