Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Dua Puluh



Nadin terbangun dengan perasaan campur aduk. Padahal hotel yang sudah disediakan oleh orang tv untuknya cukup bagus. Kasurnya pun lebih empuk dari yang dia punya di apartemen. Tapi, tubuhnya tidak cukup segar sewaktu bangun tidur. Padahal dia harus *tapping *untuk acara tv dari pagi-pagi sekali.


Setelah mandi dan berdandan seadanya—karena dia akan kembali didandani oleh make up artist, Nadin pun melangkah ke arah pintu. Beberapa saat sebelum menyentuh kenopnya, dia teringat akan sesuatu. Semalam dia sempat melemparkan cincin pemberian Juna entah ke mana. Masalahnya, dia tidak ingin ambil resiko jika ada orang yang menyadari bahwa dia sudah tidak menggunakan benda itu lagi.


Jadi, dia kembali ke dekat kasur untuk mencari benda kecil itu, yang ternyata terselip di balik sofa. “Kamu nyusahin banget, tau gak?” ucapnya pelan ke arah cincinnya.


Di ruang make up, sebagian artis yang diundang untuk acara kali ini sudah tampak berkumpul. Nadin dan Juna bukan satu-satunya pasangan yang ada. Mereka semua akan tampil dalam sebuah acara talk show yang mengadakan semacam kuis untuk para pasangan selebritis.


Nadin terdiam di depan pintu, saat ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang. Saat tahu itu Juna, dia tak menggubris dan mulai melangkah.


“Selamat aku telepon kenapa gak angkat?”


“Tidur.”


“Tumben jam segitu udah tidur.”


“Mau apa sih emangnya?”


“Aku udah booking restoran buat ultah sama anniversary kita.”


Nadin mendengus kencang. “Anniversary apaan.”


“Seenggaknya, aku masih boleh ngerayain ulang tahun kamu, kan?”


“Boleh. Kalau emang kamu berniat nyakitin aku terus.”


Juna tidak membalas. Hanya sekedar mengusap kepala Nadin sebentar, lalu berjalan ke arah staf yang bertugas menangani makeup-nya.


Semua artis selesai berdandan dalam waktu sekitar satu jam. Mereka semua berkumpul di backstage untuk mendapatkan pengarahan. Lalu menunggu waktu untuk masuk ke dalam studio.


“Semua orang bakal bertanya-tanya kalau lihat kamu cemberut terus kayak gitu,” bisik Juna, dekat sekali di samping telinga Nadin. Membuat wanita tersebut agak tersentak kaget.


“Kamu suka cincinnya?” sambung Juna lagi, setelah perkataannya tak digubris.


“Terlepas dari siapa yang kasih. Aku suka. Sempat mau kubuang kalau saja gak ingat hari ini ada acara.”


“Benda itu sudah kusiapkan dari jauh-jauh hari. Aku pasti sedih kalau kamu gak mau terima.”


Pembicaraan pun terhenti, karena staf tv sudah meminta semua artis berkumpul. Nadin menghela napas panjang, dibanding semua orang, dia menjadi yang paling merasa tegang. Karena harus memastikan kalau aktingnya tidak gagal kali ini.


Acara kali ini masih merupakan edisi spesial valentine. Ada pasangan musisi, Indra-Jessica, dan pasangan dancer DJ, Ellyson-Dewi yang juga hadir. Tiga pasangan yang ada akan berlomba dalam kuis yang sudah disiapkan. Peraturannya mudah, hanya perlu menjawab pertanyaan dari pembawa acara. Setiap orang mendapatkan white board kecil dan spidol. Mereka harus menuliskan apa pun yang terlintas dalam pikiran, untuk nantinya dicocokkan dengan jawaban dari pasangan mereka. Tujuannya, untuk melihat seberapa kenal mereka satu sama lain.


“Baiklah, semuanya sudah siap ya buat pertanyaan pertama? Uhh… aku udah gak sabar nih!” ucap si pembawa acara pria. Dengan kaos v neck di balik jas pink-nya. Cara dia membawa acara sangat meriah, melebihi pembawa acara wanita sekali pun. “Tulis tempat ngedate favorite kalian! Waktunya tiga puluh detik, dimulai dari sekarang!”


“Bener-bener ya, pasangan favorite kita yang satu ini. Selalu punya hal yang bikin kita terkejut! Gak salah mereka jadi ikon dari couple goals kita semua,” komentar si pembawa acara.


‘Gimana reaksi mereka kalau tahu aku dan Juna putus ya?’ tanya Nadin dalam hati.


Acara pun terus berlanjut. Pertanyaan berakhir setelah melewati yang kelima belas. Kedua pasangan yang menjadi saingan Nadin-Juna, sempat menjawab salah. Namun mereka berdua sama sekali tidak mengalami kesulitan dan berhasil menjawab semua dengan tepat.


