Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S2 - Episode Sebelas



Sekitar pukul delapan, Nadin terburu-buru datang ke kantor polisi. Sejak tadi Stefan berkali-kali meneleponnya, namun tidak dia angkat karena masih berada di tempat Frans.


Di depan kantor polisi, Nadin melihat keberadaan Stefan dan Axel di sana. bersama seorang lelaki lain yang tampaknya seorang pengacara, dan beberapa polisi yang baru saja kembali masuk ke dalam markas mereka.


Nadin langsung berlari dan menyerbu ke arah Axel dengan mata berkaca-kaca. Lalu melompat dan memeluk lelaki tersebut.


“Hei… tenang, aku baik-baik aja, kok,” ucap Axel. Dia tahu Nadin sangat mengkhawatirkannya.


“Kamu gak perlu dipenjara, kan?”


“Enggak. Semuanya cuma salah paham. Tadi ada polisi lain yang membantuku. Dia bilang orang itu berbohong soal untuk menjatuhkan namaku.”


“Syukurlah… Aku bingung, sampai gak tahu harus gimana…”


“Sekarang kamu gak perlu khawatir.”


Nadin pun menoleh ke arah Stefan. “Makasih ya, Kak. Maaf udah ngerepotin.”


“Gak masalah. Kamu boleh telepon aku kapan pun kalau ada apa-apa. Tapi, ini aneh…” Stefan mendadak terdiam. Lalu kemudian tersenyum. “Sudahlah. Sudah malam. Sebaiknya kalian pulang dan istirahat.”


“Thanks ya,” ucap Axel.


Akhirnya, Nadin sudah bisa bernapas lega. Apa yang baru saja terjadi rasanya seperti mimpi. Muncul tiba-tiba, dan hilang secepat kilat. Meski dia sendiri tahu, setelah ini aka nada masalah lain yang menantinya. Setidaknya, dia ingin memastikan posisi Axel aman.


Frans tahu benar cara membuat Nadin tidak berkutik di hadapannya. Sejak awal dia tahu bahwa wanita tersebut tidak memiliki pilihan untuk menolak. Hanya dalam waktu sekejap, Nadin pun menyanggupi permintaan Frans, meski dengan sangat terpaksa.


Hanya saja, ada satu hal yang masih belum bisa Nadin lakukan. Hal pertama yang Frans ingin Nadin lakukan adalah meninggalkan Axel. Bahkan dia ingin agar Nadin tidak perlu menemui Axel kembali setelah pulang dari kantornya. Namun, tentu saja hal itu sangat mustahil dilakukan. Nadin tidak peduli apa yang akan Frans perbuat


padanya, dan tetap menemui Axel di kantor polisi.


“Wah… Kenapa rasanya hari ini kayak mimpi ya,” ucap Axel, sembari menyetir. “Bisa-bisanya ada orang yang mau memfitnahku. Dunia bisnis memang keras.”


“Tapi, gak akan terjadi apa-apa, kan sama restoranmu?”


“Seharusnya enggak. Tadi mereka bilang akan meminta media memuat beritanya. Supaya semua orang gak salah paham. Tapi ada kemungkinan orang-orang bakal parno buat datang, sih. Kalau sampai gak ada lagi yang mau datang ke restoran, gimana ya… Apa aku ahrus gabung sama Hybrid lagi?” jelas Axel sembari tertawa. Dia bermaksud bercanda, namun tidak mendapatkan respons baik dari Nadin.


“Jangan bilang gitu, dong…”


Axel pun menepuk pelan kepala Nadin dengan tangan kirinya. “Gak usah khawatir. Gak akan ada yang bisa menghancurkan bisnisku.”


Sesampainya di rumah, Nadin langsung merebahkan diri di atas kasur. Kepalanya terasa mulai pusing. Sepanjang perjalanan pulang, bahkan dia tidak mendengarkan apa yang Axel bicarakan. Hanya sibuk memikirkan cara, bagaimana caranya melepaskan diri dari Frans. Apakah dia harus selamanya terjebak dengan orang itu?


Sesaat, Nadin merasa sedang berada di posisi Juna dulu. Terjebak di tengah kondisi yang memaksanya harus menjauh dari seseorang yang dia sayang. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi demi kebaikan orang tersebut. Rasanya, sangat sulit dan menyiksa.


Baru membayangkannya saja, Nadin sudah mau menangis. Dia tidak bisa memikirkan bagaimana kehidupan saat harus menjauh dari Axel, dan selamanya bersama dengan lelaki menyeramkan seperti Frans.


“Apa Kak Juna gak mau ngejemput aku dari sini?” gumamnya pelan.


***


Pagi-pagi sekali, Axel sudah mampir ke rumah Nadin dan membawanya pergi. Dia bermaksud mengganti liburan yang sempat terjeda kemarin. Namun karena Nadin sedang malas pergi terlalu jauh, jadi mereka hanya berjalan-jalan di seputar tempat perbelanjaan, nonton ke biokop, dan menghabiskan waktu di dalam kafe—seperti yang sering mereka lakukan.


