Just A Professional Relationship

Just A Professional Relationship
S1 - Dua Puluh Dua [END]



Ibu, ayah, Kak Juna, kalian pasti melihatku terus kan dari atas sana? Aku yakin ada kalanya kalian khawatir melihatku yang terkadang seakan mendekatkan diri dengan bahaya. Setiap langkah apa pun yang kulakukan, rasanya aku mendengar suara kalian yang selalu berusaha menyelamatkanku. Tapi pada akhirnya, lagi-lagi aku


melangkah masuk ke dalam lubang dengan kesadaran penuh.


Aku merasakan sekali, perbedaan hidup saat kalian masih ada di sisiku dan tidak. Membuatku sadar kalau selama ini sudah terlanjur tergantung dan bersembunyi di balik perlindungan yang kalian berikan. Tidak pernah sekali pun aku merasa takut dan kesulitan, karena kalian berdiri di hadapanku seperti tameng—yang menerima rasa sakit menggantikanku. Kalau dipikir lagi, aku benar-benar egois ya.


Tapi, kini aku sudah belajar. Aku memilih untuk menerima rasa sakit pun bukan karena aku egois, melainkan karena aku pun ingin belajar caranya melindungi seseorang. Ternyata, kini aku sudah bisa mengerti kenapa kalian pun melakukan itu untukku. Rasa sakit bisa hilang seketika setelah kita yakin bahwa orang yang kita lindungi baik-baik saja.


Ayah, ibu dan Kak Juna, pasti berpikir seperti itu juga, kan?


Namun kalian tidak perlu khawatir. Semua cerita memilukan ini seharusnya sudah berakhir. Sebulan lalu setelah Frans menerima hukumannya secara pantas, kadang aku masih dibuat takut oleh bayangan yang dia tinggalkan. Ada kalanya aku khawatir kalau dia akan tiba-tiba muncul dan membalaskan dendamnya padaku, pada semua orang yang ada di sekelilingku.


Satu bulan bukan waktu yang singkat untukku berperang melawan ketakutan. Tiap harinya sangat menyiksa. Tapi, aku bersyukur saat tahu ada orang yang masih selalu sabar membantuku sembuh dari semua itu.


Seperti yang ibu dan Kak Juna harapkan, Axel masih tetap ada di sampingku hingga detik ini. Dia yang tidak pernah sedikit pun memancarkan rasa bosan dan lelah, meski aku selalu menyeretkan ke tengah masalah.


Sekarang, tiap kali aku memejamkan mata, bukan lagi hal menyeramkan yang muncul dalam pikiran, melainkan wajah Axel yang selalu memperlihatkan tawa dan senyum jahilnya. Kadang membuatku ingin menangis, karena sepertinya Tuhan menjagaku dengan menurunkan salah satu malaikatnya yang berwujud manusia.


Ayah, ibu, Kak Juna, kalian sudah bisa tenang sekarang…


“Kamu nulis apa?”


Kemunculan Axel yang tiba-tiba membuatku sangat terkejut. Sebenarnya tidak tiba-tiba juga sih, mengingat kami berdua sedang menghabiskan waktu bersama di tepi pantai. Tapi Axel sedang pergi untuk membelikan makanan, memberiku waktu untuk mencurahkan perasaan ke dalam secarik kertas yang kemudian kumasukkan ke dalam botol.


“Ngagetin aja! Kok, kamu cepet banget udah balik lagi?”


“Perasaan setengah jam lho, aku pergi barusan.”


Axel pun duduk di sampingku yang terduduk di atas pasir. Tanganku menggenggam botol dengan kertas yang tergulung di dalamnya.


“Kamu ngapain sih daritadi?” Axel tampak sangat penasaran kepada benda yang kugenggam.


“Nulis surat,” balasku, sembari memperlihatkan botol ke hadapan Axel.


“Surat buat siapa? Coba aku lihat.”


“Enggak! Gak boleh! Ini surat buat ayah, ibu dan Kak Juna.”


“Hah? Terus mau kamu apakan?”


Aku pun bangkit dari duduk, dan melangkah ke arah laut. Lalu melemparkan botol sejauh yang kubisa. Namun, Axel justru berteriak melihat hal itu. “Hei! Jangan buang sampah sembarangan ke laut!” ucapnya, sembari berjalan mendekatiku.


