Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
Episode Lima Belas



Juna memacu mobilnya dengan kencang di bawah hujan lebat. Padahal sudah dua jam berlalu sejak selesai syuting, namun hujan belum tampak akan mereda.


Pikirannya agak melayang tak karuan. Kemacetan ibu kota memperburuk harinya yang dipenuhi kejutan—yang beruntungnya masih bisa dia tangani.


Dari kejauhan, Juna bisa menangkap adanya deretan mobil yang terjebak kemacetan. Membuatnya semakin kesal karena tidak bisa merebahkan diri secepatnya di atas kasur.


Akhirnya, dia memilih untuk berbalik arah dan mengambil jalur alternatif. Di mana jarak yang harus ditempuh menjadi semakin jauh. Tapi dia tidak peduli, selama tidak ada kemacetan yang harus dia hadapi.


Hanya saja, Juna tidak sadar kalau sejak tadi ada seseorang yang membuntuti mobilnya. Sosok tersebut merasa beruntung karena orang yang dia buru justru berbelok ke tempat yang lebih sepi.


Mobil Juna melintasi daerah di tepian sungai. Di mana deretan sebelah kiri dipenuhi oleh alat-alat berat yang sedang ditinggalkan pemiliknya untuk beristirahat. Daerah tersebut sedang dalam tahap pembangunan—yang belum juga rampung sejak dua tahun yang lalu.


Si penguntit menginjak gasnya dalam-dalam, melewati mobil Juna, dan mendadak berhenti. Membuat Juna terkejut setengah mati, dan spontan membelokkan mobilnya ke arah kiri. Ke tempat yang dipenuhi dengan tanah merah dan batu kerikil. Mobilnya pun terhenti.


Mobil yang mendadak berhenti tadi pun kembali melaju, mendekat ke arah mobil Juna terdiam. Seorang lelaki dengan celana jeans berlubang, dan hoodie jaket kulit menutupi kepalanya—melangkah keluar


dari dalam mobil.


Juna bisa langsung tahu siapa sosok orang tersebut. Dan melangkah keluar dengan kesal. Tidak peduli bajunya akan langsung basah kuyup, dan berubah menjadi kecokelatan karena tanah yang becek.


“Ternyata begini akibatnya kalau orang tidak berotak dibiarkan menyetir,” ucap Juna. Dengan nada dingin yang menyebalkan.


“Jauh lebih baik dibanding orang yang gak punya hati,” balas Axel.


Juna sedikit tertawa. “Kau cukup lembut juga, untuk ukuran seorang preman.” Bibirnya sedikit tersenyum meremehkan. Dia berdiri dengan wajah yang sedikit terangkat, berusaha menunjukkan bahwa dirinya jauh lebih baik.


Axel terus memberikan tatapan penuh kekesalan. Tentu dia datang bukan untuk mengobrol. Dia tidak sabar ingin menghabisi sosok yang berdiri di hadapannya.


Tanpa menunggu apa pun lagi, Axel menerjang hujan untuk memberikan serangan. Dia mengayunkan tinju menggunakan tangan kanan, lalu tangan kiri, yang masih bisa dihindari oleh sang musuh. Justru Juna berbalik menyerang dengan tendangan kakinya, setelah menghindari pukulan tersebut.


Tak berhenti dari sana. Axel kembali memasang ancang-ancang. Kali ini mencoba menyerang dengan tendangan, yang lagi-lagi dihindari dengan mudah. Bahkan Juna membuatnya jatuh tersungkur oleh tendangan di punggung.


Wajah Axel terjatuh di atas kubangan, hingga membuatnya sedikit tersedak oleh air di dalam sana. Dia pun terbatuk-batuk.


Saat itu, hampir saja Juna menginjak dadanya, kalau dia tidak relfeks membalikkan badan. berguling di atas tanah untuk menghindar, sebelum akhirnya bangkit.


Axel kembali berlari mendekat. Memeluk pinggang Juna dengan kedua tangan sembari berusaha mendorong untuk menjatuhkan lelaki tersebut. Namun pertahanan Juna terlalu kuat. Dia sama sekali tidak terjatuh, dan justru menghantamkan kedua sikutnya ke arah punggung Axel. Lalu, menendang wajah lelaki berambut cokelat itu dengan lutut kirinya. Dan menghabisi dengan sebuah tendangan lagi di bagian perut.


“Sudah kubilang, jangan campuri urusan orang lain,” ucap Juna dengan nada mengancam. “Kalau sampai aku tidak bisa mengendalikan diri. Kau bukan hanya akan kehilangan karir. Tapi nyawamu juga.”