“Single barumu kapan rilis?”


“Harusnya sih minggu depan, tapi aku belum dapat info tanggalnya.”


“By the way, kamu gak mau ngadain konser gitu?”


“Enggak,” balas Nadin dengan cepat. “Aku gak mau ada yang tahu kalau itu aku.”


Nadin masih saja menolak untuk mengungkap identitasnya kepada publik. Padahal, sedikitnya ada orang-orang yang sadar kalau suara penyanyi pendatang baru tersebut mirip sekali dengan suara Nadin. Beberapa sudah mulai berteori di internet, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban.


Dari pihak produser sudah sempat menawari Nadin untuk menerima permintaan beberapa pihak. Mereka ingin sekali sang penyanyi asli bisa tampil secara langsung dalam acara mereka. Tapi, Nadin berkali-kali menolak. Tidak ada satu pun hal yang berhasil menggoyahkan pilihannya.


“Jelas, itu yang aku takut. Kamu pasti repot kalau nanti udah gak bisa ketemu sama aku lagi.”


“Ah, iya juga ya. Pasti banyak yang cari perhatian ke kamu juga,” balas Axel. Keduanya pun tertawa.


Di tengah pembicaraan yang seru, Nadin menangkap perubahan pada ekspresi Axel. Lelaki tersebut kehilangan senyumnya, dan memandang dengan serius ke satu titik di belakangnya.


“Seru sekali ngobrolnya,” ucap sebuah suara yang membuat Nadin seram. Tanpa melihat pun, dia tahu siapa yang baru sampai di belakangnya.


“Yah… memang seru, setidaknya sebelum kamu datang,” balas Axel.


“Oh, maaf kalau begitu. Aku ada perlu dengan Nadin.”


“Huh, mau apa lagi?”


“Padahal sudah kuperingatkan supaya dia tidak menemuimu lagi.”


Nadin masih tidak berani menatap balik Frans yang berdiri di sisinya.


“Ayo pergi,” ucap Frans, sembari menarik paksa lengan Nadin.


Melihat itu, membaut Axel spontan berdiri. “Hei! Apa-apaan kau?!” bentaknya. “Punya hak apa kau memperlakukan dia seperti itu?”


“Hak? Tentu saja aku punya, sebagai pacarnya Nadin.”


“Hah? Hentikan bualanmu itu!”


Hampir saja Axel menghajar Frans dan membuat keributan. Saat ini saja semua orang sudah mulai memandang ke arah mereka.


“Xel, Axel, tolong berhenti…” pinta Nadin dengan nada rendah. Dia tidak ingin Axel melakukan sesuatu yang membuat Frans marah hingga melakukan sesuatu yang lebih gila dari kemarin. “Maaf, Xel…”


Lelaki berambut cokelat itu tampak bingung melihat reaksi Nadin yang seakan membenarkan perkataan Frans.


“Apa maksudnya ini?”


“Maaf, Xel… Aku gak berani bilang ke kamu. Maaf tiba-tiba, tapi aku harus pergi.”


“Kamu bicara apa, sih?”


“Bye, Xel…” ucap Nadin. Dia langsung pergi tanpa menjelaskan apa pun. Terburu-buru karena tidak ingin menangis di hadapan Axel.


“Apa yang kau lakukan, hah?!” tanya Axel pada Frans yang justru tertawa menyepelekan.


“Urus saja bisnismu dengan tenang. Tidak perlu mengurusi Nadin lagi,” balas Frans, lalu pergi dari hadapan Axel yang terdiam dengan penuh kekesalan.


***


“Astaga, ada apa lagi ini?”


Stefan yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, harus dikejutkan oleh kedatangan Axel yang tiba-tiba. Kepalanya pusing karena ponselnya terus berdering. Saat diangkat, Axel berkata kalau dia sudah ada di depan pintu apartemennya.


Setelah masuk ke dalam ruangan, Axel langsung menceritakan semua yang terjadi tanpa jeda. Membuat Stefan tidak habis pikir karena dua hari ini ada hal-hal mengejutkan yang mendadak terjadi.


“Minumlah dulu. Tenangkan pikiranmu,” ucap Stefan sembari menaruh segelas air putih di atas meja. Axel terduduk lemas dengan wajah memerah—karena emosi—di atas sofa.


“Kalian ini benar-benar ya… paling bisa bikin aku terkejut. Nadin gak pernah bercerita soal orang itu?”


Axel menggeleng. “Sepanjang di Amerika, dia cerita soal teman-temannya, tapi gak pernah sekali pun menyebut nama Frans. Entah apa yang sebenarnya terjadi di sana.”


“Sudah pasti ada sesuatu. Tapi Nadin memilih untuk menyembunyikannya.” Stefan menghela napas dalam-dalam. “Beri aku waktu. Akan aku coba cari tahu soal orang itu.”