“Hehe.” Aku hanya membalas dengan cengiran.


Aku dan Axel pun berpegangan tangan, sembari menatap jauh ke ujung laut. Langit sudah mulai berubah menjadi jingga, tampak sangat indah di mataku. Ditambah lagi aku ada di sini bersama seseorang yang sangat berharga untukku.


“Apa mereka semua lagi lihat kita sekarang?” tanya Axel dengan wajah serius. Aku lihat dia masih memandang ke satu titik di langit.


“Hu’um, pasti.”


“Perfect.”


Axel pun


memiringkan tubuhnya ke arahku, membuatku melakukan hal serupa. Lembayung senja membuat wajahnya seakan merona. Atau memang dia sedang tersipu karena sesuatu?


“Aku pikir ini waktu yang sempurna, seperti yang selalu kamu inginkan,” lanjutnya. Tangan kiri Axel masih menggenggam tanganku erat. Sementara tangan kanannya merogoh sesuatu dari dalam saku celana.


Aku hanya bisa terdiam sembari tak kuasa menahan senyum. Tentu aku tahu apa yang akan dia ucapkan setelah ini.


“Kamu mau kan, menikah denganku? Nadin Carmelia?”


Air mataku mendadak meleleh, akibat rasa bahagia yang sudah tidak bisa terbendung. “Iya,” ucapku langsung. “Gak ada alasan buatku menolak.”


Axel pun memasangkan cincin yang dia bawa ke jemariku. Lalu aku menyerbunya dengan pelukan, dan dia balas memelukku erat.


Air mata yang masih tak henti mengalir bukan hanya perwujudan dari kebahagiaan. Melainkan mewakili kelegaan yang kurasa. Setelah apa yang aku dan Axel lewati selama ini. Keadaan yang terpaksa membuatku menjauh darinya. Dia yang selalu dibuat menungguku.


Kini, seharusnya sudah tidak ada apa pun lagi yang akan menghalangi kami untuk terus bersama.


***


“Haahh? Mau ke Paris? Kapan?” Nadin mendadak berteriak ke arah ponselnya. Padahal sedari tadi dia sedang asik mengobrol dengan Stefan, menceritakan rasa senangnya setelah dilamar oleh Axel.


Setelah menutup telepon, Nadin langsung berlari ke arah Axel yang sedang sibuk dengan mobilnya. “Kita ke tempatnya kak Stefan sekarang!”


“Ada apaan, sih? Dia kenapa?”


“Masa dia bilang tiba-tiba mau balik lagi ke Paris!”


“Yah... dia kan orang kaya, bisa balik kapan aja yang dia mau. Lagian, kita juga bisa ke sana buat nemuin dia.”


Tanpa bisa protes lagi, akhirnya Axel hanya bisa menurut. Mereka berdua pun melesat dengan cepat ke tempat tinggal Stefan.


Saat baru saja melewati pintu masuk ke arah lobi apartemen, Nadin bertemu dengan Stefan di sana. Lelaki berambut perak itu tampak baru kembali setelah memberi makanan. “Lho, kalian datang cepet banget. Untung aku udah beres beli makan.”


“Dia tiba-tiba nyeret aku gara-gara kamu bilang bakal balik ke Paris,” balas Axel.


Stefan pun tertawa, lalu menepuk kepala Nadin. “Tenang, aku gak akan tiba-tiba pergi tanpa pamit, kok.”


“Aku gak percaya. Dari dulu Kak Stefan kan selalu menghilang tanpa kabar.”


“Iya juga ya…”


Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju ke kamar Stefan di lantai dua puluh lima.


“Kak Stefan ke mana aja sih, kok tiap kali kita ajak ketemu lagi sibuk terus.”


“Hm… ada yang lagi aku urus.”


“Apaan?” tanya Nadin penuh rasa penasaran.


“Nanti juga kamu tahu. Kebetulan ada yang mau aku kenalkan ke kalian.”


Pembicaraan pun sempat terhenti hingga mereka sampai tempat tujuan. Meski Nadin terus memaksa, tapi Stefan tetap tidak memberikan jawaban.