Juna tidak hanya melepas cengkeramnya, juga mendorong tubuh Axel keras ke arah tanah. Lalu berdiri sembari memberikan tatapan menusuk. “Lagipula, siapa kau. Tiba-tiba muncul. Berlagak jadi seorang pahlawan. Yang bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri,” ucapnya, sebelum pergi ke arah mobil, dan menghilang di tengah hujan.


Axel masih terbaring dia tas tanah berlumpur. Seluruh tubuhnya terasa berdenyut dan ngilu. Dengan sebelah tangan, dia menghalangi hujan yang berusaha masuk ke dalam matanya.


“Sial. Aku lupa kalau dia atlet bela diri…” ucapnya, sembari tersenyum dengan miris. Menertawakan dirinya sendiri yang tampak memalukan.


Beberapa saat setelahnya, kata-kata terakhir Juna kembali muncul. Entah kenapa hal itu membuatnya jauh lebih terganggu dibandingkan dengan rasa sakit akibat serangan yang dia terima.


Semua orang pasti berpikir, untuk apa dia berjuang seperti itu hanya demi seorang wanita, yang bahwa tidak menganggapnya lebih dari sekedar rekan kerja. Nadin tidak pernah terlihat berusaha untuk memperdalam hubungannya dengan Axel. Karena tidak pun tidak tahu apa yang membuatnya harus mengenal lelaki itu lebih jauh.


Akan tetapi, tidak begitu dengan Axel. Nindi tidak sadar kalau kehadirannya telah memberikan kesan mendalam pada lelaki tersebut—sejak pertama kali mereka bertemu.


Semua itu terjadi tiga tahun lalu, saat Axel baru saja bergabung dengan manajemen Athena. Dan masih belum menjadi dia yang sekarang.


Axel yang dulu lebih pendiam, tenang, tanpa ada kesan ‘nakal’ sama sekali. Benar-benar tipe laki-laki baik yang akan membuat semua orang memujinya. Tapi bagi pihak manajemen, pembawaannya yang seperti itu dianggap terlalu biasa saja. Axel tidak memiliki aura yang membuatnya mudah dilirik oleh orang lain.


Padahal keahlian Axel dalam bermain alat musik, menyanyi, tidak diragukan lagi. Bahkan dia sempat menciptakan beberapa single—yang menjadi alasan awal kenapa manajemen hendak merekrutnya.


Tapi semua itu belum cukup. Axel dituntut lebih hingga akhirnya dia diperintahkan untuk menciptakan sebuah karakter—yang sebenarnya tidak nyata. Ternyata semua itu sukses, terlepas dengan segala kontroversi yang ditimbulkan.


Semakin lama, Axel semakin terbuai dengan perhatian yang dia dapatkan berkat ‘diri’-nya yang lain. Baginya saat itu, sama sekali tidak ada orang yang bisa ditaklukkan. Pihak manajemen memuji karena dia mendatangkan profit yang tinggi, dan para penggemar memuja karena keunikan dari karakternya.


Namun, Axel merasa kesal karena dari semua wanita yang dia temui, ada satu yang bahkan tidak tertarik sama sekali untuk meliriknya. Dia selalu bangga akan kehebatannya untuk merayu wanita—mana pun, tapi dia justru mendapat tatapan jijik dari Nadin, yang mana telah melukai kepercayaan dirinya.


Sejak saat itu, Axel tidak berhenti mencuri perhatian Nadin. Dari mulai memuji, mengganggu, berbagai cara dia lakukan, dengan harapan dapat meluluhkan perasaan Nadin. Tapi semua sia-sia saja.


Suatu hari, Nadin yang sudah berada di puncak kekesalannya, marah besar kepada Axel.


“Gak usah sok berlagak jadi badboy, deh! Mau sampai kapan kamu ngebohongin orang-orang? Gak bosan terus-terusan jadi boneka perusahaan kayak gitu? Coba ngaca! Siapa yang sebenarnya terpedaya selama ini. Orang-orang itu, atau justru kamu! Apa bangganya hidup di balik topeng kayak gitu.”


Dan, akta-kata itu pun membuat Axel berhenti mengganggu Nadin untuk beberapa saat. Namun sejak itu juga dia tidak bisa berhenti memikirkan wanita tersebut. Bukan karena merasa harus bisa menaklukkan, namun karena baru pertama kalinya dia menemukan wanita seperti Nadin. Dan Axel sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan orang seperti itu. meski tahu Nadin sudah memiliki kekasih, setidaknya dia ingin selalu menjaga agar senyumannya tidak pernah berganti dengan kesedihan. Seperti apa yang terjadi beberapa hari ini.


“Maaf, Nadin… Ternyata aku belum cukup kuat…”