Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Sembilan Belas



14 Februari 09:00


Nadin melangkah masuk ke dalam rumah sakit tempat ibunya berada. Hampir seminggu lebih dia belum berkunjung lagi ke sana. Padahal, dia selalu mampir sekali pun hanya sekedar untuk menyapa.


Sebenarnya, tak pernah sehari pun Nadin lupa kepada sang ibu. Dia pun ingin sekali berlari dan bercerita tentang semua hal yang terjadi. Tapi, dia lebih tidak ingin membuat sang ibu khawatir hingga kondisinya bertambah buruk karena harus memikirkannya.


Akan tetapi, karena masalah yang ada menyangkut soal Juna, Nadin berpikir—mau tidak mau—harus bercerita.


“Ibu sudah bangun?” tanya Nadin saat baru saja masuk ke dalam kamar. Dia melihat sang ibu tengah terbaring, sembari memandang ke arah luar jendela.


“Eh, Nadin. Tumben ke sini pagi-pagi. Kamu gak kerja, Nak?” Sambut sang ibu sembari memberikan senyum menenangkan.


Nadin berjalan cepat dan memeluk ibunya. Memejamkan mata saat menaruh kepadanya pada dada sang ibu. “Maaf ya, aku jadi jarang datang ke sini. Padahal aku kangen banget…”


Ibu Nadin pun mengelus kepala sang anak dengan penuh kasih sayang. “Yang penting kamu baik-baik saja. Itu sudah cukup. Padahal kamu kan sudah kasih ibu ponsel, kenapa ga telepon saja.”


“Tapi kan beda, bu…”


Nadin pun bangkit, lalu duduk pada kursi di samping kasur. “Ibu nonton konserku gak di tv?” tanyanya. Sembari memasang wajah ceria seperti biasanya.


“Pasti. Ibu selalu nonton kalau kamu ada di tv. Pasti capek ya turnya?”


“Bangett!! Tapi seru sih, Bu. Aku gak nyangka fans-ku sebanyak itu. Terus mereka bela-belain datang, bahkan ada yang lintas kota. Terus aku juga dikasih banyak banget hadiah,” jelas Nadin dengan semangat.


“Ibu ikut senang kalau kamu juga senang. Tapi jangan lupa jaga kondisi ya. Kamu baik-baik aja, kan?”


Entah kebetulan, atau memang feeling seorang ibu sangat kuat, Nadin merasa ibunya menyadari ada sesuatu yang aneh dari dirinya. Tapi, dia masih ragu untuk bercerita.


“Baik, Bu. Emang kenapa, kok nanya gitu?”


“Kemarin sewaktu Juna datang ke sini dia cerita.”


“Kak Juna? Cerita apa, Bu?” Nadin terkejut setengah mati. Apa mungkin Juna sudah membeberkan semuanya? Pikirnya.


“Dia bilang kalau kami belakangan ini lagi kelihatan kurang sehat. Kayak yang stress tapi pernah bilang ke siapa-siapa. Ibu jadi cemas.”


“Oh… Enggak kok, Bu. Sebenernya cuma efek kecapekan aja,” balas Nadin, sebelum memberi jeda beberapa saat. “Ngomong-ngomong, Kak Juna gak cerita apa-apa lagi, Bu?”


“Hm… enggak, tuh. Paling cuma nitip sesuatu sama ibu. Coba kamu ambil kantong di dalam laci situ.” Ibu Nadin menunjuk ke arah laci yang ada di bawah televisi.


Sebuah kotak besar dan kotak kecil ada di dalam sana. Lengkap dengan pita dan tulisan ‘Selamat ulang tahu’. Nadin hampir menangis karena dia bahkan lupa pada hari ulang tahunnya sendiri.


“Selamat ulang tahun ya, Nak.”


Nadin berhamburan ke arah sang ibu dan kembali memeluknya. “Makasih, Bu…”


Dengan cepat, Nadin membuka kotak besar terlebih dahulu. Di dalamnya terdapat sebuah sweater berwarna krem. Dengan gambar beberapa helai daun marple yang dia suka. Ibunya tahu kalau dari dulu Nadin selalu suka musim gugur. Dan dia tidak pernah melupakan musim gugur pertamanya di Jepang.


Mata Nadin berkaca-kaca melihat kadonya. Senyumannya tak henti tampak dari wajahnya. Namun, semua itu perlahan menghilang saat sang ibu bilang kotak kecil adalah hadiah dari Juna yang sengaja dititipkan. Mungkin Juna tahu Nadin tidak akan menerima hadiahnya jika diberikan langsung.


Saat membuka kotak kecil tersebut, Nadin menemukan sebuah cincin bermata cantik ada di sana. Lengkap dengan namanya yang terukir di bagian dalam cincin. Di balik tutup kotak, tertulis sesuatu.