Stefan pun membukakan pintu dan mempersilakan dua tamunya masuk. Saat baru melangkahkan kaki ke dalam, Nadin bisa melihat seseorang yang tengah terduduk menghadap ke jendela. Seorang wanita berambut hitam sebahu, tengah menggendong bayi yang tertidur lelap.


Wanita itu pun menoleh saat sadar ada yang baru saja datang. Hal itu membuat Nadin tampak sangat terkejut saat menyadari bahwa wanita tersebut tiada lain adalah Mala.


Nadin sempat terdiam karena masih merasa terkejut, dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia pun berjalan mendekat ke arah Mala yang masih tampak ragu untuk menatapnya.


“Cantiknya…” ucap Nadin saat melihat bayi perempuan di pangkuan Mala. “Siapa namanya?”


“Lentera.”


“Wah… nama yang cantik. Moga kamu tumbuh besar secantik mamamu ya, Lentera…”


Siapa pun yang melihat akan langsung mengerti bahwa Mala masih merasa kurang nyaman dengan keberadaan Nadin di sana. bukan karena benci, lebih tepatnya dia dihantui dengan rasa bersalah. Makin lama, makin dia sadari kesalahan apa saja yang sudah dia lakukan pada Nadin. Dan Mala belum sempat meminta maaf untuk semua itu. “Maaf ya…” ucapnya lemah.


Nadin menatap wajah Mala yang agak tertunduk. Namun masih bisa dia lihat kalau wanita tersebut tengah menangis.


“Maaf, Nadin… Aku… aku benar-benar minta maaf…”


Tanpa menunggu Mala berbicara lebih banyak, Nadin pun berdiri dan memeluk Mala dari samping. “Sudah… gak perlu minta maaf,” ucapnya sembari turut menangis.


Setelah keduanya puas meluapkan emosi melalui tangisan, mereka pun saling pandang dan tertawa. Saling mengakui bahwa keduanya tentu memiliki banyak kesalahan di masa lalu. Dan semuanya akan menjadi kenangan yang kemudian akan menjadi bahan tertawaan.


Stefan dan Axel hanya bisa melihat dari kejauhan. Hingga keadaan tampak lebih mencair, dan Stefan berjalan ke arah Mala dan Nadin berada.


Stefan mengambil Lentera yang masih tertidur dari pelukan Mala, lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang—seakan dia ayah kandung dari anak tersebut.


Nadin sama sekali tidak tahu bagaimana awal mula kedua orang tersebut bisa sedekat sekarang, namun hal itu membuatnya merasa senang.


“Kamu udah cocok jadi bapak-bapak, Kak,” komentar Nadin.


“Wah, aku bakal jadi hot daddy, nih,” balas Stefan. Membuat semua tertawa.


“Aku dan Lentera akan ikut Stefan ke Perancis nanti.”


“Oya? Wah, aku ikut senang. Tapi sedih juga nanti kita gak bisa sering ketemu.”


“Kapan kalian pergi?” sahut Axel. Dia turut berjalan mendekat ke arah yang lain.


“Ah, iya juga ya. Kalian berdua pokoknya gak boleh pergi dulu sebelum pesta pernikahanku ya!” tambah Nadin dengan cepat.


“Kapan? Paling masih setahun lagi, kan?” celetuk Stefan.


“Enak aja! Paling lama juga sebulan lagi, kok.”


“Sebulan masih terlalu lama. Kenapa gak besok aja, sih?”


“Dikira aku Roro jonggrang, nyuruh ngebangun candi semalam doang!”


Mereka berempat pun lanjut berbincang dengan seru, membuat hari yang cerah terasa jauh lebih hangat.


Terhitung hari ini, lembaran baru pun dimulai. Bukan hanya bagi Nadin, namun Axel, Stefan dan Mala pun sama-sama memulai langkah baru di hidup mereka. Menyudahi cerita lama yang mungkin tidak semuanya menyenangkan. Dan berusaha menuliskan cerita yang tentu akan jauh lebih indah.


--------- JUST A PROFESSIONAL RELATIONSHIP SEASON 2 TAMAT ---------