
“Lain kali kamu hati-hati. Kita ini tampil berkelompok, kalau satu hilang, pertunjukan tidak bisa jalan. Aku tau kamu sibuk, tapi tolong jangan ceroboh seperti hari ini. Untung saja penampilanmu bisa membuatku tidak marah lagi.”
“Iya, maaf, Pak…” hanya itu yang bisa Nadin ucapkan saat mendengarkan omelan dari sang pelatih. Karena dia baru sampai di menit-menit terakhir sebelum pertunjukan mulai, pelatihnya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk
melampiaskan amarahnya. Setelah pertunjukan usai, barulah dia mendapatkan ceramah panjang.
Setidaknya Nadin merasa lega karena apa yang terjadi hari ini tidak menurunkan performanya. Karena sebagian bangku penonton dipenuhi oleh orang-orang penting dari pemerintahan. Dia bisa membuat timnya malu hanya karena lupa membawa biola. Rasanya seperti tentara yang lupa membawa pistolnya.
Untuk beberapa saat, Nadin melupakan soal lelaki yang sempat dia tabrak. Hingga dia tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan orang tersebut.
“Nadin Carmelia,” panggilnya. Saat melihat Nadin berjalan dengan lesu di hadapannya. Sepertinya orang itu sengaja datang untuk menunggu Nadin.
“Eh, eng, ah! I-iya!” Nadin mulai panik setelah mengingat akan dosanya tadi.
“Kamu mau kabur lagi?” tanya Frans, dalam bahasa Indonesia.
“Eh? Ti-tidak. Maaf. Saya hampir lupa…”
“Kamu tidak bermaksud membuang benda ini, kan?” Frans mengacungkan passport, yang hampir saja Nadin lupakan.
Rasa lelah membuat Nadin merasa tidak berdaya. Bahkan untuk merespons saja rasanya dia sudah tidak sanggup. Kepalanya pun mulai terasa berdenyut. Alhasil, dia hanya bisa berjongkok sembari mengusap wajah dengan kedua tangan. Wajahnya tampak memerah, seakan hendak menangis.
Melihat itu membuat Frans terdiam sejenak. “Tidak usah tertekan segitunya. Aku tidak sedang mengancam.”
Tanpa Nadin sadari, Frans mendadak menarik lengannya, membuatnya berdiri. “Ikut aku!” perintahnya.
“Ke-ke mana?”
“Tidak usah banyak tanya.”
Nadin hanya bisa pasrah. Dia sadar sudah melakukan banyak kesalahan hari ini yang merugikan banyak orang. Bahkan dia tidak memiliki keinginan melawan saat Frans membawanya entah ke mana.
Mereka berdua sama sekali tidak berbicara selama di dalam mobil. Hingga sampai di depan sebuah restoran India. Frans membukakan pintu mobil untuk Nadin dan membawanya masuk. Lalu memilih meja, dan memesankan makanan. Semua itu terjadi dengan sangat cepat.
“Mukamu pucat sekali. Aku jadi tidak bisa mengajakmu bicara kalau begini. Makanlah dulu!”
Rasanya Nadin ingin menangis. Tidak menyangka orang yang dia repotkan justru mentraktirnya makan. Menyelamatkan perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi karena tidak sempat sarapan. Frans pun tidak menginterupsi selama Nadin melahap makanannya.
“Sudah kenyang?”
Nadin mengangguk pelan. “Terima kasih ya. Padahal saya sudah merepotkan. Tapi justru mendapatkan perlakuan seperti ini. Saya mohon maaf…”
Frans menghembuskan napas. Tangannya merogoh ke arah kantong jas, dan mengeluarkan passport Nadin yang dia taruh ke atas meja. “Sebelumnya, santai saja. Kita sama-sama orang Indonesia, dan umur kita tidak terlalu beda jauh,” ucapnya. “Maaf tadi aku membentakmu seperti itu. Kamu gak kesinggung, kan?”
“Enggak. Sama sekali enggak. Aku justru merasa bersalah. Lalu, dokumennya gimana? Apa ada yang bisa aku lakukan buat memperbaikinya?”
“Gak ada. Lagipula semuanya sudah gagal.”
“Gara-gara aku?” Nadin tampak lebih murung dari sebelumnya. Kepalanya semakin tertunduk lesu.
“Yah… salah satunya.”
“Apa yang bisa aku lakukan buat ganti rugi?”
“Kamu mau bayar? Lima ratus juta dollar?”
“Li-lima ratus juta? Dollar?” Nadin menatap ke arah Frans dengan wajah terkejut. Bercampur dengan ekspresi yang menyatakan kalau dia mustahil melakukannya.
“Aku tahu kamu gak mungkin bayar sebanyak itu.”
“Iya… Apa ada hal lain yang bisa aku lakukan?”
Frans bersandar pada punggung kursi dan melipat kedua lengan di depan dada. Lalu tampak berpikir, sembari menatap Nadin lengkap.
“Akan aku lakukan!” sahut Nadin. Padahal dia sama sekali belum mendengar penjelasannya.