Rasanya Nadin ingin tertawa. Karena kata-kata itu seakan mencemoohnya. Juna menuliskan ‘first love’, karena memang Nadin merupakan cinta pertamanya, namun bukan yang terakhir baginya.


“Wah… cantik banget,” komentar ibu Nadin. “Jangan sampai gak dipakai ya. Kamu pasti ketemu Juna kan, habis ini?”


“I-iya, Bu. Kami ada syuting buat acara tv.”


“Kalau bisa hari ini jangan terlalu sibuk. Nikmatin hari ulang tahun kamu yang cuma datang setahun sekali ini,” ucap sang ibu sembari memegang tangan Nadin.


Nadin hanya membalas dengan senyuman. Memperlihatkan bahwa semua akan terjadi sesuai dengan perkataan sang ibu. Padahal, sedikitnya dia mulai merasa resah. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Dia bahkan khawatir kalau syuting kali ini pun akan terjadi seburuk sebelumnya.


***


Nadin sampai dua jam sebelum syutingnya dimulai. Kebetulan Tyo harus mengurusi sesuatu yang mendadak, sehingga dia hanya pergi berdua dengan sopir. Keberadaan Juna pun belum terlihat di gedung stasiun televisi yang tinggi itu. namun, hal itu justru membuat nadin merasa tenang—setidaknya untuk sesaat.


Tak lama, seseorang yang lain justru muncul. Seakan sengaja mengakhiri ketenangan Nadin lebih cepat.


Mala dengan tatapan sinisnya seperti biasa menghalangi langkah Nadin. Bahkan entah kenapa wanita tersebut ada di sana.


Biasanya, Nadin selalu ramah kepada siapa saja. Apalagi dia sempat merasa bersalah pada Mala yang menjadi korban tabrakannya. Tapi, setelah semua yang terjadi, tentu Nadin sudah tidak berharap untuk bertemu wanita itu lagi.


Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Tidak ada yang ingin berbicara lebih dulu. Dan saling menunjukkan bahwa mereka tidak bisa diintimidasi dengan mudah.


“Kamu keras kepada juga ya.” Bibir merah menyala Mala mulai bergerak. “Bukannya kalian berdua sudah putus?”


“Terus kenapa?”


“Terus kenapa? Harusnya aku yang tanya kayak gitu. Kenapa kalian masih lanjut melakukan semua ini?”


“Kenapa gak tanya aja sama Kak Juna?”


Mala mendengus. Tampak makin kesal dengan Nadin yang masih berdiri, tanpa terlihat terusik sedikit pun.


“Denger ya!” sambungnya. “Aku tahu kamu sadar kalau aku belum bisa bergerak sesuka hati. Aku belum bisa mempublikasikan hubunganku dengan Juna. Aku masih harus terus bersembunyi. Tapi, semua itu pasti akan ada ujungnya. Siap-siap saja. Satu hal yang penting, hati Juna, sudah jadi milikku sekarang!”


Nadin mengepal tangannya keras. Ingin sekali menonjok wanita di hadapannya itu. Lagi-lagi, keadaan membuatnya tidak bisa melakukan itu.


Setelah Mala beberapa kali melangkah, Nadin berkata, “aku ragu kalau kau melakukan semua ini karena Juna.”


Si model wanita itu membalikkan badan, melihat ke arah Nadin yang membelakanginya. Memandang dengan tatapan penuh tanya.


“Aku tahu sekarang. Ini bukan pertemuan pertama kita. Sejak beberapa tahu lalu, kita sering bertemu. Aku tahu kamu berkali-kali jadi lawanku dalam banyak ajang pencarian bakat. Dan selama itu pun selalu aku yang lebih unggul. Apa kamu merasa kesal karena semua itu?”


Mala hanya bergeming. Nadin pun membalikkan badan. Keduanya kembali bertatapan dengan tajam.


“Kalau ternyata kau mendekati Juna atas dasar semua itu… Sama sekali gak akan aku maafkan.”


Kali ini, Nadin yang lebih dulu pergi meninggalkan Mala. Ya, berhari-hari selama hidup di tengah kegalauan yang mendera, Nadin tidak hanya diam. Dia bahkan mencari tahu siapa lawan yang tengah dia hadapi saat ini. Berusaha memahami, apa kesalahannya, dan apa maksud di balik keadaan yang menyerang tanpa peringatan kepadanya. Semua hal tentu punya alasan, dan Nadin masih belum tenang setelah mengetahui soal itu.


Lantas, apa dia belum menyerah soal Juna? Tentu tidak. Nadin sudah banyak belajar, bahwa kadang dalam hidup ini, ada kalanya dia harus terus memperjuangkan sesuatu, dan ada pula kalanya kapan dia harus berhenti dan melepaskan. Dan Juna, bukan sesuatu yang dia rasa perlu untuk dipertahankan. Meski di satu sisi, hatinya masih terus menyangkal logikanya itu.