“Selamat buat Nadin dan Juna yang jadi pemenang ya! Beberapa hari ke belakang, kami sudah bikin survey nih soal siapa pasangan pemenang yang jadi prediksi dari para pemirsa. Dan kami sudah memilih salah satu pesan dari pemirsa yang memilih nama kalian. Aku bacain ya…”


“Dear Juna dan Nadin. Aku percaya di acara kali ini kalian pasti menang! Dalam acara apa pun, aku yakin kalian berdua akan tetap jadi pasangan favorit buatku. Dua tahun lalu, aku baru saja ngalamin patah hati yang luar biasa. Sejak saat itu, aku yakin kalau di dunia ini ada orang yang bisa kita percaya. Sekali pun itu orang yang terdekat dengan kita. Aku pun jadi sulit untuk bisa percaya sama orang lain. Tapi, setelah aku lihat soal kalian berdua, dan terus mengikuti kisah kalian selama ini, pikiranku jadi lebih terbuka. Aku yakin perasaan kalian berdua untuk satu sama lain benar-benar tulus. Bukan hanya sekedar untuk mencari sensasi dan ketenaran di tv. Semua orang yang melihat kalian pasti mengerti apa yang aku bilang. Kalian sudah bikin aku sadar kalau pemikiranku selama ini salah. Ternyata pasti ada orang yang bisa kita percaya, kalau saja kita bisa menemukan orang yang paling tepat untuk kita itu. Kalau suatu saat suratku ini terpilih untuk dibacakan, aku Cuma mau bilang kalau banyak sekali orang yang selalu mendoakan kalian bedua. Agar selalu bahagia dan bisa bersama selamanya.”


Surat yang seharusnya memberi rasa haru itu berubah menjadi serangan yang menyakitkan. Semakin banyaknya harapan yang dilontarkan orang-orang akan hubungannya dengan Juna, semakin berat beban yang dia rasa.


Nadin memang merasa bodoh harus menyiksa dirinya seperti ini. Tapi, dia tidak bisa bertindak dengan bodoh, apalagi setelah paham benar apa resiko yang bisa dia dapat.


“Terima kasih ya,” ucap Nadin ke arah kamera. Dengan matanya yang berkaca-kaca. Setidaknya keadaan membuat reaksi menyedihkan itu tersamarkan dengan baik.


***


Seusai syuting, dua pasangan artis lainnya berjalan ke arah hotel bersama Nadin dan Juna. Mereka mengobrol dengan asik, sembari terus menggoda Nadin yang mulai merasa risih. Untung saja lokasi kamarnya berada yang paling dekat, jadi dia bisa kabur dari keadaan itu secepatnya.


Nadin pun pamit untuk beristirahat lebih dulu. Langsung masuk ke dalam kamar, dan agak terkejut saat Juna justru mengekor padanya. Tentu dia ingin langsung mengusir lelaki itu, namun kata-katanya tertahan dalam tenggorokan, karena dua pasangan lain masih berada di depan kamarnya. Alhasil, dia mempersilahkan lelaki itu masuk.


“Tolong pergi kalau mereka sudah gak ada di luar,” ucap Nadin dengan dingin.


Juna hanya diam, dan berjalan menuju kasur untuk duduk di atasnya. “Ibumu cemas gara-gara seminggu lebih kamu gak berkunjung kayak biasanya.”


Mendengar hal itu, Nadin mendadak naik darah. “Aku gak menuntut apa pun darimu. Tapi, jangan pernah menemui ibu lagi!” ucapnya dengan tegas.


“Kenapa? Masalahnya ada antara kita berdua. Bukan antara aku dan ibumu.”


“Buat apa? Apa untungnya buatmu melakukan itu?!”


“Kamu pikir aku dekat dengan ibumu karena ingin menarik perhatianmu saja?”


Nadin terdiam. “Sudah dari lama aku menghormatinya seperti ibuku sendiri. Sewaktu almarhum ayahmu bekerja pada ayahku, ibumu sering datang ke rumah. Dia menyelamatkan aku yang kadang kesepian karena punya ibu yang juga sibuk. Jangan pikir melakukan semua hanya karena mengasihani ibumu.”


Setelahnya, Juna berjalan ke arah pintu keluar. Dia menyempatkan mengelus kepala Nadin saat melewati wanita yang terdiam membisu itu. Namun kemudian terhenti sebelum memutar kenopnya.


“Sebaiknya, kamu yang harus menjauh dari teman boyband-mu yang punya tampang preman itu. Sewaktu-waktu dia bisa saja merusak karirmu,” ucapnya. Lalu menghilang di balik pintu yang menutup rapat.


Nadin merasa kakinya lemas. Dia pun jatuh terduduk di atas lantai, dan mulai menangis.