“Aku butuh seseorang yang bisa menggagalkan perjodohanku.”
“Menggagalkan perjodohan?”
“Iya. Orang tuaku bermaksud mencarikanku seseorang untuk dijodohkan denganku. Karena aku belum juga menemukan seseorang yang ingin aku nikahi.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Berpura-pura menjadi pacarku. Dengan begitu orang tuaku tidak akan memaksaku lagi.”
Nadin mengerti benar maksud Frans. Lelaki itu hanya memintanya untuk berpura-pura. Lagipula, akting bukan jadi sesuatu yang sulit bagi Nadin. Tapi, tetap saja ada yang dia khawatirkan jika menyangkut soal hubungan.
“Tapi… sampai kapan?”
“Hanya sampai kamu pulang. Setengah tahun lagi, kan? Setelah itu, aku akan bilang kita putus.” Frans mengambil segelas wine di atas meja, dan meneguknya. “Aku tidak akan memaksa, kalau memang kamu lebih memilih untuk ganti rugi dengan uang.”
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Nadin terus berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati. Memikirkan semua kemungkinan terburuk apabila dia menyanggupi hal itu.
“Oke. Akan aku lakukan,” jawabnya. Membuat Frans sedikit tersenyum kecil. “Tapi aku lumayan sibuk, jadi gak bisa janji akan sering bertemu dan pergi denganmu.”
“No problem. Aku hanya akan memanggilmu di saat-saat penting saja. Kau tinggal bilang kalau saat itu sedang sibuk. Tapi, akan ada kalanya aku benar-benar butuh kamu untuk datang.”
“Baiklah.”
Tiba-tiba, Frans mengulurkan tangannya, bermaksud untuk mengajak bersalaman. Nadin pun menyalaminya, sebagai pertanda dari kesepakatan mereka.
Rencana yang dilakukan Frans dan Nadin pun berhasil. Orang tua Frans percaya dan sudah tidak lagi berniat untuk menjodohkan sang anak, karena merasa senang dengan kehadiran Nadin.
Beberapa kali Nadin diajak serta saat keluarga Frans menghadiri berbagai acara. Bahkan turut menemani Frans saat harus bertemu dengan beberapa orang penting yang akan menjadi mitra kerjanya.
Pada dua bulan pertama, Nadin masih tetap menjaga jarak dengan Frans, dan menganggap lelaki tersebut hanya sebatas rekan kerja. Tapi perlahan, dia merasa kalau Frans ternyata memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan benar-benar seperti seorang lelaki kepada pacarnya.
Hal itu membuat Nadin menghargai Frans dan mulai membuka diri. Keduanya pun perlahan semakin sering mengobrol layaknya teman. Dan sekedar menghabiskan waktu luang bersama karena merasa menemukan teman yang cocok.
Tanpa sadar Nadin pun akhirnya sedikit bercerita tentang alasan dia pergi ke Amerika setelah kematian Juna. Karena Nadin berkata dia sedang ingin memulai hidup baru dan tidak ingin terus terjebak dalam kesedihan masa lalu, Frans pun memilih untuk tidak terlalu mencari tahu soal itu.
Hubungan keduanya pun terus membaik hingga akhirnya tibalah saat bagi Nadin untuk pulang ke Indonesia. Saat itu Frans mengantarnya ke bandara, sekaligus untuk menyudahi perjanjian mereka.
“Kayaknya lima bulan gak kerasa.”
“Lima bulan? Aku pikir kita baru ketemu kemarin,” balas Frans.
Nadin pun tertawa.
“Makasih ya. Harusnya aku yang banyak membantumu untuk ganti rugi. Tapi, kenapa aku rasa justru kamu yang banyak membantuku.”
“Oya? Apa itu berarti kamu masih punya utang padaku?”
“Ofcourse not! Lagipula misiku sudah berhasil, kan? Meski setelah ini mungkin kamu harus cari bantuan dari orang lain.”
Nadin pun mengulurkan tangannya, sembari memberikan senyuman perpisahan. “Terima kasih, sudah jadi temanku di sini,” ucapnya.
Untuk beberapa saat, Frans dengan wajah datarnya memandang Nadin. Dia pun membalas uluran tangan Nadin, menyalami wanita tersebut. Namun setelahnya, dia justru menarik tangan Nadin hingga membuat wanita tersebut jatuh ke dalam pelukannya. Setelahnya, dia mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Nadin.
Nadin langsung merespons dengan mendorong tubuh Frans. Dia memberikan tatapan penuh ketidakpercayaan. Padahal selama ini dia terang-terangan memperlakukan Frans sebagai teman. Tanpa berharap lelaki tersebut memiliki perasaan lebih padanya.
Tanpa berkata apa pun lagi, Nadin lekas menyeret kopernya dan pergi dari hadapan Frans. Lelaki itu hanya berdiri terdiam, memandang keberadaan Nadin yang perlahan menjauh.
“Cepat atau lambat, kita akan bertemu lagi, Nadin.”